Seputar Sikap Kasar Suami Terhadap Istri

Assalamu’alaikum,
Ustadz, saat ini saya sudah menjalani hidup sebagai seorang istri selama 7 tahun dan sudah dikaruniai 1 anak. Namun, selama 1 tahun ini suami saya sikapnya berubah terhadap saya. Pada awalnya suami sikapnya cukup lembut terhadap saya, bahkan berkat suami, saya bisa melaksanakan shalat dengan benar. Tapi kini sikapnya sangat kasar kepada saya. Bahkan suami sering berkata akan memulangkan saya pada orang tua saya dengan nada tinggi.
Ustadz,
1. Apa hukum perkataan suami saya tersebut? Apakah perkataan tersebut berarti saya sudah dicerai?
2. Apa yang harus saya lakukan menghadapi suami saya tersebut?
Terima kasih atas jawaban Ustadz.

Wa‘alaikumussalam warrahmah wabarakah,
Bismillah….. Hamidan lillah, wa mushalliyan wa musalliman ‘ala Rasulillah !
Pernikahan dua anak turunan Adam  berlainan jenis merupakan perjanjian dan ikatan suci sangat kuat dan kokoh, yang telah disepakati oleh keduanya. Bahkan direstui oleh seluruh keluarga kedua belah kubu, serta disaksikan oleh para kerabat dan handai taulan. Allah  berfirman Q.S an-Nisa’: 21,
وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
“Bagaimana bisa kalian (para suami) mau mengambil kembali harta (pemberian suami kepada istri) sedangkan sebagian dari kalian (suami dan istri) telah memenuhi kebutuhan pada yang lain, dan para istri telah mengambil (menerima) perjanjian yang sangat kuat dari kalian?“
Dari kesakralannya menunjukkan bahwa ikatan ini bukan main-main dan bukan pertunjukan ataupun sandiwara, melainkan ikatan serius yang tidak mudah untuk membina atau merusaknya. Sehingga Rasulullah  dalam sebuah hadits shahih riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Baihaqi, al-Hakim serta ad-Daruquthni dari shahabat Abu Hurairah  bersabda:
ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جَدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جَدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلَاقُ وَالرَّجْعَةُ
“Tiga hal, di mana seriusnya adalah keseriusan, dan mempermainkannya adalah serius, yaitu Pernikahan, Thalaq, dan Rujuk kembali.“
Oleh karena itu, manakala terjadi persengketaan di antara keduanya, maka untuk menjaga ikatan ini agar tetap utuh, Allah  memerintah agar dari kedua belah kubu mendatangkan sesepuh masing-masing (orang bijak) untuk berembuk dan mencari solusi terbaik untuk keduanya. Bukan keduanya langsung bertindak sendiri dan memutuskan sendiri, manakala keduanya masih mengharapkan jalan terbaik. Sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. an-Nisa’: 35,
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا
“Dan jika kalian kawatir terjadinya perpecahan di antara keduanya, maka mengutuslah kalian seorang bijak dari keluarga pria dan seorang bijak dari keluarga wanita, manakala keduanya menginginkan perdamaian, maka Allah akan memberi petunjuk di antara keduanya. Sesungguhnya Allah adalah Dzat Maha Mengetahui dan Maha Mengerti.”

JAWABAN:
1. Hukum perkataan suami anda tersebut merupakan KINAYAH (sindiran) mencerai, akan tetapi tergantung kepada niat suami Anda. Jika saat dia berkata demikian dalam hatinya bermaksud mencerai Anda, maka terjadilah Talaq. Akan tetapi manakala dia hanya bermaksud agar Anda pulang ke rumah orang tua sesungguhnya, karena dia masih kesal atau marah kepada Anda, maka tidak terjadi Talaq.
2. Jika yang Anda maksud agar suami Anda berubah seperti sediakala, maka dalam bab ini kami yakin Anda dan para wanita sederajat dengan Anda lebih mengerti daripada kami. Tapi jika yang Anda maksud solusi terbaik untuk menjaga ikatan tersebut, maka ikutilah jalan yang telah dipaparkan pada pijakan di atas.
PERINGATAN!
Janganlah menempuh jalan talaq, apalagi sudah dikaruniai buah hati oleh Allah, sebab:
• Sang buah hati akan menjadi korban dari jalan tersebut.
• Jalan tersebut sangat dibenci oleh Allah, sekalipun boleh dan halal, sebagaimana sabda Rasulullah  dalam hadits Marfu’ / Mursal shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar  dari riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Baihaqi, dan Abdurrazzaq:
أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ

Wallahu a’lam.
Al-Maraji’:
1. An-Nawawi: Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab: 17 / 14 – 16.
2. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah: Muhammad bin Abi Bakr, Zadu al-Ma’ad: 5 / 283.
3. Qulyubi wa ‘Umairah, Hasyiah Qulyubi wa ‘Umairah: 12 / 345.