Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 6

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 6

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 6
Syarat dan Konsekuensi Akad Jual Beli | LAZIS AL HAROMAIN

Syarat dan Konsekuensi Akad Jual Beli

Oleh: Bahtiar HS

Setiap orang tak bisa dilepaskan dari aktivitas jual beli. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hukum jual beli; karena sebagai muslim, aktivitas apa saja mesti ada landasannya dalam hukum syariah. Nah, pada edisi lalu telah dijelaskan tentang pengertian, dalil, dan rukun jual beli. Berikut lanjutannya.

download (1)

Syarat Jual Beli

Pada edisi sebelumnya telah disampaikan bahwa rukun jual beli terkait tiga hal: pertama, adanya pelaku, yakni penjual dan pembeli. Kedua, adanya obyek atau barang yang diperjualbelikan. Dan ketiga, adanya akad jual beli yang direpresentasikan dengan pernyataan ijab-qabul. Tidak ada salah satu di antara ketiga rukun, maka tidak berlaku aktivitas jual beli.

Agar dapat berlangsung secara sah, maka jual beli tersebut harus memenuhi syarat sahnya. Adapun syarat terkait dengan penjual dan pembeli adalah sebagai berikut:

  1. Penjual dan pembeli haruslah berakal. Tidak sah sebuah jual beli jika penjual atau pembeli adalah orang gila atau tak berakal, sebagaimana juga anak kecil yang belum bernalar.
  2. Penjual dan pembeli hendaknya melakukan jual beli atas dasar sukarela, dengan kehendak sendiri. Tidak sah sebuah jual beli karena paksaan.
  3. Penjual dan pembeli messti sudah baligh sehingga berkemampuan untuk memilih. Syarat berakal dan baligh berkaitan dengan kompetensi pelaku untuk melakukan aktivitas jual beli.

Sedangkan syarat jual beli terhadap barang / obyek yang diperjualbelikan adalah sebagai berikut:

  1. Obyek jual beli tersebut harus suci. Tidak sah menjual barang najis atau haram, seperti darah dan bangkai.
  2. Obyek jual beli juga harus memiliki manfaat. Tidak sah menjual barang yang tidak ada manfaatnya.
  3. Barang tersebut harus bisa diserahterimakan. Tidak sah menjual barang yang tidak dapat diserahterimakan kepada pembeli, misalnya menjual burung yang terbang di langit atau ikan di dalam laut. Tidak sah menjual barang yang dirampas orang yang masih dipegang perampasnya. Tidak sah juga menjual barang yang masih menjadi jaminan.
  4. Barang tersebut harus merupakan milik atau kepunyaan si penjual, atau kepunyaan orang yang diwakilinya (untuk menjualkan), atau kepunyaan yang mengusahakan. Tidak sah menjual rumah yang belum menjadi miliknya, atau belum diserahkan penjualannya kepadanya oleh pemiliknya.
  5. Barang tersebut jelas diketahui spesifikasinya oleh penjual dan pembeli, baik zatnya, bentuk dan kadarnya, sifat-sifatnya, sehingga di antara keduanya tidak ada potensi untuk mengecoh, terkecoh, atau merasa tertipu. Rasulullah r bahkan memerintahkan untuk menyebutkan cacat atau kekurangan suatu barang yang dijual kepada calon pembelinya, agar di kemudian hari pembeli tidak merasa dikecoh atau ditipu lantaran ketidaktahuan karena tidak diberitahu cacat barang tersebut oleh penjualnya.

Ketika jual beli sudah terjadi, maka penjual mendapatkan uang pembayaran atas harga barang sesuai kesepakatan dan berpindahlah kepemilikan atas barang dari penjual kepada pembeli. Uang pembayaran yang diterima penjual bisa ia manfaatkan sesuai keinginannya. Demikian juga kepindahan kepemilikan atas barang berarti berpindah pula hak menggunakan dan memanfaatkan kepada pembeli selaku pemilik barang yang baru.

