KH. Zainul Arifin Pohan: Panglima Laskar Hizbullah

Tanpa resolusi jihad, Indonesia tidak akan lahir” (Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo)

ghhHanya dua pekan setelah proklamasi kemerdekaan RI, Belanda membonceng tentara Sekutu untuk kembali menjajah Indonesia. Hal ini membuat marah rakyat Indonesia, termasuk di kota Surabaya. Kehadiran tentara NICA di Surabaya diwarnai kerusuhan massal dan peristiwa perobekan bendera tiga warna Belanda di hotel Yamato. Ancaman asing di saat umur republik masih dalam hitungan hari, sistem birokrasi dan militer masih sangat lemah, di saat itulah ulama dan santri hadir untuk mengawal kedaulatan tanah air.

Di suatu malam bulan Oktober, di jalan Bubutan Surabaya, tepatnya di kantor NU, diselenggarakan rapat yang dihadiri tiga tokoh NU, yakni K.H. Hasyim Asy’ari selaku Rais Aam NU, K.H. Abdul Wahab Chasbullah selaku Katib Aam NU, dan K.H. Zainul Arifin Pohan selaku panglima laskar Hizbullah. Mereka membicarakan ultimatum pasukan Inggris agar rakyat Surabaya menyerah. Dalam rapat itu didapat satu keputusan: seruan berjihad di jalan Allah!

Jika Bung Tomo membakar api jihad melalui radio, maka K.H. Zainul Arifin sebagai pucuk pimpinan laskar Hizbullah, bersama panglima laskar Sabilillah, Mujahidin, dan pasukan perlawanan yang lainnya, berperang dan mengatur strategi di jalanan kota Surabaya, mempertahankan setiap jengkal tanah Surabaya dari tentara Sekutu pimpinan Inggris. Perang yang diperkirakan pihak Inggris hanya perlu waktu 3 hari, ternyata memakan waktu lebih dari 3 pekan. Dengan korban jiwa ribuan nyawa.

Ahli Strategi dari Barus

K.H. Zainul Arifin Pohan, sosok cerdas dan ahli strategi perang asal pulau Sumatra. Beliau lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 September 1909. Ia merupakan putra tunggal dari pasangan keturunan Raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing Natal, Siti Baiyah Nasution.

Pada usia 16 tahun, Zainul muda hijrah ke Batavia (Jakarta) dan bekerja sebagai pegawai di PDAM. Keluar dari PDAM, ia menjadi guru dan mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa.

Mulai aktif berkiprah di NU melalui gerakan pemuda Anshor. Kecerdasaannya dalam berdiplomasi membuatnya dekat dengan para tokoh seperti K.H. Wahid Hasyim, K.H. Machfud  Shiddiq, dan lainnya. Menjelang masuknya Jepang pada tahun 1942, K.H. Zainul Arifin menduduki posisi Ketua Majelis Konsul NU Batavia.

Kehadiran Jepang ke Indonesia mengubah haluan garis perjuangan umat Islam yang awalnya konfrontatif menjadi lebih diplomatis. Terbukti dengan terbentuknya MIAI sebagai wadah politik umat Islam dan laskar Hizbullah sebagai wadah latihan militer kaum santri yang pembentukannya difasilitasi oleh Jepang. Karena kecerdikan dan ketangkasannya dalam strategi perang, K.H. Zainul dipercaya Jepang sebagai komandan Batalyon dan pada akhirnya menjadi Panglima Laskar Hizbullah. Ketika Jepang meninggalkan Indonesia, tercatat lebih dari 50.000 anggota laskar Hizbullah pimpinan K.H. Zainul Arifin, telah mendapatkan pelatihan militer.

laskar-hizbullah

Menyambut Resolusi Jihad

Kemerdekaan Indonesia rupanya tidak dikehendaki oleh Belanda. Mereka belum puas menjajah tanah subur Indonesia berabad lamanya. Kehadiran tentara NICA membuat suhu politik Surabaya sangat panas. Rakyat sangat marah, merasa kedaulatan bangsa diinjak oleh penjajah kafir. Rakyat berusaha mengusir tentara NICA dari Surabaya.

