Sedekah Ramadhan

Sedekah Ramadhan

Oleh: Ust. Masyhuda al-Mawwaz

 

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi kehidupan seorang muslim. Pahala amalan wajib digandakan menjadi tujuh puluh kali, dan amalan sunnah dihargai seperti amalan wajib pada selain bulan Ramadhan. Lebih penting dari keistimewaan ini adalah bahwa bulan Ramadhan disipakan secara khusus oleh Allah bagi para hamba-Nya agar mendapatkan pengampunan dosa-dosa sehingga bulan ini disebut bulan Ramadhan yang juga merupakan salah satu nama Allah. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَقُوْ لُوْا رَمَضَانَ فَإِنَّ رَمَضَانَ اِسْمٌ مِنْ أَسْمَـاءِ اللهِ تَعَالَى

“Jangan kalian mengucapkan Ramadhan, karena ia termasuk salah satu dari nama-nama Allah.[1]

Agar pengampunan Allah itu didapatkan dan rahmat Allah terkhusus di bulan Ramadhan diraih, maka seorang muslim harus berusaha sekuat tenaga agar tidak sekedar berpuasa secara zhahir dan bathin, tetapi juga melengkapi puasa dengan qiyam Ramadhan, memperbanyak membaca Al-Qur’an, serta menambah nilai dan mempertinggi intensitas sedekah. Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘anh meriwayatkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِى رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ…

“Adalah Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam manusia yang paling dermawan, dan kondisi beliau paling dermawan adalah saat berada di bulan Ramadhan ketika didatangi oleh Jibril. Ia (Jibril) mendatangi beliau setiap malam Ramadhan lalu bersama mudarasah Al-Qur’an…”[2]

Sedekah Ramadhan

dok. Lazis

Selain sebagai perimbangan pertambahan anugerah Allah yang diberikan kepada kaum muslimin di bulan Ramadhan, kedermawanan Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam yang semakin bertambah di bulan Ramadhan juga sangat dipengaruhi oleh aktivitas tadaarus Al-Qur’an bersama Jibril yang disebutkan oleh sebagian ulama bahwa aktivitas ini memiliki fungsi memperkaya hati.[3] Hati semakin merasa kaya dengan apa yang telah dimiliki sehingga semakin mudah mendermakan kepemilikan. Dari rangkaian ini bisa disimpulkan bahwa orang yang banyak tadaarus atau seorang ahli Al-Qur’an harus memiliki kekayaan hati yang dibuktikan dengan banyak memberi dan semakin memperbanyak pada saat berada di bulan Ramadhan.

Mengomentari hadits ini, Syekh Hasan al-Massyath menuliskan:

[Kedermawanan Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam terwujud dalam segala bentuk kedermawanan dalam mendermakan ilmu, harta benda, mendermakan diri untuk Allah dalam perjuangan memenangkan agama-Nya dan menunjukkan para hamba-Nya serta memberikan manfaat kepada sesama dengan segala cara, baik memberikan makanan kepada orang yang lapar, menasihati orang yang tidak mengerti, memenuhi kebutuhan dan meringankan penderitaan mereka. Dalam lingkaran budi pekerti terpuji inilah beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam berada semenjak usia pertumbuhannya …dan kemudian budi pekerti terpuji itu terus berkembang berlipat-lipat ganda pada diri beliau setelah diutus menjadi seorang utusan Allah.][4]

Terkait dengan nilai dan intensitas sedekah yang harus bertambah pada bulan Ramadhan, maka selain memberikan teladan sebagaimana kesaksian dari Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘anh di atas, Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam juga memberikan bimbingan:

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيُّ الصَّوْمِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ؟ فَقَالَ: “شَعْبَانُ لِتَعْظِيْمِ رَمَضَانَ” قِيْلَ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: “صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ

“Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam ditanya: Puasa manakah selain Ramadhan yang lebih utama?” Beliau bersabda: “Sya’ban untuk memuliakan Ramadhan.” Ditanya: “Lalu sedekah manakah yang lebih utama?” Beliau bersabda: “Sedekah di bulan Ramadhan.”[5]

