Sejenak bersama Hatim Al-Asham

Oleh:

Ust. Ayyub Syafii

“Kalian hanya diminta mengizinkan ayah untuk pergi haji. Bukankah itu tidak memberatkan kalian? Biarkanlah ayah naik haji ke Baitullah, karena ia hanyalah penyalur rizki dan bukan pemberi rizki.”

Hatim Al-Asham rahimahullah, laki-laki yang banyak keturunannya, namun sedikit kekayaannya. Tapi kelebihannya, ia seorang shalih yang sangat tinggi ketawakkalannya kepada Allah, dan sungguh-sungguh dalam beribadah. Kesalihan Hatim tertuang dalam salah satu ucapannya, “Pernah suatu hari saya ditanya, ‘Tidakkah kamu menginginkan sesuatu?’ Maka saya jawab, ‘Saya selalu ingin sehat dari pagi hingga malam hari.’ Ditanyakan lagi, ‘Bukankah kamu sehat selama seharian?’ Saya jawab, ‘Sehat menurutku adalah tidak menjalankan dosa dari pagi hingga malam hari.’”

Sedangkan ketawakkalannya, ia pernah mengatakan, “Tiada waktu pagi datang melainkan setan mencercaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggoda, ‘Apa yang kamu makan? Apa yang kamu pakai? Di manakah kamu akan tinggal?’ Saya tidak ingin hanyut dalam jebakan pertanyaan itu, maka saya cukup menjawabnya, ‘Saya akan makan kematian, mengenakan kain kafan, dan tinggal di liang lahat.’”

Suatu malam, Hatim berbincang-bincang dengan para sahabatnya. Saat pembicaraan mengarah hingga  membahas masalah naik haji ke Baittullah. Kerinduan dapat berkunjung ke Masjidil Haram pun menyusup dalam di hati Hatim Al-Asham. Pulang ke rumah, ia duduk di hadapan anak-anaknya dan berbicara kepada mereka, “Apakah kalian izinkan Ayah kalian pergi ke Baitullah tahun ini untuk menunaikan haji? Ayah akan mendoakan kalian di sana…” Istri dan anak-anaknya terkejut. Dalam waktu yang bersamaan mereka mengatakan, “Ayah dalam kondisi tidak punya apa-apa, dan kami juga dalam keadaan miskin. Bagaimana mungkin Ayah ingin berangkat haji dan meninggalkan kami dalam kondisi seperti ini?”

Suasana menjadi hening. Hatim Al-Asham sudah menduga keterkejutan dan jawaban seperti itu. Tapi tiba-tiba seorang anak perempuannya yang masih kecil mengatakan lain, “Kalian hanya diminta mengizinkan Ayah untuk pergi haji. Bukankah itu tidak memberatkan kalian? Biarkanlah Ayah naik haji ke Baitullah, karena ia hanyalah penyalur rizki bukan pemberi rizki.” Perkataan anak perempuan kecil Hatim segera merubah pandangan keluarga Hatim yang akhirnya mereka sepakat dan mengatakan bahwa apa yang dikatakan adik kecil itu benar adanya. “Pergilah Ayah ke Baitullah tahun ini,” ujar salah seorang putra Hatim.

Sejak itulah Hatim Al-Asham melakukan ragam persiapan untuk menyambut musim haji tiba. Beberapa bulan sebulan datang musim haji, Hatim Al-Asham berangkat menempuh perjalanan menuju Baitullah. Para tetangga berdatangan menemui keluarga Hatim dan mempersalahkan keluarga Hatim yang membiarkan Hatim pergi tanpa meninggalkan makanan untuk keluarganya. Begitu ramainya pembicaraan miring terhadap Hatim, hingga keluarganya turut terbawa dan menyalahkan puteri kecil Hatim yang dahulu meminta agar sang ayah diizinkan pergi haji. “Seandainya waktu itu engkau tidak berbicara, pasti ia akan tetap tinggal di rumah,” ujar salah seorang mereka. Mendengar perkataan itu, puteri Hatim mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan, “Allahumma, Ya Allah, Ya Rabbku, aku sampaikan kepada kaumku tentang Kemurahan-Mu, dan sesungguhnya Engkau takkan membiarkan mereka dalam kondisi seperti ini. Ya Allah, jangan Engkau kecewakan mereka, dan jangan Engkau permalukan aku di hadapan mereka.”

