The Power of Pray

Oleh

Zakiyyah az-Zahro

image_20160716_140957“Dengan bawaan saya yang begini ya Allah, semoga Engkau tidak menghendaki saya berdiri di dalam bis.”

Begitu kalimat yang keluar dari mulut ketika hendak berangkat. Pagi, pukul 06.30 saya memulai perjalanan dari Gresik ke Pujon-Malang. Sudah menjadi perjalanan yang biasa sebenarnya, dengan membawa tas ransel yang cukup simpel. Tapi kali ini bisa dikatakan perjalanan yang luar biasa alias tidak biasa. Bagaimana tidak? Saya harus membawa tiga tas. Satu ransel di punggung, satu ransel di tangan kanan, dan satu lagi tas tentengan di tangan kiri. Oh, betapa saya merasa rempong sekali. Apalagi ukuran ke-tiga tas tersebut gendut, sangat berbobot. Dan 99% dari isi tas adalah pesanan keperluan atau kebutuhan tiga saudara saya yang sedang belajar di pondok.

Hari itu adalah perjalanan amanah, menyampaikan titipan orang tua. Oper dua kali bis yang harus ditempuh. Untuk mendapat tempat duduk di dalam bis saat itu harapannya tipis sebenarnya. Karena saya tidak menaiki bis di terminalnya. Dan memang sudah saking seringnya berdiri. Tapi alhamdulillah, harapan tipis itu ditepis menjadi bukan lagi harapan, melainkan menjadi kenyataan yang akhirnya duduk di dalam bis sampai akhir tujuan.

Di tengah perjalanan, seorang bapak juga menaiki bis yang sama. Bawaannya dua kali lipat banyaknya dibanding bawaan saya. Tas ranselnya super jumbo; ada kardus yang ditenteng, dan entah apa berkeresek-keresek lagi yang harus ia bawa. Ia sampai hampir terjatuh di dalam bis karena ribetnya, dan kesusahan untuk berpegangan. Ternyata ada yang lebih ‘berat’. Tadinya saya kira saya-lah yang paling keberatan.

***

Keesokan harinya.

Menghirup udara pegunungan adalah hal yang selalu bikin kerasan, tidak ingin segera pulang. Tapi bagaimanapun yang namanya hidup nggak bisa sak karepe dewe. Ada tugas yang menanti. Hari ini saya harus tiba di rumah kembali. Dua tugas saya sudah terselesaikan. Untuk menyampaikan amanah dari rumah ke Pujon, saya sudah bertemu dengan dua saudara saya di pondok Nurul Haromain. Tinggal satu adik saya.

Untuk dapat menemuinya, saya harus pergi ke salah satu pondok cabang, Urwatul Wutsqo yang berada di Ngantang-Malang. Kebetulan di sana juga ada dua teman alumni yang dulu seangkatan di pondok. Jadi sekalian ada kesempatan silaturrahim.

Sekitar pukul sebelas siang, saya sampai di Ngantang. Dengan diantar oleh salah satu ustadzah mengendarai sepeda motor. Menemui adik, silaturrahim, shalat, plus makan total waktunya sekitar dua jam setengah. Barulah pukul setengah dua siang saya memulai perjalanan pulang. Tetap dengan do’a yang sama, dan perjalanan pulang ini tersisa satu tas ransel di punggung. “Semoga ada tempat duduk untuk saya di dalam bis.”

Sekitar lima menit berlalu, sebuah bis lewat di depan saya. Segera saya naik dan alhamdulillah, masih bisa bernapas di dalam bis. Saya harus bersusah payah mempertahankan kaki untuk tetap berdiri dengan berpegangan erat pada centelan tangan yang ada di dekat atap bis. Jalan di daerah Ngantang, Pait, Kasembon adalah jalan yang paling seru untuk dilewati. Saking serunya, jika senasib dengan saya (berdiri di dalam bis) sedetik saja melepas tangan dari pegangan, kemungkinan besar tubuhnya akan ambruk.

