Tantangan Pendidikan Islam

 

Tantangan Pendidikan Islam di Era Kontemporer

Oleh : Ainul Yaqin

Sekretaris MUI Provinsi Jawa Timur

 

download (3)Seperti yang disampaikan oleh pakar pendidikan Islam M. Athiyah al-Abrosyi, tujuan pokok dari pendidikan Islam adalah mendidik budi pekerti dan pembentukan jiwa. Menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas, hasil yang ingin dicapai dari pendidikan Islam adalah menciptakan manusia beradab dalam pengertian yang menyeluruh meliputi kehidupan spiritual dan material. Orang yang terpelajar dalam pandangan Islam adalah orang yang beradab, yaitu orang yang menyadari sepenuhnya tanggung jawab dirinya kepada Allah, memahami dan menunaikan keadilan terhadap diri sendiri dan orang lain dalam masyarakat, dan terus berupaya untuk meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.

Berangkat dari kriteria tersebut, ada dua misi yang ditempuh dalam pendidikan Islam. Pertama, menanamkan pemahaman Islam secara komprehensif agar peserta didik mampu mengetahui ilmu-ilmu Islam sekaligus mempunyai kesadaran untuk mengamalkannya. Pendidikan Islam tidak semata-mata mengajarkan pengetahuan Islam secara teoritik sehingga hanya menghasilkan seorang islamolog, tetapi juga menekankan pada pembentukan sikap dan perilaku yang islami, dengan kata lain membentuk manusia Islamist. Kedua, memberikan bekal kepada peserta didik agar nantinya dapat berkiprah dalam kehidupan masyarakat yang nyata, serta mempunyai ketahanan menghadapi tantangan kehidupan melalui cara-cara yang benar.

Untuk kepentingan hal tersebut, pendidikan Islam harus mampu mengakses perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Pendidikan Islam tidak boleh mengasingkan diri dari realitas kehidupan yang senantiasa berkembang dan terus berubah sejalan dengan perkembangan peradaban manusia. Namun pendidikan justru diharapkan mampu mengarahkan dan membentuk peradaban manusia agar tetap sejalan dengan tuntunan Allah Subhanahu Wata’ala. Karena itu, para praktisi pendidikan Islam antara lain para konseptor kurikulum, para pengelola lembaga pendidikan Islam, para desainer pendidikan, dan para guru, sudah seharusnya memahami tantangan pendidikan saat ini. Pemahaman terhadap persoalan-persoalan ini sangat penting untuk bisa merumuskan strategi dan langkah konkrit mulai dari aspek yang paling mendasar persoalan epistemologi, merumuskan metodologi, sampai pada perumusan kurikulum, muatan materi pelajaran, sampai dengan strategi pembelajarannya.

Satu persoalan yang perlu disikapi dalam konteks pendidikan ini, bahwa saat ini dunia sedang menghadapi fenomena globalisasi kontemporer atau disebut globalisasi abad 21. Kendatipun fenomena globalisasi tidak hanya terjadi saat ini tetapi jauh sebelum ini dunia telah beberapa kali mengalaminya, tetapi globalisasi abad 21 mempunyai kekhasan yang dipicu oleh kemajuan pesat teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi. Masalah penting yang terjadi adalah adanya hegemoni budaya global  yang merupakan akibat dari watak globaliasi abad 21 yang dimotori oleh  liberalisme-kapitalisme Barat. Ciri khas dari kapitalisme adalah persaingan bebas. Dalam hal ini yang kuatlah yang akan menjadi pemain, yang secara kebetulan diperankan oleh Barat. Maka tak dapat dihindari lagi, kemajuan teknologi informasi dan pertumbuhan pasar global telah dimanfaatkan oleh segelintir pemain dalam hal ini adalah Barat, untuk memasarkan produk-produknya antara lain budaya, ideologi, dan produk-produk teknologi lainnya.

