Sedekah Tameng Neraka

Sedekah Tameng Neraka

Sedekah Tameng Neraka

doc. lazis

 

Hampir semua orang Islam menghafal do’a yang biasa disebut do’a Sapu Jagat:

رَبَّـنَا آتِنَا فِى الدُّنْـيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِـنَا عَذَابَ النَّارِ

Ya Tuhan kami berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka.[1]

Terlindungi dari neraka maknanya setiap muslim diberikan kesempatan oleh Allah untuk bebas sepenuhnya dari neraka. Dan sebagaimana permohonan agar ditambah ilmu dalam firman Allah: “dan ucapkanlah: Ya Tuhanku tambahkanlah ilmuku[2] yang harus diikuti usaha mencari ilmu, maka permohonan perlindungan dari neraka juga mesti diikuti usaha menghindarkan diri dari dosa-dosa.

Meski secara umum melakukan segala macam kebaikan dan mengindari keburukan adalah upaya menghindarkan diri dari neraka, akan tetapi Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam juga memberitakan adanya amal-amal tertentu yang berfungsi sebagai penyelamat dari siksa neraka.

Di antara amal itu adalah amalan rutin yang salah satunya berupa sedekah secara rutin. Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam bersabda:

…اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ…

…waspadailah (jagalah dirimu dari) neraka meski hanya dengan secuil kurma…”[3]

Maksudnya jadikanlah antara kalian dan neraka ada perlindungan (penghalang) berupa sedekah atau amal kebaikan lain, meski sedikit, dengan catatan dilakukan secara rutin, ajeg, atau istiqamah. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Sungguh hal paling mudah dilakukan secara rutin adalah hal yang sedikit seperti halnya Bilal bin Rabbah Radhiyallohu anh selalu shalat sunnah wudhu, Muawiyah bin Muawiyah Radhiyallohu anh yang rutin membaca surat al-Ikhlash, dan Ubayy bin Kaab Radhiyallohu anh yang senantiasa membaca shalawat. Dan yang paling mudah adalah merutinkan sedikit sedekah yang digambarkan oleh Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam berupa secuil kurma, yang merupakan makanan pokok penduduk Arab. Dalam konteks kita mungkin sebiji permen, sepotong gorengan, sebungkus atau sepiring nasi.

Kepada Aisyah Radhiyallohu anh, Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam juga bersabda:

يَا عَائِشَةُ اسْتَتِرِيْ مِنَ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَـمْرَةٍ…

“Wahai Aisyah, carilah perlindungan dari neraka meski hanya dengan secuil kurma…!”[4]

Dalam sebuah riwayat lain yang artinya, Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam bersabda kepada Aisyah Radhiyallohu anh, isteri tercinta beliau: “Wahai Aisyah, belilah (tebuslah) dirimu dari Allah, meski hanya dengan secuil kurma, karena aku tidak bisa sedikitpun menjaminmu dari Allah.”

Kita semua memaklumi bahwa Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam adalah pemilik syafaat yang kelak memberikan syafaat kepada semua manusia, khususnya kepada umat ini, kita semuanya. Tentunya apalagi kepada keluarga beliau sendiri, isteri dan sahabat beliau yang merupakan orang-orang yang disucikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Meski demikian, beliau Sholallohu alaihi wasallam mengajarkan kepada isteri beliau agar tidak merasa aman dari siksaan Allah. Usaha-usaha penyelamatan diri perlu terus dilakukan. Dan termasuk yang paling mudah, sekali lagi, merutinkan sedikit sedekah. Disebutkan bahwa tidak ada hari kecuali Imam Syafi’i rahimahullah senantiasa bersedekah, meski kondisi keuangan beliau pas-pasan.[5]

Dari perintah Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam kepada Aisyah Radhiyallohu anh bisa diambil pelajaran bahwa seorang suami atau ayah semestinya juga menjadikan sedekah dan sedekah rutin sebagai kurikulum yang diberikan, diajarkan, dan dibiasakan kepada isteri dan anak-anaknya. Bila suami dan ayah diwajibkan Allah menjaga isteri dan anak-anak dari neraka, maka sedekah adalah sistem canggih yang bisa membantu memudahkan usaha penjagaan, karena seperti diketahui bahwa sedekah mengandung energi membersihkan karakter buruk, mendorong berbuat baik (pintu gerbang kebaikan), menghindarkan bencana, dan sebagainya.