Tak lama setelah itu, rumah Hatim Al-Asham didatangi oleh seorang walikota bersama rombongannya yang datang kehausan. Istri Hatim mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan, “Allahumma Ya Alloh, ya Rabbku, Maha Suci Engkau. Tadi malam kami tidur dalam kondisi lapar. Tapi hari ini, seorang penguasa datang ke rumah untuk meminta minum.” Kepada Sang Walikota dijelaskan, bahwa rumah itu adalah rumah milik seorang shalih bernama Hatim Al-Asham. Nama Hatim Al-Asham, ternyata sudah sampai ke telinga walikota. Ia lalu mengatakan bahwa tidak baik bila dirinya dan rombongan yang telah membebani keluarga Hatim tapi tidak bisa memberi balasan kepada mereka.

Singkat kisah, salah satu rombongan walikota memberi uang banyak kepada keluarga Hatim. Melihat uang itu, puteri Hatim menangis keras hingga membuat rombongan walikota terkejut dan berusaha menenangkannya. Tapi puteri Hatim itu mengatakan kepada ibunya, “Ibu, tangisku karena memikirkan bagaimana tadi malam kita tidur dalam kondisi lapar. Sementara sekedar ada seorang makhluk melihat kita, lalu Allah ta’ala menjadikan kita kaya. Sungguh Allah Yang Maha Murah Yang Maha Pencipta, Dia Yang Memperhatikan kita, Dia tak membiarkan kita sekejap matapun. Ya Allah, pandanglah Ayah kami yang sedang pergi ke Baitullah. Peliharalah dia dengan sebaik-baiknya.”

***

Hatim dalam perjalanannya ke Baitullah bertemu dengan kafilah yang sedang mencari orang yang bisa mengobati salah satu pimpinan mereka. Dengan doa Hatim, orang itu sembuh dan memberi makan dan minum Hatim. Di malam harinya, Hatim bermimpi ada suara yang berkata, “Wahai Hatim, barangsiapa yang baik hubungannya dengan Tuhannya, maka Tuhannya akan memperbaiki hubungan-Nya dengan orang itu.”

Saat pulang dari menunaikan ibadah haji, Hatim mendengarkan kisah yang terjadi dalam keluarganya. Ia menangis. Ketika itu, meluncurlah ungkapan dari mulutnya, “Sesungguhnya Allah tidak akan melihat pada tua mudanya kalian. Tapi Allah memandang siapa di antara kalian yang paling mengenal-Nya. Maka, kenalilah Allah dan bertawakkallah kepada-Nya. Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”

Teringat kami akan perkataan Ibnul Jauzi dalam Shaidu al-Khathir, “Ketahuilah bahwa jalan menuju Allah ta’ala tidak ditempuh dengan langkah kaki, melainkan ditempuh dengan hati.” Mari kita resapi lagi jawaban Hatim Al-Asham yang wafat pada 237 H, ketika ditanya, “Atas dasar apa engkau begitu tawakal kepada Allah?” Lelaki shalih itu menjawab, “Atas empat hal: aku yakin rezekiku tidak akan dimakan orang, karena itu aku tenang. Aku yakin amalku tidak akan dikerjakan orang, karena itu aku sibuk beramal. Aku yakin kematianku akan datang tiba-tiba, karena itu, aku selalu siap menghadapinya. Dan aku yakin bahwa tidak mungkin lepas dari pengawasan Allah, karena itu, aku malu dari-Nya.”

Wallahu a’lam.

[]