Tentang Jilbab, Rok, Celana Jeans dan Ketaqwaan

Oleh Lutfiyah

Mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura

Pernah seorang teman mengagetkanku. Ia bertanya padaku: “Kamu keturunan Kiai, ya?”Aku tidak paham dengan arah pembicaraannya, namun langsung saja kujawab dengan santai,“Hehe, bukan.” Dia hanya meng-oh-kan. Lalu kami pun terdiam menunggu antrian, latarnya saat diklat jurusan beberapa tahun silam.

Pernah juga seorang teman yang berbeda nyinyir padaku. Menyindir yang lebih mirip berceloteh secara blak-blakan dengan kalimat,“Ya ampun, rok udah kayak bendera berkibar.” Atau,“Jilbab culun amat, dilipat gini doang,” katanya sambil mempraktikkan melipat sedikit jilbabnya di bagian kening.Sayangnya aku seringkali tidak peduli dengan omongan yang lebih mirip sampah. Lebih baik memikirkan kalimat-kalimat Al-Qur’an yang jauh lebih indah. Alih-alih sakit hati, aku hanya mampu tersenyum. Reflek. Adapun latarnya didepan kelas, saat semester satu.

Seorang teman yang lain juga menanyakan hal yang membuatku tertawa. Dia bertanya,“Kamu itu anak pondok, ya?” Kali ini aku penasaran mengapa dia menganggapku seorang santri. Aku balik bertanya sembari tersenyum,“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Dia jadi ikut tersenyum dan berkata,“Karena kamu selalu memakai rok saat ke kampus.” Aku ikut menimpali jawabannya, meski tidak ada hubungan dengan pertanyaan awal,“Hehehe, aku pernah kok pake celana. Celana training.”  Kalimat itu akhirnya mampu membuat tawa kami pecah. Seperti panasnya mentari yang seakan mampu membuat kepala kami pecah kala itu, di jalan menuju halte bus yang kami tuju.

Aku juga beberapa kali menjumpai teman yang tiba-tiba bertanya padaku. Aku tidak menduga ternyata mereka memperhatikanku. Begini pertanyaannya, “Kenapa kamu gak pernah pakai celana jeans ke kampus, ya?” Lalu dengan kalimat awalan yang agak terbata-bata akhirnya aku menceritakannya. Sepotong demi sepotong.

****

Kedua orang tuaku adalah sosok yang sederhana. Pun keluarga. Mereka tidak pernah memaksa ini-itu. Hingga akhirnya saat adikku menggunakan celana jeans, ketika hendak touring usai menjalani ujian nasional bersama teman sekelas di SD-nya,tiba-tiba seorang anggota keluarga, Kakak––yang kala itu kuanggap bawel, berkata: “Loh, mau kemana? Ayo ganti celananya. Mulai sekarang jangan pakai celana jeans lagi.” Lantas adikku bergegas menggantinya dengan rok. Hanya sebegitu kejadiannya. Tanpa banyak penjelasan. Tanpa adanya paksaan.

Kejadian itu terlintas di depan mataku. Membuatku hanya bisa bertanya dalam keterperangahan. Ini artinya himbauan itu juga berlaku padaku, pikirku. Sementara Ibu bahkan sudah menghimbau kami sejak lama. Begini kalimatnya,“Tidak masalah pakai celana jeans, tapi di dalem rok, ya.” Himbauan itu membuatku tertawa, karena aku belum juga paham dan menganggapnya hanya sebuah gurauan.

Sejak kejadian itu aku pernah satu kali waktu SMA, melanggar himbauan itu. Saat touring ke Jember aku memakai celana jeans. Tanpa merasa terpaksa. Tanpa merasa bersalah. Aku tidak mendengarkan siapapun. Bagiku, ini hidupku. Privasiku!

Lambat laun berkat-Nya aku akhirnya mulai paham. Ternyata memang lebih baik seperti ini. Berpegang teguh pada prinsip yang kita bangun. Menjadi diri sendiri. Diri yang terbaik di mata Allah. Setelah sedikit memahami konsep yang membuat aku lebih baik dan nyaman ini, aku menyesal pernah sekali tidak mengindahkan himbauan itu. Sungguh, aku percaya bahwa Dia Maha Pengampun.

