Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Suara Umat Islam: Pencarian Identitas, Aspirasi, dan Tekanan Zaman | LAZIS AL HAROMAIN

Suara Umat Islam: Pencarian Identitas, Aspirasi, dan Tekanan Zaman

Oleh Yanuardi Syukur

Sekretaris Jenderal The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES),

Mahasiswa Program Doktoral Antropologi FISIP UI

Pada sebuah malam saya berdiskusi dengan kolega sesama peserta program doktoral Antropologi FISIP UI, Al Chaidar, soal konten Telegram yang digunakan oleh pengikut ISIS untuk diseminasi pemikiran mereka ke publik. Kata Al Chaidar, pengikut ISIS menyakini bahwa jihad adalah “jalan pintas” (short cut) untuk menuju surga, dan oleh karena itu, maka berbagai aksi “bom bunuh diri” (amaliyah istisyhadiyah) tidak terlepas dari pemikiran untuk mendapatkan surga lewat jalan pintas tersebut.

Membaca tulisan yang ada di channel Telegram tersebut –sebelum ada pemblokiran Telegram oleh pemerintah pertengahan Juli kemarin ~red.— saya menemukan pada pemikiran mereka bahwa saat ini kita tengah berada di akhir zaman yang penuh dengan berbagai fitnah, seperti banyaknya ulama buruk (ulama su’) yang dekat-dekat pada kekuasaan, sebaliknya sangat sedikit ulama benar (ulama haq) yang mereka pun saat ini berada di balik tembok-tembok penjara dan berjaga-jaga di perbatasan. Channel tersebut menyebarkan pemikiran Aman Abdurrahman yang mengatakan, “..ketahuilah bahwa tauhid ini mahal nilainya dan besar konsekuensinya, sehingga harus dibayar mahal dengan pengorbanan yang banyak, baik itu keterbunuhan, kekejaman penyiksaan musuh, maupun pemenjaraan ataupun perampasan harta benda.” Selanjutnya, ia berkata, “komitmen dengan tauhid di zaman ghuraba ini akan selalu diliputi rasa takut dan cemas dari kekejaman musuh sebagaimana yang dialami Nabi Musa dan pengikutnya di Mesir dan sebagaimana yang dialami Rasulullah dan para sahabat di awal Islam.” Namun, katanya lagi, “jangan sampai rasa takut dan cemas itu menyebabkan antum meninggalkan tauhid ini, karena itu adalah sifat orang-orang yang Allah cela di dalam firman-Nya.”

Pencarian Identitas

            Umat Islam saat ini sedang mencari identitasnya berdasarkan apa yang mereka pahami dari Al-Qur’an, sunnah, dan atsar para sahabat. Apa yang dilakukan oleh Aman Abdurrahman, pemimpin ISIS Indonesia, lewat berbagai aksi mengkafirkan negara Indonesia, menganggap Pancasila adalah thagut (berhala) dan polisi adalah anshar thagut (penolong berhala) dapat dilihat sebagai bagian dari pencarian identitas di tengah kebimbangan global umat manusia dalam mencari mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah). Berbekal pada pemahaman teksual terhadap teks-teks keagamaan, mereka kemudian menyebarkan ajaran-ajaran tauhid yang nyaris tidak kenal kompromi dengan realitas sosial yang telah ada. Kelompok pertama ini, jika dilihat dari teks-teks dan transkrip pengajian yang mereka bagikan di laman-laman dan media sosial, terlihat hendak menunjukkan identitasnya sebagai muslim yang benar-benar taat pada perintah Allah (tidak kompromi dengan sistem sosial), akan tetapi coraknya sangat tekstual. Tentu, tidak semua orang setuju dengan pemikiran Aman, karena cenderung keras dan berlebihan, apalagi dalam konteks Indonesia.