Pertempuran 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan, sejatinya adalah pertempuran Laskar Hizbullah, Laskar Sabilillah, Laskar Mujahidin, Laskar PETA, Rakyat Surabaya, kaum santri yang datang dari Sidoarjo, Gresik, Tuban, Lamongan, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang, Blitar, Kediri, dan Nganjuk yang datang dengan naik kereta api. Ribuan lainnya datang dengan berjalan kaki untuk menyambut seruan jihad fi sabilillah untuk mengusir penjajah yang ingin bercokol kembali. Mereka berjuang dengan senjata pedang, tombak, panah, bambu runcing. Bahkan sebagian santri datang ke Surabaya dengan berbekal pusaka keluarga mereka berupa keris atau tombak peninggalan leluhur mereka yang berjuang bersama Pangeran Diponegoro. Senjata lengkap pasukan Sekutu sama sekali tidak membuat rakyat mundur.

imagecontent

Dalam pertempuran yang sangat heroik itulah, K.H. Zainul Arifin mengatur strategi melawan tentara sekutu. Pekikan takbir yang tidak pernah putus selama peperangan rupanya membuat tentara Inggris ciut nyali. Bahkan tentara Gurkha asal Pakistan dan India banyak yang membelot dan berbalik menyerang Inggris, karena mereka baru sadar bahwa rakyat yang mereka tembaki adalah saudara sesama muslim.

Tak kurang dari 2.000 nyawa tentara Inggris menjadi korban tewas. Pertempuran itu juga membuat logistik militer Sekutu terkuras habis. Pertempuran yang sangat merugikan mereka. Sangat tidak sebanding dengan luas kota yang diperebutkan. Sementara dari pihak rakyat, tidak terhitung entah puluhan ribu nyawa yang sudah menjadi syuhada’ kusuma bangsa, untuk mempertahankan kemerdekaan negara. Pertempuran itu membuat mata dunia terbuka, bahwa Republik Indonesia itu ada dan sah.

Membidani Lahirnya TNI

Setelah pertempuran 10 November 1945, K.H. Zainul Arifin tetap memegang komando laskar Hizbullah dan terus berkoordinasi dengan Panglima Besar Jendral Soedirman. K.H. Zainul turut serta mengawal negara dalam menghadapi berbagai peristiwa yang menjadi ujian bangsa. Termasuk agresi militer kedua dari Belanda pada bulan Desember 1948. Ketika negara sudah dalam kondisi aman, terjadi penyatuan seluruh elemen militer ke dalam satu wadah Tentara Nasional Indonesia (TNI). Karena jasanya yang sangat besar pada masa perjuangan dan kemampuan militernya sangat mumpuni, beliau dipercaya sebagai salah satu pucuk pimpinan TNI. Meskipun kemudian beliau mengundurkan diri dari TNI karena kebesaran hatinya melihat banyak anggota laskar Hizbullah tidak menjadi TNI.

Selepas dari TNI, K.H. Zainul Arifin sempat mengabdi sebagai wakil partai Masyumi, wakil partai NU, dan wakil perdana menteri era Ali Sastroamijoyo jilid I.

Akhir Hayat Beliau

Pada 14 Mei 1962, suhu politik meningkat tinggi. Ketika Shalat Idul Adha di barisan terdepan bersama Soekarno, K.H. Zainul Arifin Pohan tertembak oleh aksi pembunuh yang ingin menyerang presiden Soekarno. Kiai Zainul Arifin wafat pada 2 Maret 1963, di RSPAD Gatot Soebroto, setelah menderita sakit selama sekitar 10 bulan. Negeri berduka atas wafatnya komandan laskar santri yang berjuang untuk negeri, sosok santri yang tulus mengabdi di bumi pertiwi. []

Ditulis oleh: Irwan Sani, SE, M.Pd.I (Santri Ma’had Pengembangan dan Dakwah Nurul Haromain Pujon Malang)