Secara logika, memang mustahil bagi saya mendapatkan tempat duduk. Semakin bis berjalan, bisa tidak semakin kosong, tetapi malah semakin sesak. “Ayo Mbak, maju lagi..!” kata pak Kernet. Saya yang asalnya berdiri di ujung belakang bis, kini jadi di tengah-tengah. Untuk menggeserkan tubuh saja sudah tidak mampu rasanya.

Tapi saya tidak berhenti berdo’a, “Ya Allah, hamba ingin duduk..” Berdo’anya semacam mengeluh memang hehe. Terus.. saya dalam hati berdoa demikian.

“Mbak, permisi saya mau lewat.” Saya yang asalnya fokus lihat ke arah depan, segera menoleh sebelah kiri.

“Ooh, iya. Mbaknya mau turun?” balasku.

“Iya..”

Tepat Mbak sebelah kiri saya berdiri. Akhirnya tempat duduk itu kini kosong. Belum setengah perjalanan, akhirnya tempat duduk itu milik saya. “Ternyata ada hikmahnya juga pak Kernet menyuruh saya maju terus.”

Tidak terasa tertidur di dalam bis, ketika bangun ternyata bis sudah sampai kota Jombang. Sore, pukul tiga lebih kami sampai di terminal Jombang.

Saya lalu berdiri di halte terminal bagian kota Surabaya. Tujuh menit, bis arah Surabaya lewat. Terlihat tangan manusia bergelantungan di dalam bis. Tapi saya abaikan. Sekali lagi saya berdo’a, “Ya Allah, hamba ingin tempat duduk lagi.”

Tidak tahu sebabnya. Perasaan perjalanan ini biasa saja, tapi terasa melelahkan sekali. Rasanya sudah tidak ingin berdiri lagi di dalam bis. Akhirnya, saya duduk di trotoar terminal, tidak peduli apapun saking capeknya, sambil menunggu bis yang agak kosong. Satu, dua, sampai enam bis sudah saya abaikan demi ingin tempat duduk. “Ah, jika menuruti begini, bisa-bisa besok pagi baru sampai rumah,” bisik saya dalam hati.

Akhirnya saya bertekad. “Untuk bis yang ke-tujuh ini saya harus naik, tidak peduli apapun risikonya. Daripada semakin larut malam sampai di rumah.”

Benar saja, bis yang ke-tujuh itu pun datang. Saya segera memburunya. Tidak kaget, karena sesuai dugaan. Penuh, sesak. Dua menit kemudian, seorang lelaki di belakang saya membuat saya menoleh. “Mbak..,” panggilnya, kemudian ia hanya menunjukkan jarinya ke tempat duduknya. Saya tersenyum lebar. Ia bergegas berdiri, dan saya dengan semangat menempati tempatnya. Saya tidak berpikir panjang ketika itu.

Lhoh, Mase ngalah gak lungguh?” kata seorang ibu di samping saya.

Saya baru tersadar, Mas itu berdiri bukan karena mau turun, tapi memang asli mengalah. Saya menepuk jidat. “Payah, gitu tadi tanpa ada rasa malu, basa-basi nggak mau, atau apalah, langsung main sikat aja.” Tampilannya sederhana, bercelana hitam pekat, memakai kaos lengan seperempat, berkaca mata, dan tas ransel yang dipakainya. Saya terus melihatnya, berharap ia melihat saya, hanya ingin berterima kasih padanya. Akhirnya ia pun menoleh.

“Lhoh Mas, nggak turun?” kata saya basa-basi.

Ia hanya menggelengkan kepala dengan santun.

“Terima kasih ya Mas..,” lanjut saya.

Ia menganggukkan kepala lantas tersenyum.

Sepanjang perjalanan terakhir ini, saya banyak bertafakkur. Do’a. Saya semakin yakin bahwa tidak ada yang bisa menyaingi kekuatan do’a. Setiap hal yang dirasa mustahil, tidak mungking, ternyata salah besar dengan adanya do’a. Sebagaimana janji Allah dalam firman-Nya: “…Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku..” (Q.S. al-Baqarah: 186). “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (Q.S. al-Mu’min: 60). Begitu juga sabda Rasulullah dalam haditsnya: “Do’a adalah senjata orang mukmin.”

Wallahu yatawallal jami’a biri’ayatih.

 

***