Kelompok kedua, adalah kelompok umat Islam yang lebih kompromi dengan sistem sosial yang ada, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan berbagai jama’ah dan partai politik Islam. Kelompok kedua ini menganggap bahwa Indonesia ini hadir salah satunya karena kontribusi besar para ulama yang mengumandangkan resolusi jihad dan berhasil mengusir penjajah. Maka ketika negeri ini telah merdeka, tugas kitalah yang harus mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai kegiatan yang dapat mensejahterakan umat dan bangsa Indonesia secara umum. Di mata kelompok pertama – ISIS (atau sebutlah Daulah Islam)— apa yang dilakukan kelompok kedua ini adalah salah, karena ajaran pertama sebelum keimanan, menurut mereka, adalah pengingkaran terhadap thagut. Padahal Indonesia ini — karena tidak menegakkan syariat Islam — dapat disebut sebagai negara thagut.

Kelompok ketiga adalah kelompok umat Islam yang tidak mengurusi politik dan lebih berfokus pada perbaikan diri dan dakwah. Kelompok ini lebih senang untuk menyebarkan dakwah dari rumah ke rumah, kota ke kota, dan tidak mengurusi masalah politik. Mereka beranggapan bahwa di akhir zaman ini kita harus banyak memperbaiki diri dan berdakwah kepada sesama dan tidak ikut-ikutan dalam hiruk-pikuk politik negeri. Mereka bertabligh ke berbagai tempat, mengajak umat Islam untuk kembali kepada Islam, dan ikut bersama-sama dalam barisan dakwah mereka.

Tentu saja ketiga kategori ini masih sangat mentah, akan tetapi secara umum begitulah umat Islam hendak mengaplikasikan identitas keislaman mereka sebagai salah satu bentuk ketaatan kepada Allah. Mereka ingin hidup yang damai, bekerja yang baik, serta secara umum dapat menegakkan agamanya tanpa ada tekanan dari orang lain.

Pencarian identitas ini tampaknya tak pernah sepi dari konfrontasi dengan pihak lain. Misalnya, ketika Uni Soviet menjajah Afghanistan, para mujahidin pun berbondong-bondong mengangkat senjata dan mengusir tentara beruang merah tersebut. Namun, ketika Soviet sudah bubar dan mereka melihat Amerika berdekat-dekat pada Kerajaan Saudi Arabia dengan politik hegemoni-nya, maka “alumnus Afghanistan” yang dipimpin Osama bin Laden pun meneriakkan gerakan perlawanan dari goa-goa Afghan hingga meruntuhkan simbol kedigdayaan Amerika pada tragedi 9/11.

Apa yang diteriakkan oleh teror tersebut? Jika dilihat dari berbagai teks yang mereka rilis, Al-Qaeda memang membagi dunia ini pada dua kelompok: haq dan bathil. Kalau tidak benar, pasti salah. Tidak ada kompromi. Sama juga dengan Presiden Bush yang mengatakan “bersama kami” atau “bersama setan” (kelompok teror). Jadi, pemikiran oposisi biner, “kita” atau “mereka” menjadi salah satu pemikiran mereka, yang itu juga diteruskan oleh kelompok ISIS. Kalau bukan darul kufr, berarti darul Islam. Sesimple itu.

Tapi, apakah pembagian darul kufr dan darul Islam masih relevan sampai sekarang? Jika dilihat secara antropologis, tidaklah demikian. Kenapa? Karena kepemimpinan adalah soal dunia di mana Nabi bersabda, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” Maka, ijtihad untuk menemukan mana sistem politik dan pemerintahan yang efektif bagi umat Islam tidaklah satu macam. Artinya, model kepemimpinan Khalifah tidaklah mutlak satu-satunya cara untuk menegakkan Islam. Pancasila, oleh para ulama Indonesia, dianggap sebagai salah satu ijtihad titik-temu yang efektif untuk Indonesia yang majemuk.

