Selesai, Terus Beranjak

Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam bersabda:

الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ 

“Sesuatu yang telah selesai terus berlanjut.“

ARTI KALIMAT

  1. ( الْحَالُّ ): Seorang musafir yang telah sampai pada tempat tujuannya dan menetap di tempat tersebut untuk beberapa saat. Yang dimaksud adalah: Setiap perbuatan ibadah yang telah rampung dilaksanakan, bagaikan seorang musafir yang telah merampungkan perjalanannya dengan sampai di tempat tujuan.
  2. ( الْمُرْتَحِلُ  ): Yang melanjutkan perjalanannya kembali. Yang dimaksud adalah: Setiap kali seseorang telah merampungkan amal ibadahnya, langsung melanjutkannya seperti sediakala. Yakni amal ibadah tersebut berkesinambungan.

PERAWI HADITS

Hadits agung yang ini merupakan jawaban Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam atas pertanyaan salah seorang shahabat, yang lengkapnya dialog mereka:

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ قَالَ وَمَا الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ قَالَ الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ

Seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulallah… perbuatan apa yang lebih dicintai oleh Allah?”  Beliau menjawab: “Sesuatu yang sudah selesai, lalu berlanjut.” Dia bertanya kembali: “Apa sesuatu yang sudah selesai terus berlanjut?” Beliau menjawab: “Seseorang yang membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir. Setiap kali selesai, dia melanjutkannya membaca dari awal kembali.“

Menurut cermat kami, hadits ini hanya diriwayatkan oleh seorang shahabat yang sangat masyhur, yaitu Sayyiduna Abdullah bin Abbas Radhiyallohu anh, dan seorang tabi’i yang ma’ruf dengan ketsiqahannya (dapat dipercaya), keshalehannya, dan termasuk pembesar ulama’ Bashrah bahkan sebagai Qadhinya, yaitu Abu Hajib Zurarah bin Awfa al-‘Amiri al-Harasyi al-Bashri.

PENGORBIT HADITS

Di dalam  pustaka rujukan yang ada pada kami, para pakar ilmu riwayat hadist yang ikut andil dalam mengorbitkan hadits ini hanya dua orang, yaitu Imam Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa at-Tirmidzi (209–279H / 824–892M) dalam kitab Sunannya, dan Imam Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Abdur Rahman ad-Darimi (181–255H / 797–869M) dalam kitab Musnad / Sunannya.

STATUS DAN KEDUDUKAN HADITS

Jika di tinjau dari jalur riwayat shahabat ‘Abullah bin ‘Abbas Radhiyallohu anh, hadits ini tergolong hadits Gharib (asing) dan lemah isnadnya, sebagaimana komentar imam at-Tirmidzi, disebabkan lemahnya (dha’ifnya) salah seorang perawi di jalur ini, yaitu AL-HAITSAM IBNI AR-RABYI’ al-‘Uqaili al-Bashri. Namun jika ditinjau dari jalur riwayat Zurarah bin Awfa, sekalipun tergolong hadits Mursal atau Marfu’ Tabi’i, akan tetapi menurut Imam at-Tirmidzi, riwayat dari  jalur ini lebih shahih. Disebabkan di jalur ini terdapat Muslim bin Ibrahim yang tsiqah dan dipercaya. Lebih-lebih teks kedua riwayat Ibnu Abbas dan Zurarah bin Awfa tersebut tidak ada perbedaan yang berarti dan berpengaruh pada arti hadits. Apalagi riwayat ini memiliki Mutabi’ (riwayat penopang) yaitu riwayat Ibrahim bin al-Fadl bin Abii Suwaid, sehingga menjadikan hadits ini kuat sebagai hujjah, terlepas dari perbedaan ulama’ hadits terkait hadits mursal dapat dijadikan hujjah atau tidak.