Selain sedekah rutin, agar umat bisa memagari diri dari neraka, Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam juga memberikan bimbingan yang di antaranya berupa merawat dan mendidik anak-anak perempuan dengan baik. Dari Aisyah Radhiyallohu anh, Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam bersabda:

مَنِ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنَ الْبَنَاتِ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ

“Barang siapa diuji dengan dari anak-anak perempuan ini lalu ia bersabar atas mereka, maka mereka bisa menjadi penghalang baginya dari neraka.”[6]

Bila dilakukan secara tidak rutin, meski tidak menjadi penghalang dari neraka, ternyata sedekah juga masih bermanfaat menjadikan orang yang bersedekah mendapatkan syafaat dari orang yang menerima uluran sedekahnya sehingga ia terbebas dari neraka. Anas bin Malik Radhiyallohu anh meriwayatkan sabda Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam:

يُصَفُّ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صُفُوْفًا (وَقَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ: أَهْلُ الْجَنَّةِ) فَيَمُرُّ الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ عَلَى الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ: يَا فُلَانُ! أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ اسْتَسْقَيْتَ فَسَقَيْتُكَ شَرْبَةً؟ قَالَ: فَيَشْفَعُ لَهُ. وَيَمُرُّ الرَّجُلُ فَيَقُوْلُ: أَمَا تَذْكُرُ يَوْمَ نَاوَلْتُكَ طَهُوْرًا؟ فَيَشْفَعُ لَهُ

[Kelak pada hari kiamat, maka manusia (Ibnu Numair berkata: Penduduk Surga) berjajar dalam beberapa barisan. Salah seorang penduduk neraka melewati salah satu dari mereka dan lalu mengatakan: “Wahai fulan, apakah kamu tidak mengingat hari di mana kamu pernah meminta minum padaku lalu aku memberimu seteguk minuman?” Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Maka lelaki penduduk surga itu pun memberinya syafaat.” Dan lewat pula seorang penduduk neraka (lain) dan mengatakan: “Apakah kamu tidak mengingat hari di mana aku memberikan air untuk bersuci?” Maka lelaki penduduk surga itu pun memberikan syafaat.][7]

Hak seorang yang bersedekah adalah menilai si miskin sebagai orang yang telah berbuat baik kepadanya karena telah menerima hak Allah darinya yang merupakan jalan kesucian dan keselamatan baginya dari neraka

Selain memberikan makna keutamaan sedekah air dan adanya syafaat yang diberikan oleh manusia biasa selain para nabi, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh, hadits ini juga menegaskan kepada kita bahwa sedekah meski hanya sekali, tetapi ternyata mampu berfungsi pula membebaskan orang yang bersedekah dari neraka.

Jika demikian halnya, sedekah bisa menjadi tameng neraka dan/atau pembebas dari neraka, yang artinya sebuah bekal yang harus disiapkan untuk bepergian jauh ke negeri akhirat. Maka betapa sayangnya ketika kesempatan bersedekah masih ada lalu kita tidak mengambil dan menggunakannya dengan baik. Kesempatan itu adalah saat kita sehat dan masih bisa bekerja mencari nafkah dan pastinya mesti ada sedikit atau banyak sisa yang bisa  diberikan kepada orang lain. Tentu saja hal ini tidaklah mudah kecuali bagi orang-orang yang mendapatkan pertolongan Allah, sehingga mampu menjadikan sedekah sebagai sebuah hobi. Adalah Ali bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallohu anh yang lebih dikenal dengan Ali Zainal Abidin, setiap kali ada peminta datang, maka beliau menyambutnya dengan riang sambil mengatakan:

مَرْحَبًا بِمَنْ يَحْمِلُ زَادِيْ إِلَى الْآخِرَةِ

Selamat datang orang yang datang membawakan bekalku ke akhirat.[8]

Berdasarkan hal ini, sebenarnya yang berbuat baik itu adalah orang yang menerima sedekah dan bukan pemberi sedekah. Imam al Ghazali mengatakan: […Hak seorang yang bersedekah adalah menilai si miskin sebagai orang yang telah berbuat baik kepadanya karena telah menerima hak Allah darinya yang merupakan jalan kesucian dan keselamatan baginya dari neraka….][9]

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. al-Baqarah: 201

[2]Q.S. Thaha: 114

[3]H,R. Al-Bukhari no: 6540, Kitab ar-Riqaq, bab Man Nuuqisya al-Hisab Udzdziba. H.R. Muslim no: 1016, Kitab az-Zakat, bab (20) al-Hatsts alash Shadaqah. H.R. an-Nasai no: 2548, Kitab az-Zakat, bab (63) al-Qalil fish Shadaqah. H.R. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf no:9899

[4]H.R. Imam Ahmad no: 24382, Musnad Aisyah t

[5]Imam Syafii, Faqihus Sunnah al-Akbar, hal 339, karya Abdul Ghani ad-Daqqar

[6]H.R. at-Turmudzi no: 1913, Kitab al-Birr wash Shilah, bab (13) Maa Jaa’a fin Nafaqati alal Banaat wal Akhawat

[7]H.R. Ibnu Majah, Kitab al-Adab, bab (8) Fadhli Shadaqatil Maa’

[8]Majma’ul Ahbab 01, hal 589, bab Zainal Abidin Ali bin al-Husain

[9]Ihya’ Ulumiddin 1/256, al-Fashl ats-Tsaani fil Adaa’ wa Syuruthihi al-Bathinah wazh Zhahirah

 

Oleh: Ust. Masyhuda al-Mawwaz