Terapi Agar Tidak Sakit Mata

Terapi Agar Tidak Sakit Mata

Penulis-SyarifuddinOleh : AHMAD SYARIFUDDIN

 

 

Al-Faqih Muhammad bin Said Al-Khaulani menceritakan, “Telah berkata kepadaku Al-Faqih Ash-Shalih Abul Hasan Ali bin Muhammad Bin Jadid Al-Husaini dari Al-Faqih Az-Zahid Al-Bilali dari Nabi Khidir Alaihissalam, “Barangsiapa, ketika mendengar muazin mengumandangkan ‘Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah’, membaca: ‘Marhaban bi Habibi wa Qurrati Aini Muhammadibni Abdillahi Shallallahu Alaihi Wasallam’ (Selamat datang, duhai Kekasihku dan Penyejuk Mataku, Muhammad bin Abdillah. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau), sambil mengecup kedua ibu jarinya lalu meletakkannya di kedua pelupuk matanya, niscaya tidak akan buta dan tidak akan sakit mata.”

doc. dedaunan.com

doc. dedaunan.com

Hadits riwayat ini disebutkan oleh Imam As-Sakhawi dalam kitabnya Al-Maqashid Al-Hasanah yang dia nukil dari Kitab Mujibah Ar-Rahmah karya Al-Radad.

Terkait dengan riwayat ini, Al-Allamah Muhammad bin Umar Bahraq dalam kitab Tajridul Maqashid Anil Asanid wa Asy-Syawahid mengatakan, “Barangsiapa bershalawat kepada Nabi SAW ketika mendengar nama beliau dalam adzan lalu menggabungkan jari telunjuk dan ibu jarinya sambil mengecupnya dan mengusapkannya di kedua matanya niscaya ia tidak bakal sakit mata selamanya.” Riwayat ini lemah tetapi mujarab.

Al-Faqih Abdullah bin Umar Ba Makhramah menuturkan, “Semasa aku kecil, ayahku sering kali menyuruhku untuk melakukannya.” Jadi, mari kita amalkan terapi ini agar kita terhindar dari buta dan sakit mata. Dan untuk lebih memantapkan, berikut ini kami ketengahkan sekilas biografi sang perawi.

Sekilas Biografi Sang Perawi

Salah satu mata rantai riwayat hadits yang bersumber dari Nabi Khidhir di atas adalah Al-Imam Al-Faqih Ash-Shalih Abul Hasan Ali bin Muhammad Bin Jadid. Dia adalah tokoh ulama besar dan mahaguru dalam ilmu hadits. Nama lengkapnya adalah Sayyid Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Jadid bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa. Semoga Allah merahmati mereka semuanya. Ia seorang imam yang menguasai berbagai bidang ilmu, bahkan sulit dicari tandingannya di zaman itu, terutama dalam ilmu hadits dan tafsir. Ia termasuk seorang yang telah mencapai derajat mujtahid. Disebutkan, jumlah gurunya mencapai 1000 orang.

Ia banyak menimba ilmu di kota Tarim. Saat itu kota Tarim begitu makmur dengan banyaknya imam, ulama, dan auliya’. Setelah menguasai berbagai cabang ilmu dan mencapai derajat keilmuan yang diakui banyak pihak, ia tidak berhenti menambah khazanah pengetahuannya. Seperti ketika di kota Aden, ia bertemu Al-Qadhi Asy-Syeikh Ibrahim bin Ahmad Al-Qardi dan belajar kitab Al-Mustashfa kepadanya, sebagaimana Syeikh Ibrahim mempelajari kitab tersebut langsung dari penulisnya, yaitu Syeikh Muhammad bin Said.

Sayyid Ali kemudian merantau dari negerinya, Tarim, dan bertolak ke daerah-daerah di pegunungan Yaman dan menemui para ulama dunia di barat dan di timur hingga sampai ke India dan Zhaffar. Ia juga sering melakukan perjalanan ke Makkah dan Madinah dalam rangka perburuan ilmu.

Saat di Makkah, di antaranya ia berguru kepada Syeikh Ibnu Abi Shaif Al-Yamani. Di kota ini pulalah ia kemudian menetap hingga wafat pada tahun 620 H/1223 M.

Setelah banyak berkelana menuntut ilmu, banyak orang dari kalangan awam hingga kalangan ulama besar dari berbagai negeri, menuntut ilmu kepadanya, khususnya pada disiplin ilmu fiqih. Keberkahannya dirasakan oleh orang banyak dan menyebar ke seluruh negeri. Namanya dilantunkan di berbagai penjuru. Di antara ulama yang menimba ilmu darinya adalah Al-Faqih Muhammad bin Ismail Al-Hadhrami, Al-Imam Al-Junaidi, dan Imam Fasyali.

Sebagian ulama menerangkan, Sayyid Ali bin Muhammad Bin Jadid ini adalah orang pertama yang membacakan hadits tanpa menyebutkan sanadnya. Ia langsung mengungkapkannya dari riwayat Rasulullah SAW. Metode ini dipandang baik oleh para ulama dan mereka pun mengikutinya.

Biografi Sayyid Ali bin Muhammad Bin Jadid telah ditulis oleh beberapa ulama dalam buku sejarah mereka, di antaranya Al-Imam Al-Junaidi, Ibnu Samurah, dan Sayyid Husain bin Abdurrahman. Biografinya juga disebutkan oleh Abbas bin Ali dalam kitabnya Al-Athaya As-Saniyyah fi Manaqib Al-Yamaniyyah, dan Al-Faqih Abdullah bin Umar Ba Makhramah dalam bukunya yang menyelesaikan kitab Thabaqat Al-Asnawi. Demikian sekilas riwayat hidup sang perawi hadits yang memberikan kepada kita sebuah terapi anggun dari buta dan sakit mata. Wallahu A’lam bis Shawab.

_________________________________________________________

Pembina Al-Ghazali Islamic Study Club Surakarta