URAIAN HADITS

Allah Subhanahu Wata’ala tidak melihat amal ibadah hamba-Nya dari sisi banyaknya amal tersebut atau berlipatnya. Akan tetapi yang menjadi pusat perhatian-Nya adalah keikhlasan karena-Nya dalam beramal, sekalipun sedikit. Sedangkan sebagai bukti keikhlasan amal ibadah seorang hamba adalah buah istiqamah dan eksis dalam beramal, sekalipun harus menghadapi aral dan hambatan. Dikatakan dalam kata bijak seorang sufi:

إِذَا صَحَّ مِنْكَ الْقَصْدُ لَمْ تَعْتَرِضْهُ الْعَوَارِضُ

“Manakala tujuanmu sudah bulat (karena Allah), maka beberapa aral melintang tidak akan dapat menghambatnya.”

Apalagi beramal banyak yang disertai dengan ikhlas serta istiqamah dan berkesinambungan. Tentunya amal seperti ini yang tidak ada bandingannya di hadapan Allah. Dari sini sangat tepat apa yang telah dikatakan oleh sebagian ulama’:

قَلِيلٌ قَرَّ خَيْرٌ مِنْ كَثِيرٍ فَرَّ

“Sedikit amal yang berkesinambungan lebih baik daripada amal banyak yang tidak berlanjut.“

Kaidah seperti ini berlaku bagi setiap amal  ibadah tanpa melihat mulia dan agungnya waktu atau tempat dilakukannya. Apalagi beramal ibadah di  bulan suci yang penuh berkah melebihi dari seribu bulan, khusushnya di hari-hari dan malam-malam sepuluh terakhir. Maka sebagai bukti diterimanya amal ibadah di bulan Ramadhan adalah manakala selepas bulan Ramadhan berlalu, seorang hamba tetap istiqamah melakukan amal ibadah sebagaimana di bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan dan berkahnya boleh berlalu, akan tetapi amal ibadah dan ruhaniyahnya tidak boleh berlalu dari pribadi seorang muslim yang bertaqwa kepada Allah, yang merupakan tujuan akhir dari disyari’atkannya ibadah puasa. Sebab Tuhannya bulan Ramadhan dan bulan–bulan yang lainnya adalah tetap satu dan sama, yaitu Tuhan Allah yang Maha Esa. Mengapa amal ibadah dibedakan sebab berbedanya waktu, padahal Tuhan yang menjadi tujuan diibadahi tidak berubah, tetap Allah selamanya? Yakni jika mau beramal ibadah manakala berkenaan dengan waktu mulia saja, namun jika tidak, maka tidak mau beramal, sama halnya dengan beranggapan Tuhannya masa yang mulia berbeda dengan Tuhannya masa yang tidak mulia. Jadi semestinya langkah yang harus diambil oleh seorang muslim bertaqwa adalah selalu beramal ibadah semaksimal mungkin kapan saja dan di mana saja, lebih-lebih di saat berkenaan dengan waktu dan di tempat yang mulia dan agung.

KANDUNGAN HADITS

Ada beberapa hal yang diisyaratkan oleh Baginda Nabi Sholallohu alaihi wasallam lewat  sabda yang berbentuk jawaban dalam sebuah dialog kecil dan singkat, di antaranya:

