Tatkala Anak Bertanya Tentang Para Nabi Dan Rasulullah Saw

Oleh:

Masitha Achmad Syukri

Ketua DPP Anshoriyyah Yayasan Persyada Al Haromain

Dosen Linguistik Dept. Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya UNAIR

Iman kepada para Nabi merupakan salah satu rukun iman atau bagian aqidah yang harus diajarkan atau diinternalisasikan oleh orang tua kepada anak sejak dini. Dalam hal itu, anak bisa jadi mengajukan tanyaan-tanyaan seperti berikut.

“Ayah, kenapa Allah mengutus para nabi?”

“Umi, seperti apakah nabi-nabi itu?”

“Abi, kenapa kita tidak boleh melukis wajah Rasulullah?

“Mama, seperti apakah Rasulullah itu?

Tentu saja, para orangtua harus menjawab tanyaan-tanyaan seperti itu dengan jelas dan meyakinkan sehingga anak memiliki keimanan yang kuat terhadap para nabi tersebut. Berikut beberapa hal mendasar dalam mengajarkan keimanan kepada para Nabi kepada anak.

Pertama, kita ajarkan bahwa para nabi adalah utusan Allah selain malaikat, sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al Hajj (50):75 berikut:

“Allah memilih utusan-utusanNya dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Jadi, malaikat dan para nabi merupakan makhluk istimewa karena terpilih menjadi utusan Allah. Barang siapa yang mencintai dan memuliakan mereka, sungguh dia dalam keimanan dan keislaman. Barang siapa memusuhi mereka, sungguh dia dalam kekafiran dan Allah sangat mengecamnya sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut.

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (Q.S. Al Baqarah [2]: 98)

Hal awal yang bisa dilakukan adalah dengan mengenalkan nama para Nabi mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. Terkait dengan hal itu, ada banyak kegiatan interaktif yang bisa dilakukan oleh orang tua, misalnya dengan membacakan buku kisah para Nabi (misalnya yang bersumber dari buku Qashasul Anbiyaa yang ditulis oleh Ibnu Katsir), nonton bersama VCD/DVD kisah para Nabi, melihat peta untuk melihat lokasi para Nabi mengemban amanah menyampaikan ajaran tauhid, dan sebagainya.

Kedua, kita mengenalkan arti penting tugas kenabian dan keutamaan para nabi.

Agar anak memahami tugas dan tanggungjawab serta mencintai para nabi, sebagai orangtua, kita mesti menceritakan tugas mulia yang diemban para nabi serta keutamaan, kedudukan, sifat dan kisah perjuangan atau dakwah para nabi dan rasul tersebut. Para nabi menjadi penengah antara Allah dan makhlukNya. Allah menganugerahi mereka hikmah dankekuatan intelektualitas alias ketajaman berpikir.Dalam menyampaikan wahyu yang mereka terima, yakni ajaran Tauhid (mengesakan Allah), mereka berjuang tak kenal putus asa dan pantang menyerah meskipun mendapat tantangan, kecaman, dan ancaman yang luar biasa dari umat mereka yang tidak mengimani mereka. Bahkan, ada juga nabi yang dibunuh oleh umatnya sendiri. Sungguh laknat Allah atas perbuatan mereka yang terkutuk tersebut. Hal-hal tersebut sangatlah penting bagi anak agar terikat hati dan pikiran mereka dengan para nabi dan rasul tersebut sehingga anak akan selalu berusaha untuk meneladani mereka.

Ketiga, kita mengenalkankepada anak-anak tentang sosok nabi terakhir dan termulia di sisi Allah, yakni Nabi besar Muhammad SAW.

Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir dan termulia. Nabi Muhammad SAW menjadi makhluk pertama yang dijadikan Nabi oleh Allah sejak Nabi Adam AS masih berada di alam antara ruh dan jasad. Nabi SAW bersabda, “Allah Azza wajalla telah menetapkan semua apa yang telah ditakdirkan lima puluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi sedang Arsynya berada diatas air. Selanjutnya, disana ditetapkan, bahwa Muhammad adalah Nabi penutup.” (HR. Abdullah bin Amr bin Ash).

Selanjutnya, kita kenalkan dan kita pajankankepada anak ihwal budi pekerti yang agung pada diri Rasulullah serta sejarah hidup dan perjuangan beliau dalam mendakwahkan Islam demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi. Sangatlah utama kita hujamkan kepada anak firman Allah pada surat At Taubah [9]:128 yang artinya adalah “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”

Secara khusus terkait dengan fisik Nabi Muhammad, kita memang dilarang melukis atau menggambar beliau agar kemurnian aqidah kita terjaga. Tapi, kita bisa menyampaikan kepada anak gambaran kesempurnaan fisik beliau antara lain seperti yang disampaikan oleh Hindun, putera ibu Khadijah RA. Bagi Hindun, beliau seperti ayahnya sendiri, bahkan lebih sehingga gambaran Rasulullah SAW terekam jelas dalam benak, hati, dan matanya.

“Jika rambutnya tergerai, beliau membiarkannya. Rambutnya tak melebihi cuping telinganya. Kulitnya terang. Keningnya lebar. Alisnya melengkung, panjang, dan penuh tapi tak menyatu. Berhidung mancung. Di atas hidungnya tampak seperti cahaya yang akan dianggap mancung oleh orang yang tak melihatnya dengan seksama. Berjanggut lebat. Berpipi datar. Bermulut lebar. Giginya bagus dan rapi. Bulu antara dada dan pusarnya tipis. Lehernya mulus dan tegak bagaikan leher kendi yang terbuat dari perak.Tubuhnya proporsional. Badannya berisi dan tegap. Perut dengan dadanya sejajar. Dadanya bidang. Jarak antara kedua bahunya lebar. Tulang persendiannya besar. Bagian tubuhnya yang tak berbulu tampak bersih bercahaya.”

Beberapa buku yang bisa dijadikan referensi dalam mengenalkan pribadi dan budi pekerti Nabi Muhammad kepada anak adalah antara lain Asy-Syamailul Muhammadiyah yang ditulis oleh Imam At-Tirmidzi. Buku itu menggambarkan mulai dari bentuk tubuh Rasulullah, rambut rasulullah, cara menyisir Rasulullah, cara duduk Rasulullah, cara bicara Rasulullah, cara tertawa Rasulullah hingga cara tidur Rasulullah serta makanan dan minuman Rasulullah, dan sebagainya. Selain itu, terdapat juga buku yang berjudul Al Wafa bi Ahwalil Musthofa SAW yang ditulis oleh Ibnul Jauzi yang secara rinci menyampaikan ihwal sejarah hidup dan kepribadian Rasulullah. Atau juga layak diajarkan buku yang berjudul Muhammad Insan Kamilyang ditulis oleh Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Sayyid Alawi al Maliki al Hasani yang didalamnya juga diuraikan secara jelas tentang kesempurnaan pribadi Rasulullah Muhammad SAW.

Jadi, mengajarkan shirah nabawiyah kepada anak merupakan agenda utama dan agenda awal bagi para orang tua sebelum anak mengenal tokoh-tokoh yang lain hingga anak memiliki keimanan yang kokoh kepada para Nabi serta memahami dan mengamalkan akhlak terhadap para Nabi. Dengan itu, anak diharapkan sejak dini akan mengidolakan dan selalu meneladani para nabi khususnya Nabi Muhammad SAW dalam kehidupaan mereka. Wallahu a’lam bish-shawab.