Terhalangnya Sebuah Do’a

Terhalangnya Sebuah Do’a

 

Terhalangnya Sebuah Do’a

Sekitar dua bulan yang lalu, dalam grup WA abna’ al-Haromain yang saya ikuti, terdapat postingan video menampilkan seorang da’i muballigh yang ‘aliim. Seorang syeikh yang sering tampil di layar kaca. Dalam cuplikan video yang berlatar belakang acara dakwah dari salah satu televisi swasta nasional tersebut, beliau mengungkapkan bahwa Allah Maha Mendengar doa seorang hamba dan mengabulkan do’a. Allah lebih dekat daripada urat leher. Oleh karenanya, tidaklah perlu untuk meminta bantuan kepada Ustadz, Kiai, Habib atau wali agar berdo’a untuknya, cukuplah ia sendiri yang memohon kepada Allah, niscaya yang Maha Mendengar akan mendengarkan do’a tersebut.

Allah Maha Mengabulkan do’a seorang hamba, bahkan iblis yang kafir dan terkutuk pun berdo’a memohon satu permintaan dan dikabulkan Allah. Tentu kita sebagai orang yang beriman kepada Allah lebih berhak untuk didengar dan dikabulkan permohonannya daripada iblis yang kafir. Kira-kira seperti itulah yang disampaikan oleh syekh tersebut hafizhahullah.

Mungkin syeikh tersebut berusaha memotivasi kepada hadirin di studio dan pemirsa di rumah agar lebih giat berdo’a dan merasa bahwa Allah itu sangat dekat dengan seorang hamba, Maha Mendengar dan mengabulkan do’a. Dengan demikian, seorang hamba akan merasa dekat kepada Allah. Seorang hamba yang sangat fakir sekalipun, tidak akan merasa bahwa dirinya fakir sebab ia masih memiliki Allah. Sebaliknya, musibah yang sangat besar akan dirasakan seorang hamba yang merasa dirinya jauh dari Allah.

Ajakan untuk senantiasa optimis dalam berdo’a tentu saja sangat baik. Namun, seseorang yang meminta bantuan do’a kepada orang lain juga tidak salah. Bukankah ada hadits dari Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan ada seseorang melakukan perjalanan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya menyeru: “Yaa Rabb, Ya Rabb” padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka bagaimana doanya akan dikabulkan?

Demikianlah telah disebutkan sendiri oleh Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam bahwa benda haram yang masuk dalam tubuh kita akan menjadi penghalang terkabulnya doa.

***

Ada sebuah kisah sufi yang patut untuk kita ambil hikmahnya. Adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Adham pada suatu ketika selesai menunaikan ibadah haji, ia berniat ziarah ke Masjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat Masjidil Haram. Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak di dekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya.

Setelah itu ia langsung berangkat menuju al-Aqsa di Palestina. Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba di al-Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih tempat beribadah pada sebuah ruangan di bawah kubbat as-Sakhra. Ia shalat dan berdoa dengan khusyuk. Tiba-tiba ia mendengar percakapan dua malaikat tentang dirinya.

“Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara’ yang doanya selalu dikabulkan Allah,” kata malaikat yang satu. “Tetapi sekarang tidak lagi. Do’anya ditolak karena empat bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram,” jawab malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham sangat terkejut. Ia terhenyak. Jadi selama empat bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya, dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

Astaghfirullahal adzhim,” Ibrahim beristighfar. Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah untuk menemui pedagang tua penjual kurma untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya. Ia menempuh lagi perjalanan selama empat bulan.

Setibanya di kota Mekkah, ia langsung menuju tempat penjual kurma itu. Tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. “Empat bulan yang lalu saya membeli kurma di sini dari seorang pedagang yang tua. Ke manakah ia sekarang?” tanya Ibrahim.

“Sudah meninggal sebulan yang lalu. Saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma,” jawab anak muda itu.

“Innalillahi wainna ilaihi raji’un. Kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan?” tanya Ibrahim. Lantas Ibrahim menceritakan peristiwa yang dialaminya. Anak muda itu mendengarkan penuh minat. “Nah, begitulah,” kata ibrahim setelah bercerita. “Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur kumakan tanpa izinnya?”

“Bagi saya tidak masalah. InsyaAllah saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya sebelas orang. Saya tidak berani mengatasnamakan mereka, karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya.”

“Di mana alamat saudara-saudaramu? Biar saya temui mereka satu persatu,” kata Ibrahim.

Setelah menerima alamat, Ibrahim bin Adham pergi menemui kesebelas saudara tersebut, meski tempat tinggal mereka saling berjauhan. Akhirnya usaha untuk meminta ridha kesebelas orang tersebut selesai juga. Semua setuju menghalalkan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim. Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada di bawah kubah Sakhra kembali. Tiba-tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu sedang bercakap–cakap lagi.

“Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara makan sebutir kurma milik orang lain,” kata seorang malaikat. “Oh tidak… sekarang doanya sudah makbul lagi. Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas,” jawab malaikat yang satu lagi.

***

Saudaraku, kita melihat bersama bagaimana Ibrahim bin Adham, seorang kekasih Allah yang menempuh satu tahun perjalanan untuk sebutir kurma yang ia sangka miliknya. Namun kurma yang tidak jelas tersebut menjadi penghalang terkabulnya do’a. Setelah ia berhasil mendapatkan ridha para pewaris sebiji kurma tersebut, do’anya kembali makbul. Maka wajar, apabila orang awam seperti kita, yang kurang hati-hati terhadap kehalalan barang yang kita makan dan kita pakai, untuk senantiasa mencari dan menemukan, untuk kemudian ber-shuhbah dan mahabbah kepada orang-orang seperti Ibrahim bin Adham, yang sangat langka terutama pada zaman kita saat ini. Lantas kita mengharapkan do’a yang keluar dari lisan mereka untuk kita dan keluarga kita.

Waffaqana bihim warzuqna shuhbatahum, ya Rabb.

Wallahu a’lam bisshawaab.

Muhim Kamaluddin

(Guru MA al-Washoya, Ngoro, Jombang)