Tanpa Murabbi, Apalah Kami

Oleh: Zakiyah Azzahro

Ketahuilah, siapapun tidak akan sampai pada tingkat dan keadaan mulia kecuali jika bertemu dengan guru.”

~ Imam Abdul Wahab Sya’rani

Malam itu bertepatan pada hari Ahad di awal bulan. Kami (Jama’ah Al-Haromain) ada agenda bulanan “Taushiyah”. Taushiyah adalah sejenis pengajian atau taklim yang disampaikan oleh murabbi kami, Abina K.H. Muhammad Ihya’ Ulumiddin, yang merupakan agenda spesial bagi kami.

“Pokoknya kita harus sowan Abi ya? Setidaknya bertemu, bisa bertatap muka dengan beliau,” kata salah satu teman. “Iya, harus,” sahut saya. Begitupun dengan teman-teman yang lain. Jika Pujon adalah suatu desa yang menyejukkan diri kita, maka Abina adalah sosok yang paling bisa menyejukkan hati kita.

Ba’da Isya’, satu persatu jama’ah mulai berpulangan. Saya dan beberapa teman alumni (Kak Li, Kak Dyah, Nadiah, Ufi mulai beralih tempat menuju ndalem atau rumah kediaman Abi sekeluarga) melaksanakan bagian dari rencana kami untuk sowan. Seperti biasa, kami melalui pintu belakang untuk masuk ndalem. Sebagaimana yang kami tahu selama ini, Abi selalu ramai kedatangan tamu. Jadi kami harus menunggu. Diam-diam hati saya semakin galau, karena semakin larut malam, perjalanan pulang terlihat begitu seram.

Tidak lama kemudian, kami mendengar suara Abina di dapur, bersebelahan dengan ruangan tempat kami menunggu. Sepertinya beliau sedang sibuk sekali menjamu tamunya. “Ayo bantuin Abi..,” ajak Kak Dyah. “Yuk..,” jawab kami serempak.

Kemudian kami berdua mendekat pada beliau. Kami cukup bingung juga ketika sudah mendekat, tidak tahu harus berbuat apa dan apa yang perlu dibantu. Abi seperti masih sibuk mencari sesuatu. Kemudian beliau menoleh ke arah kami. Senyum beliau terlebih dahulu menghampiri, kemudian beliau mendekat. Kami cengengesan sambil menyapa, “Abi..” Hendak kami bertanya, “Abi, apa yang perlu kami bantu?”, tetapi kalah cepat dengan pertanyaan beliau, “Ada siapa saja?” Kemudian teman teman merapat jadi satu. (Abi masih mau menemui kami di tengah kesibukan beliau yang dahsyat).

“Nginep, kan?” senyum beliau merekah.

“Inggih Bi..,” jawab beberapa teman. “Iya, nginep di sini dulu aja,” kata beliau. Dalam hitungan detik saya membisu.

“Mm.. Bi, saya nggak menginap,” akhirnya saya memberanikan diri berkata kata.

“Lhoh, nggak nginep?”

“Mboten Bi, benjing wonten urusan wonten sekolah.” Saya tersenyum pahit. Besok memang saya ada urusan di sekolah.

“Sebentar…” kata beliau. Beliau pun masuk ke ndalem, kemudian kembali. Abi menyodorkan lembaran merah pada kami satu persatu, tanpa pilih kasih. Tidak ada yang bisa kami perbuat lagi, selain menerima dan mengucap “Jazakumullah Bi.”

“Sama siapa?”tanya beliau pada saya.

“Piyambak-an Bi.” Saya memang sendirian pulang.

“Sendirian??” Abi terdiam sejenak. “Tadi ada rombongan mobil teman-teman dari Surabaya, kamu bareng aja sama mereka. Biar nggak pulang sendiri.”

Diamnya beliau ternyata mencarikan solusi.

“Inggih Bi,” jawab saya ringan.

“Ayo ndang dicari, keburu mereka pulang,” beliau terlihat begitu panik. Saya benar benar merasakan kekhawatiran beliau.

***

Adalah Rasulullah shallollohu alahi wasallam yang sering kali memperhatikan para sahabatnya, menanyakan apa yang terjadi di antara manusia. Tidak bersikap selayaknya raja yang hanya ingin dihormati dan dilayani. Membantu orang yang justru seharusnya membantu beliau.

 Dalam sebuah perjalanan, beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Salah seorang sahabat berkata, “Akulah yang akan menyembelihnya.” Yang lain lagi berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.” Yang lain lagi berkata, “Akulah yang akan memasaknya.” Kemudian beliau Rasulullah shallollohu alahi wasallam  bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.”

Para sahabat berkata, “Kami akan mencukupkan bagi engkau, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku, tapi aku tidak suka berbeda dengan kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbeda di tengah rekan-rekannya.” Setelah itu beliau beranjak dan mengumpulkan kayu bakar.

***

مَنْ عَلَّمَكَ بِقَالِهِ وَاَنْهَضَكَ بِحَالِهِ

“Manusia yang ucapannya memberikan ilmu padamu dan tindakannya membangkitkanmu.” Demikian paparan dari para ulama’ tentang murabbi.

Maka, itulah murabbi. Figurnya meneladani baginda Rasulullah shallollohu alaihi wasallam. Selain mengembangkan ilmu spiritual, juga membuat ikatan batin yang kuat pada santri-santrinya. Melalui hal-hal kecil yang menyenangkan hati. Sebagaimana yang selalu beliau ajarkan pada kami, dan terus diulang-ulang “nyenengno uwong, nggatekno uwong, lan ora nggelakno” (menyenangkan, memperhatikan, dan tidak mengecewakan orang lain).

Cerita di atas hanyalah sebagian kecil dari kisah lainnya, bahkan mungkin tidak ada apa-apanya dengan kisah teman-teman yang lain dengan beliau. Hampir seluruh santri beliau punya cerita dengan beliau, cerita yang semakin membuat jatuh cinta. Dan kadang membuat merasa paling dicinta.

***

Berbicara tentang Murabbi, Sayyid Masyhur dalam Miftaahul Jannah/156 mengatakan: “Barang siapa yang tidak memiliki guru (murabbi), maka ia tak ubahnya seperti orang yang kebingungan di jalanan. Barang siapa yang tidak memiliki guru pembimbing dan petunjuk, maka dipastikan setan akan menuntunnya ke jalan yang sesat.” Dalam hikmah juga dikatakan, “Andai tidak ada murabbi, tentu aku tidak mengenal Tuhanku.” Maka, menjadi hal yang sangat urgen kita berjalan di atas hamparan bumi dengan memiliki murabbi. Betapa keberadaan murabbi sangat penting dalam meraih apa-apa menuju kesuksesan yang sesungguhnya, sukses menempuh perjalanan menuju mengenal Allah subhanahu wata’ala, dan sukses menapaki tangga untuk kemudian berdiri di menara kemuliaan. Tanpa murabbi, tidak ada pembimbing, pengarah untuk hidup. Sungguh, sosok murabbi mampu melakukan sesuatu pada diri kita hal yang tidak mampu dilakukan oleh kita sendiri.

[]