“Ternyata Dakwah Kita yang Paling Efektif adalah (melalui) Uswah Hasanah.”

Ust. Syamsi Ali dan Ustz. Peggy Melati Sukma

Tidak dapat dipungkiri, perkembangan dunia dakwah saat ini baik di Indonesia maupun di dunia dapat dikatakan begitu pesat. Hal ini ditandai dengan merebaknya berbagai majelis dakwah yang dilakukan oleh berbagai kalangan di Indonesia bahkan di luar negeri, utamanya adalah di Amerika. Namun, segala sesuatu yang dilakukan tentunya memiliki tantangan tersendiri, termasuk dalam berdakwah. Terlebih lagi dakwah yang dilakukan di negeri Paman Sam, di mana negara tersebut mayoritas penduduknya adalah non muslim. Bahkan ketika Donald Trump menjadi presiden Amerika sempat keluar wacana umat muslim akan dikeluarkan dari Amerika.

Nah, beruntung sekali reporter Anas Nur Fadhilah dari majalah Al-Haromain berkesempatan melakukan liputan tentang tantangan berdakwah di negeri Paman Sam bersama Ust. M. Syamsi Ali, Imam Masjid Islamic Centre New York, AS dan Ustdz. Peggy Melati Sukma seorang inspirator hijrah, aktivis kemanusiaan, dan penulis buku di sela-sela acara Dialog Dakwah Aktual di Sentra Dakwah Al-Haromain pada awal Juli 2017 yang lalu. Berikut liputannya:

Ust. M. Shamsi Ali

Seperti apakah pandangan Ustadz mengenai tantangan berdakwah?

Saya kurang setuju sebenarnya menyebut ini sebagai tantangan, karena apabila dilihat dari kacamata iman, yang namanya tantangan itu sesungguhnya lebih akan kita lihat sebagai “peluang”. Al-Qur’an menyebutkan “Inna ma’al ‘usri yusran”. (Sesungguhnya bersama dengan kesulitan akan datang kemudahan –red) Oleh karena itu setiap kali berbicara mengenai tantangan – tantangan Saya lebih suka menyebutnya sebagai peluang-peluang.

Seperti apakah peluang dakwah yang Ustadz lihat di Amerika?

Peluang dakwah yang pertama adalah, bangsa barat dan Amerika khususnya, memiliki ketertarikan yang sangat kuat untuk mengenal Agama ini (Islam). Yang kita kenal di pertengahan abad 21 ini, kita memasuki era informasi, dan di era informasi ini yang mempengaruhi warna-warni persepsi manusia adalah media.

Seperti apakah pandangan orang barat terhadap umat Muslim sendiri?

Sering saya menyampaikan gambaran Islam atau muslim di dunia barat adalah seperti ini. Ini bukan karangan, tapi ini kita dapatkan pada buku-buku yang dipelajari di ilmu sosial di dunia barat. Kalo misal tentang muslim atau orang muslim, ini digambarkan di buku-buku komik di ilmu sosial di dunia barat, maka gambarannya adalah orang yang tinggi besar memakai jubah, berdiri di padang pasir di samping unta dengan pedang terhunus. Tafsirannya kira-kira adalah Islam itu Arab, Arab itu islam. Hal itu tidak masalah karena banyak orang muslim yang Insya Allah imannya kuat. Tapi yang jadi masalah adalah kata Arab di dunia barat itu penafsirannya berbeda. Pernafsirannya adalah Arab itu keras, Arab itu kaku, Arab itu tidak menghormati wanita, Arab itu tidak bersahabat, tidak menghormati hak asasi, tidak menghormati demokrasi, dan sebagainya.

Apakah yang membuat Ustadz menganggap hal itu sebagai peluang?

Dunia barat menganggap kalau orang muslim ya karakternya seperti yang saya sampaikan tadi. Kenapa di padang pasir? Karena padang pasir itu adalah antitesis dari kota yang simpel kemajuan. Jadi Islam itu dianggap terbelakang dan kampungan. Kenapa di samping unta? Karena seolah-olah Islam itu tidak mengenal sains dan teknologi. Kenapa pedang terhunus? Karena seolah–olah Islam itu kasar, keras, menyebarkan agama dengan kekerasan dan peperangan, terorisme… Kira kira begitu. Adapun gambaran muslim di dunia barat yang seperti ini, saya sampaikan bahwa melihat ini sebagai peluang.

Bagaimana cara Ustadz mengeksekusi peluang dakwah tersebut?

Yang pertama adalah bagaimana kita menampilkan Islam, bukan menyampaikan tapi menampilkan. Karena ketika menyampaikan identik dengan pidato dan ceramah, tapi menampilkan lebih kepada uswah hasanah. Yang selalu saya berikan contoh adalah mengetuk pintu orang di samping masjid beberapa rumah dan mereka bertanya, “What can I do for you?” Apa yang bisa saya bantu?