Sejak Pancasila diterima oleh umat Islam, maka sejak itulah ia tetap dipertahankan karena nilai-nilai asasinya tak bisa dimungkiri berasal dari khazanah Islam seperti “ketuhanan” (ilahiyah), “adil” (adl), “beradab” (adab), “hikmat” (hikmah), “musyawarah” (syura’), dan lain sebagainya. Problemnya kemudian adalah pada “pengalaman” nilai-nilai Pancasila itu yang tidak semua orang—terutama elite dan pejabat negara—dapat mempraktikkannya secara konsekuen. Kasus korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan lain sebagainya adalah bagian dari contoh saja bahwa nilai ideal tidak selalu berbanding lurus dengan nilai faktual. Tapi, gap tersebut tidaklah berarti bahwa sistem yang ada ini harus dibongkar semuanya, sebaliknya—jika kita pakai perspektif umum umat Islam Indonesia—sistem tersebut harus dapat diperbaiki terus-menerus sehingga mendapatkan sistem yang paling baik.

Aspirasi Umat Islam

            Masalah aspirasi tidak bisa dilepaskan dari soal pencarian identitas, akan tetapi secara umum aspirasi umat Islam adalah bagaimana menjadi seorang muslim yang hak-hak hidupnya terjamin dan adil. Pada Aksi Bela Islam (ABI) 411, 212, dan seterusnya, umat Islam Indonesia—tentu tidak semua kelompok—menyuarakan paling tidak dua hal: (1) pemimpin muslim, dan (2) hukuman bagi penista agama. Dua hal ini menjadi wacana paling dominan dalam aksi-aksi tersebut yang mengundang jutaan massa dari berbagai penjuru Indonesia.

            Soal pemimpin muslim sesungguhnya telah didiskusikan oleh berbagai tokoh di Jakarta sebelum Ahok keseleo lidah di Kepulauan Seribu. Sekelompok tokoh Islam di Jakarta melihat cukup penting bagi umat Islam—yang mayoritas di Jakarta—untuk mendapatkan pemimpin muslim yang dapat mendengarkan aspirasi-aspirasi umat Islam. Didukung oleh berbagai dalil terkait pentingnya memilih pemimpin muslim, gerakan ini pun terus membesar seiring dengan keseleo lidah Ahok tadi. Umat Islam pasti terpanggil ketika agamanya dinista, terlepas berbagai interpretasi atas ucapan Ahok. Selain itu, sikap arogan Ahok yang dipertontonkan secara terbuka di media menjadikan resistensi terhadap Ahok semakin membesar, tidak hanya soal kepemimpinan muslim, hukuman bagi penista agama, Cina versus pribumi, tapi juga soal karakternya yang dianggap tidak pas dengan kultur kita sebagai orang timur.

            Walhasil, beberapa aspirasi tadi kemudian terwujud: kepemimpinan Jakarta kini di pundak pemimpin muslim (Anies Baswedan-Sandiaga Uno), Ahok dipenjara (dari Rutan Cipinang ke Mako Brimob), orang Cina tidak jadi gubernur, dan budaya ketimuran pun tetap terjaga lewat karakter Anies-Sandi yang lebih santun, soft, dan tidak resisten terhadap ulama. Akan tetapi, pasca kesuksesan itu semua, aspirasi gerakan yang dikomandani oleh GNPF-MUI tersebut pun terlihat memudar seiring dengan apa yang disebut sebagai kriminalisasi ulama yang dilakukan lewat berbagai isu makar, pendanaan kepada kelompok teroris di Suriah, korupsi, hingga fake chat via WhatsApp yang dibuat untuk men-down grade marwah Habib Rizieq Shihab (HRS) dengan tujuan agar umat Islam tidak lagi bersimpati, tidak lagi mendengarkan, dan tidak lagi mengikuti perkataan dari HRS tersebut.

