Situs Purbakala di dalam Ka’bah

Situs Purbakala di dalam Ka’bah

AHMAD SYARIFUDDIN

Pembina Al-Ghazali Islamic Study Club Surakarta

di dalam Ka’bah

myfitriblog.wordpress.com

Beberapa waktu lalu di Majalah ini telah saya tulis artikel berjudul “Barang Berharga dan Bersejarah di dalam Ka’bah”. Ternyata ada satu lagi situs purbakala (peninggalan kuno) nan amat bersejarah yang terdapat di dalam Ka’bah belum saya sampaikan pada saat itu. Situs purbakala apakah?! Dan apa hubungan situs purbakala itu dengan situasi-kondisi Ka’bah dewasa ini?! Kami tulis artikel ini sebagai kelengkapan. Mudah-mudahan memberikan manfaat dan tambahan wawasan yang lebih banyak kepada kita semua.

***

“Ya Allah, kulaksanakan perintah-Mu demi rahmat dan keridhaan-Mu. Terimalah kehadiran anakku di haribaan-Mu. Ya Allah, Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Demikianlah bisikan suara yang terhempas dari kedua bibir Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam drama terbesar ketaatan umat manusia kepada Tuhannya. Sedang Sang Putra, Ismail Alaihissalam, berdoa, “Ya Allah, Pencipta hidup dan mati. Atas kehendak-Mu aku hidup dan atas kehendak-Mu aku mati. Kuatkanlah iman ayahku menghadapi cobaan-Mu yang berat ini. Tiada kekuatan dan tiada daya kecuali atas perkenan-Mu.”

Nabi Ibrahim kemudian jongkok dan sambil memejamkan mata beliau mengulurkan tangan kanan yang memegang khanjar perlahan-lahan. Beliau membuka mata kembali dan mulai menyentuhkan mata khanjar yang tajam itu ke batang leher putranya. Baru saja khanjar itu menyentuh kulit leher Nabi Ismail, tiba-tiba Nabi Ibrahim mendengar suara memanggil-manggil, “Hai Ibrahim. Janganlah engkau gerakkan tanganmu. Berhentilah. Ia (Ismail) Kami ganti dengan seekor kibas besar!” Nabi Ibrahim Alaihissalam terkejut mendengar suara utusan Tuhan itu. Beliau mengangkat tangan kanannya sambil menoleh ke belakang. Dan tampaklah seekor kambing kibas yang tidak diketahui dari mana datangnya. Kambing itu dihampirinya lalu disembelih sebagai ganti korban putranya.

***

Di antara benda purbakala yang terdapat di dalam Ka’bah adalah dua buah tanduk domba “langit” yang disembelih oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam peristiwa di atas. Berdasar serangkaian sanad yang terpercaya, para ulama hadits kenamaan memastikan bahwa dua buah tanduk domba tersebut bergelantung pada dinding Ka’bah bagian dalam. Mereka meriwayatkan, ketika Rasulullah Sholallohu ‘alahi wasallam melihat dua buah tanduk tersebut, beliau menyuruh Usman bin Thalhah Al-Jumahi Radhiyallohu anh supaya menutupnya dengan secarik kain agar tidak mengalihkan perhatian orang yang sedang menunaikan shalat di dalam Ka’bah. Beliau tidak menyuruh supaya benda purbakala nan bersejarah itu dikeluarkan dari dalam Ka’bah, atau dimusnahkan sebagaimana beliau perintahkan terhadap berhala-berhala dan patung-patung. Bahkan, beliau membiarkan benda itu tetap (lestari) sebagaimana adanya hingga zaman kekuasaan Abdullah bin Zubair Radhiyallohu anh di Makkah.

Abdullah bin Thalhah Radhiyallohu anh dalam riwayat yang dikemukakannya memastikan bahwa dua buah tanduk domba yang disaksikannya sendiri itu adalah tanduk domba yang disembelih Nabi Ibrahim Alaihissalam. Demikian pula Amr bin Qais Radhiyallohu anh. Ia menuturkan, “Dua buah tanduk domba yang terdapat di dalam Ka’bah itu ditemukan olehnya pada waktu dinding Ka’bah dipugar pada masa kekuasaan Abdullah bin Zubair di Makkah. Dua buah tanduk itu dalam keadaan dicat dengan tanah liat berwarna kuning kemerah-merahan. Ketika dipegang hendak diangkat ternyata dua buah tanduk itu hancur luluh menjadi debu karena dimakan usia berpuluh-puluh abad lamanya.”

Tidak diragukan lagi bahwa dua buah tanduk domba yang kita bicarakan ini adalah situs purbakala yang bernilai sejarah tinggi. Benda bersejarah tersebut dijaga baik-baik oleh masyarakat Arab selama kurang lebih 2500 tahun sebagai pusaka leluhur mereka, Abul Anbiya’: Nabi Ibrahim Alaihissalam dan putranya, Ismail Alaihissalam. Lebih penting lagi artinya karena dua buah tanduk tersebut adalah tanduk seekor domba yang diciptakan Allah secara khusus untuk menebus keselamatan Nabi Ismail. Benda pusaka itu tetap tersimpan di dalam Ka’bah hingga saat datangnya agama Islam dan seterusnya hingga masa pertumbuhan agama Islam, dan sebelumnya telah dipelihara dengan baik pula oleh kaum Nabi Ismail dan generasi penerusnya hingga era generasi bangsa Quraisy di masa Jahiliyah.

Adalah Rasulullah Sholallohu ‘alahi wasallam sendiri yang membenarkan bahwa dua buah tanduk itu adalah tanduk domba yang disembelih Nabi Ibrahim Alaihissalam. Beliaulah yang memerintahkan seorang sahabat untuk menutup dua buah tanduk itu dengan secarik kain agar tidak mengalihkan perhatian orang yang sedang menunaikan shalat di dalam Ka’bah. Setelah beliau, banyak pula sahabat dan generasi tabiin yang menyaksikan sendiri keberadaan benda purbakala nan bersejarah itu. Mereka melestarikan dan menghargainya dengan baik. Demikianlah semestinya sikap bangsa modern nan berbudaya tinggi.

***

Adapun situasi kondisi Ka’bah dan sekitarnya sekarang ini, sekian banyak cagar budaya dan situs peninggalan bersejarah tidak lagi dipelihara dan dihargai. Aset-aset purbakala nan bersejarah di negeri Hijaz (Makkah dan Madinah) justru malah mengalami penghancuran.

Dr. Sami Muhsin Al-Anggawi, pakar arsitektur dan direktur The AMAR Centre memperkirakan berdasarkan studinya, selama 50 tahun terakhir setidaknya 300 bangunan bersejarah telah diratakan dengan tanah di Makkah dan Madinah (Al-Haramain). Doktor Arsitektur Islam dari University of London dan Harvard University ini menyatakan bahwa 1.400 tahun sejak periode awal Islam, baru di masa ini benda-benda cagar budaya di Al-Haramain secara sporadis dibongkar untuk membuat jalan-jalan dan berbagai fasilitas serba wah bagi pelaksanaan ibadah haji dan umrah di dua Kota Suci Islam tersebut.

Dekrit dewan ulama senior Kerajaan (1994) memutuskan bahwa melestarikan bangunan bersejarah dapat mengakibatkan kemusyrikan. Nah, siapakah yang harus bertanggung jawab atas situasi-kondisi ini? Sebuah pertanda akhir zaman.

Wallahu a’lamu bish-Shawab.