Kita hanya tersenyum menyampaikan bahwa kita datang dan ingin menjadi tetangga yang baik. Lalu kita pakai dalil mereka, bukankah Yesus mengajarkan “cintailah tetanggamu”. Andaikan orang Kristen, pasti bergembira, dan berpikir, ini orang muslim tapi paham bible. Nah, akhirnya mereka terbuka bahwa orang muslim seperti ini. Lalu kita undang ke masjid.

Ternyata dari proses dakwah yang kita jalani ini ternyata lebih menyentuh ketika kita memperlihatkan ketimbang ketika kita mengatakan.

Menanggapi hal tersebut, seberapa besar potensi orang Indonesia dalam mewujudkan dakwah yang efektif?

Menampilkan Islam dan memperlihatkan Islam ini sehingga istilah Telling Islam to the World bukanlah hanya sekedar ceramah, namun bagaimana kita menampilkan akhlak karimah mulia kita. Sebagai orang Indonesia yang mana memiliki karakter yang baik ramah dan santun menjadikan kita sudah memiliki potensi dan kredibilitas untuk menyampaikan dan memperlihatkan perilaku orang Islam. Karena hal itu sudah menjadi darah daging kita di mana orang Indonesia ramah, sopan, berkarakter dan berakhlakul karimah.

Apakah ada tujuan lain dalam berdakwah di Amerika?

Sebenarnya dakwah yang kita sampaikan bukan hanya sekedar menambah pengikut. Tapi juga dakwah yang kita sampaikan adalah sebagai penyelamat. Jumlah umat Islam di dunia adalah terbesar apabila Katolik dan Kristen dipisahkan. Maka, kita berdakwah adalah dalam rangka menyelamatkan dunia.

Contohnya adalah ketika ada orang Budha yang datang untuk mengenal Islam di mana dia adalah seorang gay. Setelah mengenal Islam, beberapa bulan kemudian dirinya sudah masuk Islam kemudian setahun kemudian sudah mempunyai istri. Dari contoh tersebut, saya maksudkan dakwah yang kita sampaikan adalah penyelamatan, namun harus dengan cinta dan kasih.

Ustdz. Peggy Melati Sukma

Seperti apakah tantangan dakwah di Amerika menurut Ibu?

Indonesia memiliki pemeluk agama Islam terbesar. 80% penduduk di Indonesia adalah orang muslim, sisanya masih campur-campur. Di Amerika, Islamnya belum sampai 1%, berarti 99% tantangannya. Tapi melihat apa yang dihasilkan di sana dengan izin Allah, atas daya juang yang dilakukan oleh saudara – saudara muslim di sana, membuat saya yakin bahwa Allah itu Maha Ada.

Apakah yang menjadi motivasi Ibu dalam berdakwah?

Kalimat dari Ust. Syamsi Ali yang selalu saya ingat adalah bahwa cahaya Allah tidak bisa ditahan dengan apapun. Kita bisa gugur, namun cahaya Allah tidak bisa. Maka apabila kita senantiasa mengusung suatu semangat untuk menyampaikan agama Allah, menyiarkan agama Allah, menyampaikan kebenaran, maka InsyaAllah kita dinaungi cahaya yang tidak bisa dimatikan oleh siapapun.

Peluang dakwah seperti apakah yang dilihat oleh Ibu di Amerika?

Setelah peristiwa 11 September, Islam di sana mencuat sebagai agama yang begitu hitam. Namuan karena hal tersebut justru menimbulkan respon yang berkebalikan. Banyak orang yang justru ingin mengetahui bagaimana Islam sebenarnya. Setelah itu pertumbuhan Islam begitu pesat, karena banyak yang ingin mengetahui Islam itu seperti apa. Nah, di situlah peluang dakwah kita, yaitu dengan cara memperlihatkan bahwa Islam itu agama yang damai, penuh kasih, dan sebagainya.

Apakah ada pengalaman yang berkesan dalam berdakwah di Amerika?

Banyak momentum yang saya ingat dalam melakukan dakwah di Amerika. Salah satunya adalah ketika ada suatu forum yang berjudul “To make the world as a better place”. Begitu forum itu dimulai, ketika seorang muslim duduk di depan, respon audiens adalah “pergi aja, jangan di sini, kalian pembunuh, jangan bunuh anak-anak kami, jangan bunuh keluarga kami”. Lalu bagaimana kita menghadapi situasi seperti itu? Kalau mau marah rasanya kepingin marah, rasanya bergejolak hati ini. Namun kita harus bersabar, kita tidak bisa menunjukkan amarah itu. Inilah ladang untuk sabar, belajar tentang sabar, belajar sabar menghadapi situasi dan keadaan.