            Kini, setelah Anies-Sandi menjadi penguasa di Jakarta tidak banyak aspirasi umat Islam yang muncul ke publik. Ironisnya, dalam beberapa bulan terakhir, isu paling banyak dibicarakan adalah soal tekanan (atau kasus yang dicari-cari/dibuat-buat) yang ditujukan kepada kelompok Islam yang kritis seperti HRS, Al-Khaththath, Bachtiar Nasir, Amien Rais, dan lain sebagainya. Energi umat Islam pun banyak tercurah pada soal-soal kriminalisasi ulama, sedangkan isu-isu strategis Jakarta seperti bagaimana mengawal gubernur terpilih agar tetap pro-rakyat dan umat tidak begitu nampak. Bahkan, Koperasi Syariah 212 juga terlihat “sepi peminat” ketimbang aksi jalanan pada 411 dan 212.

            Padahal, aspirasi utama yang awal diangkat dalam Aksi Bela Islam adalah soal kepemimpinan dan tentu saja kepemimpinan itu terkait dengan kebijakan. Lantas, ketika pemimpinnya berganti, ternyata diskusi dan debat-debat kritis soal kebijakan jadi melemah. Apakah ini tanda bahwa Umat Islam lebih mudah untuk dikendalikan lewat mobilisasi massa ketimbang berpayah-payah dengan kebijakan? Ataukah, apa yang dibawa oleh gubernur terpilih Jakarta sudah benar-benar sesuai dengan kehendak umat Islam dan oleh karena itu dipercayakan begitu saja kepada para pejabat terkait? Tentu saja kita sadar bahwa sebaik apapun kebijakan jika tidak diawasi akan ada potensi korupsi, dan karenanya “alumnus ABI” sebaiknya juga berkonsentrasi pada pengawalan terhadap berbagai kebijakan dengan berkoordinasi dengan pemerintah terkait.

 

Tekanan Terhadap Umat Islam

Tidak bisa dimungkiri bahwa penjajahan—yang lama atau modern—berpengaruh terhadap bagaimana umat Islam melihat orang lain. Islam mengajarkan bahwa Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih diri Islam, akan tetapi faktanya kolonialisme juga berkontribusi pada jatuhnya mentalitas umat Islam. Walhasil, kita sering kali merasa tertekan—karena berbagai statement penguasa atau lewat berbagai kebijakan—padahal bisa jadi statement atau kebijakan itu bukan sesuatu yang final, bahkan masih bisa didiskusikan, diperdebatkan, bahkan memang menuntut untuk diuji secara akademik.

Tapi pemikiran bahwa umat Islam saat ini sedang tertekan tidak bisa kita abaikan begitu saja. Selama beberapa abad setelah Perang Salib, bangsa Portugis dan Spanyol yang disusul oleh Belanda, Inggris, dan lain sebagainya, telah bertualang ke timur untuk menyebarkan agama, mencari harta, dan agar mendapatkan kejayaan atau apa yang disebut sebagai 3G: gold, gospel, dan glory. Akibatnya, umat Islam (atau sebutlah ‘rakyat bumiputera’) tidak mendapatkan hak-haknya sebagai orang merdeka. Perang demi perang pun terjadi yang itu semua tidak terlepas dari takbir dan jihad para ulama.

Apa tujuan tertinggi (ultimate goal) dari perang kecuali untuk mendapatkan balasan di surga? Itulah yang membuat orang Aceh berani melawan Belanda bertahun-tahun karena keyakinan akan balasan surga bagi para syuhada. Pun demikian dengan para sultan dan penguasa Islam yang melakukan perlawanan terhadap pendudukan penjajah di negeri ini. Mereka tidak takut disebut sebagai pemberontak, karena keyakinan bahwa perjuangan yang mereka lalui adalah benar, dan agama memberikan petunjuk untuk itu.

Secara global misalnya, proteksi Donald Trump cukup berpengaruh buat umat Islam di Amerika. Tapi, menurut Imam Muthahhir Arif, orang Indonesia yang menjadi imam di Masjid Istiqlal di Houston, Texas, hiruk-pikuk kampanye proteksi Trump terhadap Islam tidak begitu terasa di Houston. Umat Islam di sana dapat beribadah dengan baik, lancar, dan tidak ada masalah. Artinya, selain pengusaha, Trump juga politisi yang statement dia tidak bisa dilihat sebagai statement yang tetap. Dia bisa berubah, dan besar kemungkinan proteksi terhadap masuknya orang Islam ke Amerika dilakukannya untuk menjaring sekian banyak massa mengambang (yang anti-Islam) untuk memenangkan persaingan dengan Hillary Clinton yang sangat kuat saat itu.

