Sejuta Tanya Tentang Just Anti Kebinekaan

oleh Hadaka Indra S.

Direktur Lazis alHaromain

20140123_191256_stop-rasisme-dan-sara

Rentetan Aksi Bela Islam 1, 2, dan 3 telah berlangsung begitu indah. Aksi-aksi yang dipicu oleh penistaan Al Qur’an dan Ulama oleh Ahok ini telah mendorong umat Islam memberikan reaksi yang sangat dahsyat dan mendorong umat Islam untuk bersatu padu solid membela agama dan kehormatannya. Tentu dalam benak kita bertanya “Mengapa di negeri yang mayoritas muslim ini umat Islam begitu sulit memperoleh keadilan?”.  Dengan Aksi Bela Islam 212 yang diikuti lebih dari 7 juta kaum muslimin berjalan tertib dan damai ini pun ternyata keadilan tidak serta merta berpihak pada umat Islam. Bahkan saat ini kita menyaksikan satu persatu ulama dan tokoh GNPF MUI dicari-cari kesalahannya dan aparat penegak hukum sangat sigap melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap Ulama dan Tokoh-tokoh tersebut.

Di sisi lain aparat penegak hukum tampak begitu lamban memproses kasus-kasus dari para tokoh yang selama ini terkesan tidak pro Islam. Sebagai contoh kasus dugaan pemalsuan ijazah oleh Sukmawati yang dilaporkan sejak 2012 hingga saat ini belum jelas proses hukumnya. Kasus penyerangan terhadap peserta aksi “Save Ulama” oleh anggota ormas GMBI yang terjadi pertengahan bulan ini yang jelas ada korban meninggal dan luka-luka,  kita juga tidak melihat langkah sigap dari penegak hukum melakukan proses hukum. Justru para penegak hukum di Jabar membuat aksi tandingan yang sangat tendensius mengesankan para ulama kita anti kebinekaan. Hal ini mengingatkan kembali pada Aksi Bela Islam 2 dan 3 yang selalu dihadirkan aksi-aksi tandingan oleh pihak tertentu yang pro penguasa untuk mengesankan dan mengopinikan bahwa para ulama dan tokoh GNPF MUI anti kebinekaan. Sehingga wajar jika saat ini kita umat Islam bertanya-tanya “Ada apa dengan pemimpin  negeri ini?”.  Negeri yang diperjuangkan oleh para ulama dengan iringan gema takbir “Allahu Akbar”  tetapi saat ini para ulama-ulamanya yang kritis tidak didekati dan dirangkul, akan tetapi malah dikuyo-kuyo dan dikriminalisasi.

Jika kita cermati dengan jernih, apakah benar para ulama kita anti kebinekaan?. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamiin, jangankan manusia, tumbuhan dan binatang pun sebagai seorang  muslim dianjurkan untuk memperkukan dengan baik dan kasih sayang. Bukankah pada zaman Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pun, umat Islam juga sudah berdampingan dengan umat Yahudi dan Nasrani?. Di Madinah kala itu pun mereka  hidup berdampingan dengan damai. Bukankah nilai-nilai seperti ini yang juga dipahami dan diajarkan oleh para ulama kita saat ini.

Lalu, atas dasar apa mereka menjust bahwa para ulama kita anti kebinekaan?.  Apa karena menuntut penegakan hukum atas penistaan agama dimana pelakunya seorang Nasrani yang kebetulan etnis Cina merupakan perbuatan anti kebinekaan?,. Apa karena mereka menuntut kedaulatan bangsa ini ditegakkan juga anti kebinekaan? Apa karena mereka menuntut kembali pada UUD 1945 pun dibilang anti kebinekaan? Apa karena MUI berfatwa haram bagi umat Islam memakai atribut khas agama lain juga dipahami anti kebinekaan?.  Apa juga karena menyampaikan ajaran Islam untuk orang Islam sendiri bahwa  seorang muslim wajib memilih pemimpin seiman juga dipahami anti kebinekaan?. Dan sejuta tanya lain masih terpendam tentang just anti kebinekaan yang dilekatkan pada ulama, tokoh, dan ormasy Islam.

Ajaran Islam lugas dan tegas dalam hal kebinekaan,  Al qur’an surat Al Kafirun senantiasa menjadi panduannya “Lakum diinukum waliyadiin” bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Islam menghormati pluraritas (keanekaragaman suku, ras, keyakinan dan agama) tetapi Islam anti pluralisme agama yaitu mencampuradukkan ajaran agama. Bahkan ajaran Islam menegaskan tidak ada paksaan dalam beragama. Lalu apalagi yang menjadi alasan mereka menjust ulama kita anti kebinekaan? Jangan-jangan mereka adalah orang-orang -yang gagal paham akan ajaran agamanya dan atau semata-mata upaya global yang tidak senang bangsa ini bersatu dan maju.

Wallahu a’lam