Globalisasi hendak menciptakan proses homogenisasi, yaitu menyatukan pemikiran dan memfokuskan pandangan masyarakat dunia untuk menggunakan kode etik dan nilai-nilai bersama yang bersumber dari Barat sebagai pionernya. Globalisasi mendorong terkikisnya budaya lokal yang tidak kompetitif. Norma dan nilai baru yang tak sejalan dengan nilai lokal melalui media informasi dan komunikasi akan menggeser nilai-nilai lokal dan bisa jadi lebih populer sehingga semakin mendorong adanya pergeseran nilai. Sadar atau tidak masyarakat dunia saat ini menjadi peniru peradaban Barat dalam berbagai aspek. Contoh sederhana saja dalam mode dan pakaian, tak sedikit para muslimah di berbagai kota besar di dunia ini yang telah meniru pakaian wanita di Barat seperti memakai celana ketat dipadu dengan t-shirts yang pendek sehingga terlihat pusar dan celana dalamnya. Bahkan memakai bikini two piece pun tak menjadi pesoalan. Jika dulu kepesertaan di kontes Miss Universe ditolak keras karena dianggap bertentangan dengan norma lokal, sekarang dianggap mengharumkan nama bangsa. Maka tidak hanya Miss Universe, tetapi Miss World juga diikuti.

Lebih jauh lagi dalam urusan politik, hampir 100% ingin menjiplak Barat dengan demokrasinya tanpa ada sikap kritis sama sekali. Demokrasi Barat sebagai sistem yang melecehkan para ilmuwan, ulama, dan cendekiawan karena menyamakan mereka dengan orang-orang yang tak berilmu bahkan tak bermoral, memilih karena uang, dan sebagainya karena suaranya sama, diadopsi begitu saja tanpa usaha penyelarasan dengan norma dan tradisi lokal. Anehnya yang mencoba mengkritisi dituduh sebagai kaum radikal. Demokrasi yang berasal dari Barat tak disebut sebagai ideologi transnasional, tetapi Islam sebaliknya disudutkan sebagai ideologi transnasional yang berbahaya.

Satu contoh lagi yang merupakan imbas dari perkembangan teknologi yang dijiwai oleh peradaban Barat adalah masalah norma, termasuk masalah halal haram. Misalnya saja perkembangan bidang teknologi pangan telah memicu kemungkinan  terjadinya percampuran antara bahan yang halal dan yang haram, antara yang suci dan yang najis, sehingga memunculkan produk syubhat. Sebagai contoh, produk permen agar terasa lunak dan kenyal dikembangkan teknologi permen soft yang menggunakan bahan gelatin; satu contoh produk teknologi pangan yang patut dipertanyakan kehalalannya karena kemungkinannya dibuat dari bahan haram.

Masalah yang lebih konseptual adalah terkait dengan masih kuatnya pola dikotomi ilmu agama dan umum yang merupakan ciri khas dari pengembangan ilmu yang dipengaruhi oleh worldview Barat yang sekularistik. Celakanya, ada sikap minor terhadap agama dan moralitas, sehingga sempat tak jadi ukuran yang menentukan kelulusan siwa

Kondisi lebih parah justru terletak pada pola metode studi Islam terutama di perguruan tinggi. Studi Islam yang semestinya menjadi pondasi malah terhegemoni oleh metode studi Barat yang sekuler dan liberal. Akibatnya, pendidikan Islam yang semestinya menghasilkan manusia-manusia yang bertaqwa, tetapi yang terjadi malah menciptakan orang-orang yang ragu pada ajaran agama.

Dalam beberapa hal, ada yang mencoba melakukan upaya pengintegrasian, tetapi sifatnya masih artifisial, tambal sulam, dan tidak integral. Hal ini terlihat dari kebijakan beberapa lembaga pendidikan tinggi Islam, antara lain IAIN dan STAIN yang membuka tidak hanya jurusan agama tetapi juga umum, bahkan telah berubah menjadi UIN. Demikian juga dengan bermunculan sekolah-sekolah Islam di tingkat menengah dan dasar. Namun keberadaan jurusan-jurusan yang bersangkutan masih terpaku pada jebakan dikotomi ilmu. Walaupun pendidikan umum yang dikelola oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam baik tingkat perguruan tinggi maupun di tingkat yang lebih bawah memiliki ciri muatan pengetahuan agama lebih banyak tetapi belum terdapat pengintegrasian ilmu secara metodologis, lebih-lebih epistemologis.

[]