Nah, jika Trump benar-benar anti-Islam, maka bagaimana cara menjelaskan soal kunjungannya ke Saudi? Berarti, ini tidak bisa dilepaskan dari persoalan politik. Sebagai nasionalis, Trump tentu saja ingin mengangkat marwah negaranya lewat berbagai aksi proteksi untuk tetap berada di urutan nomor satu karena ada kecenderungan Cina akan melambung melebihi Amerika di masa depan. Semua politisi nasionalis pasti akan mengutamakan kepentingan nasional (national interest) dibanding yang lainnya. Dan, hasil dari kunjungan dia ke Saudi ternyata tidak sia-sia, ia tetap bawa duit untuk negaranya.

Tapi bagaimanapun juga umat Islam tetap harus kritis dan waspada dengan berbagai kebijakan yang ada. Artinya, semua pemimpin punya potensi untuk abuse of power, menyalahgunakan wewenang, baik itu di tingkat lokal, nasional, dan global.

Apa yang Harus Dilakukan?

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Para pendusta dipercaya sedangkan orang jujur dianggap berdusta. Penghianat diberi amanah sedangkan orang yang amanat dituduh khianat. Dan pada saat itu, para Ruwaibidhah mulai angkat bicara. Ada yang bertanya, ‘Siapa itu Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Orang dungu yang berbicara tentang urusan orang banyak (umat).

Kebenaran hadis ini terkonfirmasi dalam berbagai korupsi, abuse of power, dan kepemimpinan yang lemah di level birokrasi. Apa yang dituntut oleh umat Islam lewat kepemimpinan muslim sejatinya adalah ekspresi kaum mayoritas—yang tidak salah sebenarnya—untuk dipimpin oleh orang yang menurut mereka tepat. Tapi, problemnya kemudian selalu satu hal: apakah organisasi Islam telah serius menyiapkan kader-kadernya yang siap menjadi pemimpin? Ternyata tidak, karena pada beberapa kasus pilkada misalnya ada saja non-kader yang diajukan sebagai kepala daerah. Artinya, tingkat keberhasilan kaderisasi partai—ambil contoh untuk partai Islam—tidak selalu berjalan linier untuk tidak mengatakan bahwa beberapa kaderisasinya mandeg.

Maka, solusi yang dapat diambil oleh semua komponen umat Islam saat ini adalah memperbanyak kader tangguh umat Islam. Artinya, semua organisasi perlu secara serius menyiapkan pemimpin yang kuat secara agama dan tidak buta dengan urusan nasional dan global. Penyiapan ini tentu saja harus dilakukan terus-menerus, sebagaimana di zaman Nabi dulu para sahabat muda telah dididik sejak kecil tidak saja dengan tauhid yang kuat, melainkan juga tidak lemah secara wawasan dan karakter.

Saat ini, kita butuh para pemimpin muda yang dapat menjelaskan Islam dalam konteks yang modern, namun tidak terlepas dari akar-akar khazanah keislaman klasik serta dapat menampilkan sosok kepemimpinan muslim yang utuh dan bisa jadi teladan. Artinya, para pemimpin muda yang kita harapkan adalah yang kuat secara agama, namun tidak buta dengan konteks perjuangan umat Islam yang telah lama di Indonesia. Bagaimanapun jika berbicara perjuangan, di Indonesia juga para ulama telah berjuang, dan hasilnya kini telah terasa. Nah, hasil perjuangan para ulama di negeri ini tidak bisa begitu saja dinafikan, ditiadakan, sebaliknya perlu diapresiasi, bahkan diteruskan lewat cara-cara yang damai dan rahmat.