***

Demikian ringkasan materi yang disampaikan kedua narasumber dalam Dialog Dakwah Aktual ini. Beberapa audiens ada yang mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah ada benang merah antara perkembangan dakwah di Indonesia dengan di Amerika? (Bapak Taufiq)

Jawab Ustz. Peggy:

Perkembangan teknologi informasi menjadikan informasi itu sendiri dapat beredar dengan cepat. Bahkan hingga kita terkadang sampai sulit untuk membedakan mana informasi yang benar dan mana yang salah. Namun hal ini membuat perkembangan dakwah di Indonesia begitu pesat dan menggeliat. Saya merasakan begitu besar perkembangan dunia dakwah di Indonesia. Alhamdulillah dari sejak saya berhijrah belum pernah diberi kesempatan dalam jadwal saya untuk kosong kecuali Idul Fitri. Dari situ dapat kita lihat begitu banyaknya acara-acara (agenda) dakwah di Indonesia.

Kemudian di Amerika, seperti yang dikatakan oleh Imam Syamsi Ali tadi, perkembangan dakwah di Amerika juga begitu pesat. Begitu banyak aktivitas (dakwah) yang saat ini mulai didukung oleh pemerintah. Seperti saat ini, beberapa hari besar umat muslim sudah diakui di Amerika.

Jika ditarik benang merah, maka dapat disimpulkan bahwa dunia dakwah saat ini berkembang begitu pesat dan geliatnya begitu terlihat.

Bagaimana cara ustadz menghadapi orang yang memilih untuk tidak beragama? (Bapak Firmansyah)

Jawab Ust. Syamsi:

Hal itu merupakan fenomena yang berkembang di dunia. Bahkan ada tulisan baru – baru ini yang mengatakan bahwa telah berkembang trend di Arab Saudi bahwa generasi muda sudah mulai tidak percaya agama. Dalam kelas saya, mayoritas yang datang untuk belajar adalah anak-anak muda, dan ketika masuk kelas terkadang saya tanya apa agamanya saat ini, dan mereka menjawab tidak tahu. Banyak kasus di dunia di mana orang beragama namun tidak beragama. Mereka percaya ada sesuatu yang lebih besar di atasnya, namun ketika ditanya apa agamanya mereka menjawab tidak tahu.

Yang pertama adalah kita saat ini dihadapkan dengan orang-orang yang sangat rasional dan segalanya harus dijawab dengan rasional. Sehingga apabila kita main babat saja, yang terjadi bukan berdakwah namun mengusir. Banyak imam di sana yang berasal dari timur tengah, yang ketika berdakwah dengan marah-marah, rasionalnya kurang sehingga tidak sampai kepada emosional para pemuda dan membuat mereka malas untuk kembali ke masjid.

Tentu kita semua tertantang. Tidak mungkin semuanya dijawab secara rasional, namun apabila kita hanya menjawab secara dogmatis, maka kemudian mereka menjawab agama lain juga dogmatis. Maka dari itu, tantangan berdakwah di sana adalah kita harus membuka wawasan seluas mungkin.

Apa motivasi ustadzah untuk tetap istiqamah dalam mendakwahkan Islam? Dan apa yang menjadi titik balik sehingga ustadzah Peggy melakukan hijrah dan berdakwah? (Bapak Firmansyah)

Yang pertama adalah jangan membiarkan rasa capek, rasa malas, ujian, tantangan, atau apapun juga menjadi halangan untuk kita. Kemudian saya selalu menerapkan dalam diri saya untuk selalu mengingat mati, mengingat setelah akan menghadapi alam barzah, ingin nanti berkumpul dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam, mengingat betapa takutnya nanti berhadapan dengan Allah. Hal inilah yang selalu menjadi motivasi saya.

Kemudian apa yang menjadi titik balik saya berhijrah InsyaAllah saya ceritakan di dua buku terakhir saya (Ya Rabbana, Aku Ingin Pulang – Buku kedua seri Inspirasi Hijrah -red). Di situ saya menceritakan proses saya berhijrah.

[Pernah ada survey tentang tingkat kebahagiaan negara-negara di dunia dan hasilnya adalah peringkat-peringkat atas diduduki oleh negara-negara Eropa di mana kebanyakan penduduknya non muslim. Sedangkan negara-negara muslim justru berada di peringkat bawah. Hal ini seolah menjustifikasi bahwa orang muslim hidupnya tidak bahagia.]