  1. Seluruh amal ibadah akan menjadi berarti di hadapan Allah manakala dihidupkan dengan ruhaniyah keikhlasan karena-Nya.
  2. Amal yang dilaksanakan dengan ikhlas pasti diterima di sisi Allah. Sedangkan di antara tanda-tanda diterimanya amal adalah istiqamah dan berkesinambungan, yang dapat memberikan kesan bahwa orang yang telah beramal tersebut menjadi lebih baik dan shalih daripada sebelumnya, sebagaimana bekas dari pelaksanaan ibadah Haji yang Mabrur dan Maqbul. Jadi amal ibadah yang dilaksanakan atas dasar keikhlasan akan berbuah istiqamah dan berkesinambungan.
  3. Orang yang mau melakukan amalan yang dicintai oleh Allah, otomatis dia sendiri akan mendapatkan cinta Allah. Ketika seseorang dicintai oleh Allah, dia akan menjadi Wali-Nya. Jadi seseorang yang menjadi wali Allah disebabkan satu faktor, yaitu karena Allah mencintainya, bukan karena dia mencintai Allah.
  4. Memang dari beberapa riwayat yang ada, Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam menjelaskan kalimat beliau sendiri الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُdengan orang yang sudah merampungkan bacaan al-Qur’an dari awal sampai akhir, setiap kali selesai, lalu  melanjutkan dengan memulainya dari awal lagi. Mungkin penjelasan ini disebabkan si penanya adalah orang yang senang membaca al-Qur’an, dan mungkin juga dikarenakan berkenaan dengan bulan al-Qur’an (Ramadhan). Namun di balik semua itu –kata ulama’- ada isyarat himbauan menyinambungkan seluruh amal ibadah secara umum, agar tidak ada kesan suatu ibadah dianggap selesai dengan berlalunya waktu berkahnya.
  5. Oleh karena itu, dalam kalimat beliau ini ada isyarat sunnahnya puasa enam hari di bulan Syawwal untuk menyinambungkan amalan puasa di bulan Ramadhan, setelah berlalunya bulan mulia dan berkahnya, agar tidak ada kesan bahwa beribadah hanya sebatas waktu tertentu saja. Untuk itu, agar puasa sebulan Ramadhan mencapai angka hitungan waktu puasa setahun, beliau mensyaratkan dengan meneruskannya dengan puasa enam hari Syawwal. Sabda Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam dalam hadits shahih yang sangat masyhur riwayat sebagian besar para pakar hadits, dari shahabat Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallohu anh:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Isyarat ini diperkuat dengan sabda beliau dalam hadits dha’if riwayat al-Baihaqi dalam kitab “Syu’abul Iman“ dari Ibnu ‘Abbas, dan riwayat Abussyeikh serta  ad-Dailami:

الصَّائِمُ بَعْدَ رَمَضَانَ كَالْكَارِّ بَعْدَ الْفَارِّ

“Orang yang perpuasa setelah puasa Ramadhan, seperti prajurit yang kembali menyerang setelah mundur ke belakang (untuk menhimpun kekuatan dan menyusun strategi).”

  1. Bersyukur kepada Allah hukumnya wajib dan harus berbentuk amalan bernilai ibadah. Syukur atas ni’mat tersebut masih butuh pula disyukuri dengan bentuk ibadah yang lain pula. Demikian seterusnya tanpa ada batas, mengingat anugerah dan ni’mat Allah yang tiada hentinya dini’mati oleh hamba-Nya. Rasulullah Sholallohu alaihi wasallam suatu saat ditegur oleh Sayyidah ‘A’isyah Radhiyallohu anh dalam hadits shahih H.R. Muslim: “Wahai Rasulallah… mengapa engkau masih melakukan ibadah malam sampai kakimu membengkak? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu, baik yang berlalu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab:

يَا عَائِشَةُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“Wahai ‘A’isyah… Tidak seharusnyakah kalau aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?”

Wa Allahu a’lam.

Al-Maraji’:

  • Imam Muslim, “Shahih Muslim”: 13 / 442
  • Imam at Tirmidzi, “Sunan at-Tirmidzi”: 10 / 202
  • Imam ad-Darimi, “Musnad ad-Darimi”: 10 / 385
  • Muhammad Abdur Rahman al-Mubarakfuri, “Tuhfatul Ahwadzi”: 7 / 264
  • Imama al-Mizzi, “Tuhfatul Asyraf”: 6 / 209
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani, “al-Ishabah fi Ma’rifatish Shahabah”: 1 / 380
  • Ibnu Rajab al-Hanbali, “Latha’iful Ma’arif”: 218-222
  • Muhammad al-Maliki, “al-Manhal al-Lathif”: 105-106

Oleh: Ust. Fahd Abdurrahman