****

Di tempat aku tinggal juga terdapat anggapan bahwa wanita-wanita remaja yang harus berjilbab hanyalah mereka yang masih atau pernah menimba ilmu di pesantren. Ini berdasarkan fakta yang ada dan kuketahui sejak kecil. Banyak dari mereka beranggapan demikian. Dulu, aku pun begitu. Sampai pada akhirnya saat SMP aku mulai benar-benar mengerti akan kewajiban seorang muslimah untuk menutup aurat. Tentang kewajiban mengenakan jilbab. Tentang jilbab yang aku kenakan selama ini. Aku sangat bersyukur akan pengertian itu. Mulai saat itu aku bertekad untuk mematahkan anggapan itu. Aku memulainya dari diri sendiri dan lingkungan keluarga.

   ****

Kembali ke pertanyaan-pertanyaan dari teman-temanku. Aduhai, mereka harusnya tahu bahwa ketaqwaan bukan soal siapa Kakek Nenek kita. Mereka harusnya tahu, bahwa masih ada seseorang yang tuli saat dicaci atau dibully –– perkataannya tidak akan membuatku tiba-tiba berjilbabala anak-anak yang mau fashion saat di komunitas Tata Busana dulu. Karena memang sepertinya aku hanya mampu mendadani orang lain. Mereka juga harusnya tahu, bahwa tidak semua orang yang tidak pernah makan bangku pesantren akan rela melingkarkan kedua belah tangannya di pinggang seseorang yang hanya berlabel kekasih, saat dibonceng.

Kita begini dan begitu karena kita sama-sama orang muslim. Berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan. Lalu karena kita umat Nabi Muhammad r. A simple man who changed the darkness to the lightness life. A patient man who could spread Islamic law that contain with love in the whole word. Lebih – lebih karena kita tidak ingin dosa kita mengalir pada Ayah Ibu kita. Mengalir pada almarhum Ayah dan almarhumah Ibu kita. Kita tidak menginginkan hal itu.

Memang benar, kulit kacang yang bagus kadang tidak ada korelasinya dengan biji kacang berkualitas baik. Kadang kulit kacang yang kuat dan bagus ternyata bijinya sudah menghitam. Iya, benar. Namun semoga seiring berputarnya masa semua akan menjadi semakin lebih baik. Karena doa dan kebaikan Tuhan-lah kita mampu memiliki niat yang tulus lagi lurus.

Aku acapkali memiliki kesimpulan yang lucu. Aku kira semua mahasiwi harus memakai jelana jeans dan berpakaian necis. Itu pemikiran primitifku saat masih kecil. Aku kira semua muslimah di Arab itu akan mengenakan jilbab. Aku juga mengira jika seorang yang alim akan memiliki anak-anak perempuan yang memakai jilbab. Pada kenyataannya, kita bisa menjumpai hal yang sebaliknya. Seorang jurnalis kondang itu anak seorang alim ulama, tapi… dan beragam kenyataan lain. Untuk hal semacam itu, mungkin masih jauh dari pemahamanku. Aku tidak bisa membandingkan pemahamanku yang sempit dengan mereka. Tentang ajaran Islam rahmatan lil ‘aalamin dan lain sebagainya. Maka aku tidak akan banyak berkomentar pasal itu. Boleh jadi beberapa tahun ke depan pemahamanku akan jauh lebih berkembang. Hanya saja aku mengimani bahwa Allah akan menghargai umat yang mengamalkan ilmu yang mereka pahami walau hanya sedikit, walau hanya satu ayat. Wallahua’lam.

****

Kini berbekal kalimat himbauan sederhana dari Kakak dan Ibuku dulu aku mulai memahami. Bahwa memang, Islam adalah agama yang begitu detail. Agama yang sangat menjaga kehormatan para pemeluknya. Islam juga tidak pernah mempersulit. Hakikatnya, semua yang ada di dalam Islam adalah untuk kebaikan para pemeluknya. Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

Pada akhirnya, semua kembali pada cara, prinsip, pandangan dan jalan hidup masing-masing orang yang perlu kita hargai. Pun aku.

[]