Mengapa ini bisa terjadi sedangkan islam telah mengatur kita dari mulai bangun hingga tidur lagi? (Ibu Fitri)

Jawab Ust. Syamsi:

Untuk menjawab hal itu tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Pernah ada survey semacam itu juga yang dilakukan oleh School of Economics di mana hasilnya adalah rangking pertama negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi adalah Bangladesh di mana mayoritas adalah muslim. Jadi tergantung siapa yang menilai dan aspek apa yang mereka teliti.

Tapi kalau boleh jujur, boleh jadi permasalahan dalam agama Islam ini terlalu kaku dalam artian banyak simbol-simbol ritual dalam Islam seperti shalat, dzikir, dan sebagainya namun banyak tidak merasakan kemanisan dalam beribadah. Hal itu tidak merasuk ke hati dan tidak tahu tujuannya. Oleh sebab itu, mungkin (inilah) yang membuat hal ini terjadi. Wallahu a’lam bisshawab.

Apa kiat-kiat yang dimiliki ustadzah untuk konsisten menulis? Berdakwah dapat dilakukan dengan cara menulis, tapi bagaimana ketika seseorang ingin berdakwah dengan cara menulis namun merasa bahwa ilmunya belum cukup? (Ibu Silvi)

Jawab ustz. Peggy:

Pertama, bagi saya menulis adalah dzikir saya. Jadi saya mengingat Allah dengan cara menulis. Hati itu harus (selalu) ingat kepada Allah. Saya tidak pernah memiliki target dalam menulis. Saya serahkan seluruh hati, tangan, dan pikiran kepada Allah. Sehingga bukan target menulisnya yang saya kejar, tapi target membersihkan hatinya yang saya kejar.

Kedua, kuncinya adalah kita harus punya guru. Sehingga ketika kita ragu dan takut salah dalam menulis, kita bisa tanyakan kepada guru kita. Jangan biarkan rasa tidak cukup ilmu tersebut membuat kita berhenti menulis, karena justru semakin kita berilmu, kita semakin merasa tidak berilmu.

[]

Biodata singkat

Ust. Muhammad Syamsi Ali

Beliau lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 5 Oktober 1967. Lulus dari Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul-Arqam Makassar tahun 1987. Mendapat tawaran beasiswa dari Rabithah Alam Islami untuk melanjutkan studi ke Universitas Islam Internasional, Islamabad, Pakistan, S1 dalam bidang Tafsir yang diselesaikan tahun 1992. Dilanjutkan pada universitas yang sama untuk jenjang S2 dalam bidang Perbandingan Agama pada tahun 1994. Selama studi S2 di Pakistan, beliau juga bekerja sebagai staf pengajar pada sekolah Saudi Red Crescent Society di Islamabad. Dari sekolah itulah kemudian mendapat tawaran untuk mengajar pada The Islamic Education Foundation, Jeddah, Arab Saudi pada awal tahun 1995.

Syamsi Ali kini adalah imam di Islamic Center of New York dan direktur Jamaica Muslim Center, sebuah yayasan dan masjid di kawasan timur New York, Amerika Serikat, yang dikelola komunitas muslim asal Asia Selatan. Syamsi Ali aktif dalam kegiatan dakwah Islam dan komunikasi antaragama di Amerika Serikat (terutama pantai timur).

Ustz. Peggy Melati Sukma

Nama lengkapnya Raden Peggy Melati Purnama Dewi Sukma. Lahir di Cirebon, 13 Juni 1976. Pada mulanya dikenal sebagai pemain sinetron dalam perannya sebagai Iteung di sinetron Si Kabayan. Lewat perannya ini, ia mendapat nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik Kategori Komedi Festival Sinetron Indonesia (1997). Namanya kian melambung saat membintangi Gerhana. Bahkan lewat sinetron ini pula terkenal jargon ‘Pusiiiiiiing’, yang kemudian dipatenkannya. Berkat sinetron ini, ia sekali lagi masuk menjadi nominasi Artis Wanita Terfavorit Indonesia Kategori Komedi Panasonic Award (1999).

Selain pesinetron, ia juga presenter dan penyanyi. Namun kini ia kini berhijab dan dikenal sebagai inspirator hijrah. Dan dua tahun terakhir ini aktif terjun ke dunia dakwah dengan gerakan “Urban Syiar Project”, dengan programnya seperti Majelis Inspirasi Hijrah, Amazing Muslimah, Akhwat Bergerak, Telling Islam to the World, dan sebagainya, di samping aktif menulis. Bukunya yang sudah terbit: Kujemput Engkau di Sepertiga Malam, Ya Rabbana, Aku Ingin Pulang, Kun Fayakun! Menembus Palestina, dan Kuketuk Langit dari Kota Judi: Menjejak Amerika.