Demikianlah Islam mengatur syarat-syarat sah sebuah transaksi jual beli dengan sedemikian rinci agar tidak terjadi sesuai peringatan Allah dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kalian.” (Q.S. an-Nisaa’: 29)

Konsekuensi Jual Beli

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum memanfaatkan barang hasil jual beli. Bahwa ketika suatu barang sudah dijual secara sah kepada pembeli, maka kini kepemilikan atas barang tersebut berpindah ke pembeli. Ini berarti sang penjual sudah tidak memiliki hak untuk memanfaatkan barang tersebut, kecuali atas izin si pemilik barang yang baru (yakni pembeli).

Larangan memanfaatkan tersebut berlaku sejak ijab-qabul dilakukan, bahkan meski uang pembayaran belum diterima penjual atau baru dibayar sebagian. Bila penjual masih merasa perlu untuk memanfaatkan barang tersebut hingga batas waktu tertentu, maka hendaknya ia menyampaikan atau meminta izin kepada pembeli.

Shahabat Jabir bin Abdillah t mengisahkan bahwa pada suatu hari ia menunggang unta yang telah kelelahan hingga ia berencana untuk melepaskan untanya. Namun tiba-tiba Rasulullah r –yang sebelumnya berada di akhir rombongan—berhasil menyusulnya. Selanjutnya Rasulullah r mendoakannya dan memukul unta tunggangan Jabir. Di luar dugaan, unta shahabat Jabir sekejab berubah menjadi gesit dan lincah melebihi kebiasaannya.

Setelah melihat unta shahabat Jabir t telah gesit kembali, maka Rasulullah r bersabda kepada shahabat Jabir t, “Juallah unta itu kepadaku seharga 40 dirham.” Shahabat Jabir menolak tawaran Rasulullah r itu dan berkata, “Tidak.” Namun, kembali Rasulullah r bersabda, “Juallah untamu kepadaku.” Setelah tawaran kedua ini, shahabat Jabir pun menjual untanya seharga 40 dirham kepada Rasulullah r. Namun ia mensyaratkan agar diizinkan tetap menungganginya hingga tiba di rumahnya. Dan setibanya di rumah, Jabir t segera menyerahkan untanya dan Rasulullah r menyerahkan bayarannya. (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Dari kisah di atas, maka dapat ditarik pelajaran bagaimana shahabat Jabir t merasa perlu mengajukan syarat untuk menunggangi unta itu (memanfaatkan) hingga tiba di rumah meski ia telah menjualnya pada Rasulullah r. Ini menunjukkan bahwa jika tanpa adanya persyaratan itu, maka Jabir tidak bisa lagi menunggangi untanya begitu berpindah kepemilikan karena jual beli dengan Rasulullah r.

Konsekuensi langsung dari berpindahnya kepemilikan, maka segala manfaat barang setelah akad jual beli menjadi hak pembeli. Dan sebaliknya, segala kerugian atau kerusakan barang (jika sudah dijualbelikan) menjadi tanggung jawab pembeli.

Aisyah t pernah mengisahkan, ada seorang lelaki yang membeli budak. Tidak berapa lama setelah itu, ia mendapati suatu cacat pada budak tersebut. Karena tidak mau rugi, maka ia mengembalikannya (kepada penjual). Akibatnya, penjual mengadu pada Rasulullah r dan berkata, “Wahai Rasulullah, ia telah mempekerjakan budakku.” Maka Rasulullah menjawab keluhannya dengan bersabda, “Keuntungan adalah imbalan atas tanggung jawab/jaminan.”

Hal ini menegaskan bahwa kegunaan barang adalah imbalan atau konsekuensi langsung dari kepemilikan atas barang yang dibeli. Ketika sudah mendapatkan kepemilikan dan barang diserahterimakan, maka pembeli berhak memanfaatkan, berikut siap menerima kenyataan jika barang yang ia beli terdapat cacat atau kekurangan.

Maka seyogyanya, penjual menyampaikan kekurangan atau cacat barang yang hendak ia jual kepada calon pembeli untuk menghindari kerugian semacam ini. Hal ini untuk menjaga agar transaksi jual beli yang dilakukan tidak merugikan orang lain, yang itu sangat dijaga oleh Islam.

Wallahu a’lam.

***

Diolah dari berbagai sumber.