Sedekah Memberi Pinjaman

Oleh:

Ust Masyhuda Al-Mawwaz

download (9)Pada edisi terdahulu disampaikan tentang ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yakni Aayatuddain dari surat al-Baqarah: 282 yang berisi tentang aturan utang piutang. Dari ayat ini bisa diambil pelajaran agar hutang diperhatikan secara serius terutama oleh orang yang berhutang (madiin), karena jika tidak, maka akan berbuntut panjang sampai kelak setelah kematian (akhirat). Karena itu, Rasulullah SAW sangat menekankan agar siapapun yang memiliki tanggungan hutang supaya melunasi atau dilunasi untuknya.

Sebagai kelanjutannya, berikut disampaikan tentang bagaimana hutang bisa menjadi sarana untuk kita bersedekah.

Sedekah Menghutangi

Jika berhutang wajib membayar, sebaliknya memberikan pinjaman (hutang) kepada orang lain merupakan sedekah[1] dan akhlak Islam yang mendapatkan penilaian begitu tinggi. Rasulullah SAW bersabda:

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَي بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوْبًا: الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ. فَقُلْتُ: يَاجِبْرِيْلُ مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ؟ قَالَ: لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ وَالْمُسْتَقْرِضُ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ

[Pada malam diisra’kan aku melihat di pintu surga tertulis: “Sedekah dilipatgandakan sepuluh kali. Dan menghutangi dilipatgandakan delapan belas kali.” Aku bertanya: “Wahai Jibril, ada apa kiranya menghutangi lebih utama daripada sedekah?” Jibril menjawab: “Karena sesungguhnya orang yang meminta mengajukan permintaan (meski) ia masih memiliki. Adapun orang yang berhutang tidak akan berhutang kecuali karena kebutuhan.”][2]

Tidak akan berhutang kecuali karena kebutuhan yang berarti rata-rata orang yang berhutang sedang berada dalam kesulitan sehingga membuatnya bersusah hati sehingga memberi pinjaman (menghutangi) seorang yang dalam kondisi seperti ini termasuk dalam sabda Rasulullah SAW yang artinya:

[Barang siapa yang menghilangkan dari seorang mukmin satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, maka pasti Allah menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Barang siapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka pasti Allah memberikannya kemudian di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba mau menolong saudaranya…][3]

images (14)

Jadi memberikan pinjaman adalah semata-mata karena ingin mendapatkan pahala dari Allah. Oleh sebab itu agar pahala itu sempurna dan berlimpah, maka ketika telah bisa memberikan pinjaman, sebaiknya memperhatikan dan berusaha menjalankan arahan-arahan Rasulullah SAW berikut ini:

1. Berusaha untuk tidak mengambil manfaat dari orang yang dipinjami

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا فَأَهْدَي لَهُ أَوْ حَمَلَهُ عَلَى الدَّابَّةِ فَلَا يَرْكَبْهَا وَلَا يَقْبَلْهُ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ جَرَي بَيْنَهُ وَ بَيْنَهُ قَبْلَ ذلِكَ

“Jika salah seorang kalian memberikan pinjaman kepada (orang lain) lalu ia memberikan hadiah kepadanya atau mengangkutnya di atas kendaraannya, maka jangan menaikinya atau menerima (hadiah)nya kecuali apabila sebelumnya hal tersebut sudah ada di antara keduanya.[4]

Yahya bin Yazid al Huna’i  berkata:

Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra tentang seseorang yang mendapat hadiah dari orang lain yang berhutang kepadanya (ghariim), maka beliau menjawab: “Jika sebelum sebelumnya dia biasa diberi hadiah olehnya, maka tidak masalah. Tapi jika sebelumnya tidak pernah diberikan hadiah, maka tidak patut diterima.”

Ibnu Abbas ra berkata:

“Jika kamu memberikan pinjaman, maka jangan kamu menerima hadiah meski hanya kaki kambing atau menaiki kendaraan.”

Zirr bin Hubesy bercerita:

Ubayy (bin Kaab ra) berpesan bahwa jika kamu memberikan pinjaman kepada seseorang kemudian orang tersebut datang kepadamu dengan menawarkan tumpangan dan memberikan hadiah, maka tarik pinjamanmu darinya dan tolaklah hadiahnya!][5]

Suatu ketika Imam Abu Hanifah datang menagih hutang kepada seseorang. Kebetulan di depan rumah orang itu ada sebuah pohon (rindang untuk berteduh). Tetapi Imam Hanifah malah berdiri langsung di bawah terik matahari. Lalu ditanyakan kepada beliau: “Mengapa tidak berteduh di bawah pohon?” Beliau menjawab: “Tidak, sungguh pemilik pohon itu berhutang kepadaku. Sementara semua hutang yang menarik kemanfaatan adalah riba sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.”[6]

2. Memberikan tenggang waktu atau membebaskannya

Allah SWT berfirman:

وَإِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan jika orang yang berhutang itu dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan hendaklah kalian menyedekahkan (sebagian atau seluruhnya), maka itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui.”[7]

download (10)

Apabila bisa berlapang dada memberikan tenggang waktu dan penangguhan kepada orang yang berhutang, atau bahkan bisa membebaskannya, maka seseorang yang memberikan hutang seharus bersyukur kepada Allah sebanyak-banyak syukur karena mendapatkan bonus besar dari Allah berupa:

  1. Mendapatkan pengampunan Allah

Hudzaifah ra berkata. Rasulullah SAW bersabda:

[Malaikat menyambut roh seseorang dari (umat) sebelum kalian. Mereka (para malaikat) bertanya: “Apakah kamu pernah melakukan sedikit amal kebaikan?” ia menjawab: “Tidak.” Mereka berkata: “Cobalah mengingat!” Ia pun berkata: “Dulu aku biasa memberikan pinjaman kepada banyak orang. Lalu aku berpesan kepada para pembantuku agar mereka memberikan penangguhan kepada orang yang kesulitan dan membebaskan orang yang sudah kaya (bisa melunasi hutang).” Allah SWT lalu berfirman: “Bebaskanlah ia (dari dosanya).”][8]

  1. Mendapatkan Naungan Allah SWT

Abul Yasar ra meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللهُ فِى ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرْ مُعْسِرًا أَوْ لِيَضَعْ لَهُ

“Barang siapa suka bila Allah memberikan naungan kepadanya, maka hendaklah ia menangguhkan orang yang kesulitan (membayar hutang) atau membebaskan bebannya.”[9]

  1. Mendapatkan nilai sedekah setiap hari

Buraidah al-Aslami ra meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا  كَانَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ

“Barang siapa menangguhkan orang yang kesulitan, maka baginya ada (nilai) sedekah setiap hari…”[10]

  1. Dimudahkan Urusannya oleh Allah di Dunia dan Akhirat

Abu Hurairah ra meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

…وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ…

“…dan barang siapa yang memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan (membayar hutang), maka Allah memberinya kemudahan di dunia dan akhirat…[11]

  1. Mudah Dikabulkan Do’anya

Ibnu Umar ra meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ أَرَادَ أَنْ تُسْتَجَابَ دَعْوَتُهُ وَأَنْ تُكْشَفَ كُرْبَتُهُ فَلْيُفَرِّجْ عَنْ مُعْسِرٍ

“Barang siapa yang ingin dikabulkan do’anya dan dihilangkan kesusahannya, maka hendaknya menghilangkan kesusahan orang yang kesulitan.[12]

3. Menagih dengan cara yang baik

Meski pemilik hak (orang yang menghutangi) memiliki hak sepenuhnya untuk berbuat arogan atau berkata kasar, akan tetapi Rasulullah SAW tetap memberikan bimbingan bahwa jika terpaksa harus menagih, maka disarankan dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya.

download (11)

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berpesan kepada pemilik hak (orang yang menghutangi):

خُذْ حَقَّكَ فِى عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرَ وَافٍ

“Ambillah hakmu dengan cara yang baik, baik didapatkan hak atau belum didapatkan!”[13]

Apabila orang yang menghutangi (daa’in) atau orang yang dihutangi (madiin atau ghariim) mengindahkan dan berusaha mempraktikkan aturan dan etika islam dalam soal pinjam meminjam, maka masing-masing dari keduanya mendapatkan doa Rasulullah SAW:

رَحِمَ اللهُ رَجُلًا سمحـًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشتَرَى ، وَإِذَا اقتَضَى

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang murah ketika menjual, dan ketika membeli, dan ketika menagih.”[14]    

Utsman bin Affan ra meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

أَدْخَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْجَنَّةَ رَجُلًا كَانَ سَهْلًا مُشْتَرِيًا وَبَائِعًا وَقَاضِيًا وَمُقْتَضِيًا

“Semoga Allah SWT memasukkan surga, seseorang yang mudah ketika sebagai pembeli, penjual, pelunas hutang, dan penagih hutang.”[15]

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Dalam riwayat Imam at-Thabarani disebutkan hadits Rasulullah SAW dengan teks:

كُلُّ قَرْضٍ صَدَقَةٌ

“Setiap hutang (menghutangi) adalah sedekah.” H.R. at-Thabarani

[2]H.R. Ibnu Majah no:2431, Kitab as-Shadaqat bab (19) al-Qardhi

[3]H.R. Muslim no:2699 Kitab ad-Dzikr wad Du’a. H.R. al-Bukhari no:2310, Kitab al-Mazhalim

[4]H.R. Ibnu Majah no:2432, Kitab as-Shadaqat bab (19) al-Qardhi

[5]Lihat al Mushannaf Imam Ibnu Abi Syaibah no:21057-21059, Kitab al-Buyu’ bab (77) Fir Rajul Yakuunu Lahu Alarrajul ad-Dain

[6]Lihat Fawaid al-Mukhtaarah al-Habib Zain bin Semith hal 264

[7]Q.S. al-Baqarah:280

[8]H.R. Muslim no: 1496, Kitab al-Buyu’ Bab Man Adraka Malaahu Indal Muflis

[9]H.R. Ibnu Majah: no: 2419, Kitab as-Shadaqat bab Inzhaarul Mu’sir (14). Dalam riwayat Imam Muslim dengan teks:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللهُ فِى ظِلِّهِ

“Barang siapa menangguhkan orang yang kesulitan atau membebaskannya dari hutang, maka Allah menempatkannya dalam naungan-Nya.” H.R. Muslim no:3006

[10]H.R. Ibnu Majah: no:2418, Kitab as-Shadaqat bab Inzhaarul Mu’sir (14)

[11]H.R. Muslim no:2699, Kitab adDdzikr wad Du’a. H.R al-Bukhari no:2310, Kitab al-Mazhalim

[12]H.R. Imam Ahmad Musnad Abdullah bin Umar t no: 4749

[13]H.R. Ibnu Majah no:2422, Kitab as-Shadaqat bab (15)

[14]H.R. al-Bukhari no:2076, Kitab al-Buyu’ bab (16)

[15]H.R. al-Bukhari dalam at-Tarikh al-Kabiir21