Sedekah Pilar Perjuangan

Sedekah Pilar Perjuangan

Harta benda betapapun ia menjadi ujian saat mencari, mengelola, dan membelanjakan, akan tetapi dalam pandangan Allah ia tidak boleh disia-siakan karena posisinya sebagai penopang kehidupan. Oleh karena inilah, Allah memberikan peringatan agar jangan menyerahkan harta kepada orang yang bodoh (Safiih) yang masih belum bisa mengelola harta benda. Dia berfirman:

وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِيْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا…

“Dan jangan menyerahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta benda (mereka yang ada dalam kuasa)mu yang telah dijadikan oleh Allah sebagai pokok kehidupan…[1]

Maksud orang yang tidak sempurna akal di sini adalah anak-anak yatim sebelum mereka dewasa. Atau juga seperti tafsiran Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘anh: [Jangan bermaksud menyerahkan harta benda yang dikuasakan Allah kepadamu sebagai bekal hidupmu kepada isteri dan anakmu yang kemudian saat membutuhkan kamu justru meminta kepada mereka. Akan tetapi simpan dan kelola hartamu sendiri dan biayai-lah kebutuhan sandang pangan mereka…][2]

Sedekah Pilar Perjuangan

www.republika.co.id

Selain ayat ini, banyak pula ayat dan hadits yang menunjukkan posisi penting harta benda bagi kehidupan umat manusia. Selain sebagai penopang kehidupan, harta benda juga menjadi pilar penting perjuangan di jalan Allah (Jihad fi sabilillah). Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

…وَجَاهِدُوْا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُنمْ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ ذلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“… dan berjuanglah di jalan Allah dengan harta dan diri kalian karena yang demikian itu adalah lebih baik bagi kalian jika memang kalian mengerti.[3]

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

جَاهِدُوا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ

“Perangilah orang-orang musyrik dengan harta benda, jiwa-jiwa, dan lisan-lisan kalian.”[4]

Hal ini karena meski harus berpasrah sepenuhnya kepada Allah sebab kemenangan semata hanya dari sisi-Nya dan sama sekali tidak boleh bersandar pada kekuatan tenaga dan senjata, akan tetapi syariat tetap mengharuskan para pejuang melakukan persiapan-persiapan matang  yang di antaranya melengkapi sarana dan prasarana perjuangan di mana seluruhnya sangat terkait dengan harta benda. Allah berfirman yang artinya: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang  (yang dengan persiapan itu) kalian membuat gentar musuh Allah dan musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui, sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kalian nafkahkah di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepada kalian dan (sama sekali) kalian tidak akan dianiaya (dirugikan).”[5]

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam di samping mengkhawatirkan bahaya dunia (harta benda) atas umat serta banyak memberikan arahan agar umat tidak tertipu oleh dunia, akan tetapi beliau juga mengingatkan pentingnya peran harta benda untuk menopang dakwah, perjuangan, dan peperangan di jalan meninggikan kalimat Allah. Beliau sangat terkesan dengan Sayyidah Khadijah Radhiyallohu ‘anh bukan semata karena isteri pertama, melainkan karena totalitas dan kedermawanan dalam menyokong pergerakan dakwah pada masa awal kemunculannya. Beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam juga sengat terkesan dengan Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallohu ‘anh yang secara total menopang dakwah Islam dengan jiwa raga dan harta benda. Beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا نَفَعَنِيْ مَالٌ قَطُّ مَا نَفَعَنِيْ مَالُ أَبِيْ بَكْرٍ

“Harta tidak memberiku manfaat seperti harta benda milik Abu Bakar.”

Dalam lanjutan riwayat, mendengar kesaksian ini,  Abu Bakar Radhiyallohu ‘anh menangis seraya mengatakan: “Bukankah diriku dan harta bendaku hanyalah milikmu, wahai Rasulullah!”[6]

Dengan harta benda, seorang pejuang agama yang berhati tulus dan senantiasa menjaga hati agar tidak meminta pahala kecuali dari Allah, dipastikan bisa melakukan banyak hal untuk meringankan beban penderitaan umat. Harta benda baginya bisa menjadi energi untuk memacu  gerak langkah dakwah perjuangan yang dalam situasi dan kondisi tertentu akan terlihat gontai, lamban, dan stagnan, sebagaimana pernah dilakukan oleh Utsman bin Affan Radhiyallohu ‘anh yang pada permulaan kehidupan di Madinah membeli sumur milik seorang Yahudi dengan harga dua puluh ribu dirham untuk kemudian diwakafkan bagi kepentingan kaum muslimin. Menantu Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam ini juga memberikan sumbangan dalam jumlah sangat besar dalam persiapan perang Tabuk berupa uang seribu dinar atau dalam versi lain 950 unta dan 50 kuda yang jika ditotal merupakan sepertiga dari jumlah keseluruhan biaya perang.

Sedekah Pilar Perjuangan

doc. lazis

Jika demikian, maka seorang pejuang perlu berpikir dan melatih diri untuk bisa menyisihkan kepemilikan pribadi atau tanpa sungkan dan risih menggalang dana baik dari sektor bisnis atau mamaksimalkan infaq sedekah dari umat karena Allah Subhanahu wata’ala memberikan janji pahala yang sangat besar bagi siapa pun seorang muslim yang memberikan harta benda demi kepentingan perjuangan dan dakwah di jalan Allah. Allah berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّاْئَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَآءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”[7]

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِي سَبِيْلِ اللهِ كُتِبَتْ لَهُ سَبْعُمِائَةِ ضِعْفٍ

“Barang siapa yang berinfaq di jalan Allah, maka pasti ditulis baginya 700 kali lipat ganda.”[8]

Abu Mas’ud al-Anshari Radhiyallohu ‘anh meriwayatkan:

Ada seseorang datang kepada Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam dengan membawa seekor unta lengkap dengan tali kekangnya. Ia berkata: “Ini untuk (perjuangan) di jalan Allah.” Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Untukmu, karena (sedekah) ini kelak hari Kiamat akan diberikan tujuh ratus ekor unta lengkap seluruhnya dengan tali kekangnya.”[9]

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. an-Nisa’: 5

[2]Lihat Ad-Durr al-Mantsur, tafsir Q.S. an-Nisa’: 5

[3]Q.S. at-Taubah: 41

[4] H.R. Abu Dawud no: 2504

[5]Q.S. al-Anfaal: 60

[6]H.R. Ibnu Majah no: 94, Bab Fadha’il Ashhaabi Rasulillah r

[7]Q.S. al-Baqarah: 261

[8]H.R. at-Turmudzi no: 1625, Kitab Fadha’il Jihad, bab Maa Jaa’a fi Fadhlinnafaqah fi Sabilillah

[9]H.R. Muslim no: 1892, Kitab al-Imarah, bab Fadhlish Shadaqah fi Sabiilillah wa Tadh’iifiha

 

Oleh: Ust. Masyhuda Al-Mawwaz