Seputar Gaya-gaya Rambut

Pertanyaan

 

Assalamu’alaikum,

Ustadz, zaman sekarang ini banyak keanehan rambut yang memperindah penampilan seseorang, dipotong dengan model punk jambul di tengah atau dibentuk gambar waru, dipotong separoh yang separoh dibiarkan panjang. Bagaimana hukum memperlakukan rambut seperti itu, Ustadz? Dan bagaimana  pula hukum mengecat/menyemir rambut dengan aneka warna?

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 80

 

Terima kasih

 

~Bpk. Sulisman di Gresik

 

 

Jawaban

 

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Dari gambaran pertanyaan di atas, kami analisis sebagai berikut:

Pertama, mungkin yang dimaksud adalah dengan potongan gaya rambut Qaza’. Berikut penjelasannya:

Imam An-Nawawi mendefinisikan tentang Qaza’/ القزع:

 

الْقَزَعُ حَلْقُ بَعْضِ الرَّأْسِ مُطْلَقًا وَهُوَ الْأَصَحُّ

Qaza’ ialah mencukur sebahagian kepala.

Imam Hambali menyatakan:

 

وَهُوَ أَخْذُ بَعْضِ الرَّأْسِ وَتَرْكُ بَعْضِهِ عَلَى الصَّحِيْحِ مِنَ الْمَذْهَبِ

(Qaza’) yaitu mencukur sebahagian kepala dan meninggalkan sebahagian lain. Ini pendapat sahih dalam mazhab Hambali.

Imam Malik menyatakan:

الْقَزَعُ وَهُوَ تَفْرِيْقُ شَعْرِ الرَّأْسِ مَعَ حَلْقِ مَا بَيْنَهُ

Qaza’ yaitu membelah rambut dengan mencukur di tengahnya.

Imam Abu Hanifah menyatakan:

 

الْقَزَعُ وَهُوَ أَنْ يَحْلِقَ الْبَعْضَ وَيَتْرُكَ الْبَعْضَ قَطْعاً مِقْدَارَ ثَلَاثَةَ أَصَابِعَ

 

Qaza’ yaitu mencukur sebahagian dan membiarkan yang lain terpisah-pisah sekadar 3 jari.

Dari pendapat-pendapat di atas, definisinya agak berbeda. Tapi intinya adalah menggundul (kepala) sebagian dan membiarkan sebagian (yang lain).

Para ulama sepakat hal tersebut hukumnya makruh karena menyangkut adab, tetapi bukan hal yang terkait halal dan haram berdasarkan hadis Nabi r.

 

ابن عمر رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَنْهَى عَنِ الْقَزَعِ

 

Ibnu Umar t berkata, “Aku mendengar Rasulullah melarang dari Qaza’.” (H.R. al-Bukhari no. 5576 dan Muslim no 2120)

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَأَى صَبِيًّا قَدْ حَلَقَ بَعْضَ شَعْرِهِ وَتَرَكَ بَعْضِهِ فَنَهَاهُمْ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ ” اَحْلِقُوْهُ كُلُّهُ أَوْ اُتْرُكُوْهُ كُلُّهُ.

 

Sesungguhnya Nabi r melihat seorang budak mencukur gundul sebahagian kepalanya dan membiarkan sebahagian yang lain. Nabi mencegahnya dan berkata, “Hendaklah kamu mencukur semuanya atau membiarkan semuanya.” Tidak ada ulama yang melarang dari kalangan salafus shalih, karena itu masalah kepantasan di tengah masyarakat, dan karena budaya barat yang bebas gaya rambut.

Adapun potongan cepak atau sekedar merapikan rambut dengan dipotong pinggirannya, maka itu tidak masuk kategori Qaza’.

Kedua, menyemir atau mengecat rambut.

Mengecat rambut itu ada dua motivasi:

  1. Karena mengikuti trend yang berkaitan mode di kalangan masyarakat.
  2. Karena sudah muncul warna putih, karena beruban.

 

Untuk yang poin ke-2, masalah uban, mayoritas ulama menganjurkan untuk membiarkannya, sedangkan mencabutnya dari kepala, sepakat mayoritas para ulama hukumnya adalah “makruh”. Sebagaimana Rasululah r bersabda:

 

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيْهِ  عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا تَنْتِفُوا الشَّيْبَ , فَإِنَّهُ نُوْرُ الْمُسْلِمِ , مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَشِيْبُ شَيْبَةٌ فِي الْإِسْلَامِ إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا دَرَجَةً , وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةً. رواه أحمد و أبو داود

 

“Janganlah kamu mencabut ubanmu, karena uban itu adalah cahaya bagi seorang muslim, tidaklah didapati bagi seorang muslim yang memiliki uban di kepalanya, melainkan Allah I telah mencatatnya berupa kebaikan, diangkat derajatnya, dan dihapuskan akan kesalahannya.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud)

 

Bagaimana kalau mengecatnya?

 

  • Jika masih usia muda, kemudian ada uban, maka mengecatnya dengan warna hitam, merah, dan kuning adalah boleh.

 

Mewarnai rambut dengan berwarna merah, kuning, hitam, terkecuali menurut mayoritas Madzhab Imam Syafi’i, hukumnya “Haram” mewarnai rambut dengan warna hitam. Namun sebagian minoritas Madzhab Imam Syafi’i hukumnya hanya “Makruh” saja. Haramnya mewarnai rambut dengan bewarna hitam mayoritas Madzhab Imam Syafi’i berdasarkan Hadits yang menyebutkan sebagai berikut:

 

لمِاَ رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ  إِلَّا الْبُخَارِيُّ وَ التُّرْمُذِيْ عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : جِيْءَ بِأَبِيْ قُحَافَةِ يَوْمَ الْفَتْحِ  إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , وَكَأَنَّ رَأْسَهُ ثَغَامَةٌ , فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذْهَبُوْا بِهِ إِلَى بَعْضِ نِسَائِهِ , فَلْتَغَيِّرْهُ بِشَيْءٍ , وَجَنِّبُوْهُ السَّوَادَ .

 

“Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Abu Quhafah (ayahanda Abu Bakar Shiddiq t) datang kepada Rasulullah r pada hari penaklukan kota Makkah. Beliau mengadukan tentang keadaan rambutnya yang sudah penuh uban yang memutih. Rasulullah r berkata: Pergilah kalian (untuk mewarnai rambut) untuk menunjukkan di antara isteri-isterinya, warnailah rambut dengan warna apa saja, namun hindarilah dari pewarna hitam.” (H.R. Jama’ah kecuali Imam al-Bukhari dan At-Turmudzi)

 

  • Namun jika sudah tua, lebih baik dijauhi warna hitam.

 

Dalam kitab al-Halal wal Haram fil Islam, Yusuf Qardhawi sepakat dengan pendapat yang makruh terutama bagi mereka yang usianya belum terlalu tua. Namun ia menganjurkan pada orang yang sudah sangat tua agar menghindari warna hitam. Qardhawi berkata: “Termasuk yang membolehkan menyemir dengan warna hitam ini ialah segolongan dari ulama salaf termasuk para sahabat, seperti: Saad bin Abu Waqqash, Uqbah bin Amir, Hasan, Husen, Jarir, dan lain-lain.”

 

Adapun poin 1, kalau mewarnai untuk sesuatu yang tidak bermanfaat, maka hukumnya haram. Namun jika untuk suami saja, maka boleh saja asal tidak dengan warna hitam.

 

Jadi, tetap gunakan bahan yang halal dan tidak anti air.

 

Wallahu a’lam.

 

[]