Di samping secara umum menganjurkan memperbanyak sedekah, Rasulullah Saw juga menyebutkan model sedekah yang bisa dilakukan, yaitu memberikan makanan atau minuman untuk berbuka puasa. Dari Zaid bin Khalid al-Juhani Radhiyallohu ‘anh, Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنْ لَا يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa memberikan buka orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa.”[6]

Bukan hanya sekedar mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa, seorang yang telah berbuat kedermawanan berupa memberikan makanan atau minuman untuk berbuka puasa juga memperoleh keuntungan berupa do’a para malaikat, mendapati lailatul qadar, jabat tangan Jibril yang akan menjadi jalan memiliki hati yang mudah tersentuh oleh petuah dan nasihat serta hati yang merasakan ibadah sebagai sebuah kenikmatan surga yang diturunkan ke dunia. Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:

“Barang siapa memberikan buka kepada orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dari pekerjaan yang halal, maka malaikat bershalawat (berdoa) untuknya pada seluruh malam-malam Ramadhan, Jibril menjabat tangannya pada malam (lailatul) qadar, dan barang siapa dijabat tangan oleh Jibril, maka deras air matanya dan lembut hatinya.” Seseorang bertanya: “Menurut engkau bagaimana bila seseorang tidak memiliki itu?” Beliau bersabda: “Maka sepotong roti.” Orang itu bertanya: “Bagaimana jika tidak memiliki?” Beliau Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka sejumput makanan.” Orang itu bertanya: “Bagaimana jika tidak memiliki?” Beliau bersabda: “Maka sekali seruputan susu.” Orang itu bertanya (lagi), “Bagaimana jika tidak memiliki?” Beliau bersabda: “Maka seteguk air.”[7]

Pada bulan Ramadhan kita bisa dengan mudah mendapati makanan dan minuman gratis untuk berbuka puasa di masjid, mushalla, atau bahkan di pinggir jalan menjelang waktu berbuka tiba. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah menjadi bagian dari para penderma untuk berbuka? Apakah hanya sekali saja atau setiap sore kita memberikan buka puasa? Dan terakhir apakah kita, orang-orang yang diberikan keluasan rizki oleh Allah sudah menyiapkan diri untuk menambah nominal dan intensitas sedekah kita pada bulan Ramadhan ini?

Adalah Abuya As-Sayyid Muhammad al-Maliki, berdasarkan kisah dari para santri beliau yang kini telah ratusan tersebar di seluruh provinsi di Indonesia sebagai seorang kyai pengasuh pesantren dan figur publik, pada setiap bulan Ramadhan senantiasa memberikan tambahan uang saku kepada para santri yang bermukim di kediaman beliau yang biasa disebut oleh para santri dengan berkah Ramadhan.

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]H.R. Ibnu Adiyy. Lihat Irsyadus Saariy syarah Shahih al-Bukhari, juz 4, hal 438

[2]H.R. Imam al-Bukhari no: 06, Kitab Bad’il Wahyi, bab (5). No:1902, Kitab ash-Shaum, bab (7)

[3]Lihat Fathul Baari syarah Shahih al-Bukhari syarah hadits no: 06

[4]Lihat Is’aafu Ahlil Iman bi Wazha’if Syahri Ramadhan, bab Kaifa Kaana Shallallahu Alaihi Wasallam fi Ramadhan  wamaa Yuthlabu min al-Iktsaar minal Khairi Fiihi

[5]H.R. at-Turmudzi no: 663, Kitab Az-Zakat, bab (28) Maa Jaa’a fi Fadhlish Shadaqah, dari Anas bin Malik t

[6]H.R. at-Turmudzi no:807, Kitab Ash-Shiyam, bab Maa Jaa’a fi Fadhli man Fatthara Shaa’iman

[7]H.R. Abu Ya’la (Lihat Khasha’ishul Ummah al-Muhammadiyyah, As-Sayyid Muhammad al-Maliki, hal 189)