Tidak Boleh Makan Telur dan Ikan

Oleh: dr. Nurhadji

Pertanyaan

Assalamu’alaikum,

Dok, kata orang kalau kita terkena penyakit kulit itu tidak boleh makan telur karena nanti ada bekas yang mengkilap pada kulit tersebut sehingga nanti terlihat seperti belang. Juga tidak boleh makan ikan, karena nanti menimbulkan rasa gatal yang sangat.

Bagaimanakah yang sebenarnya itu, Dok?

Terima kasih.

Bu Hani di Surabaya

Jawaban

Wa’alaikumussalaam Wr. Wb.

Ibu Hani, dari pertanyaan ibu, saya berusaha simpulkan bahwa ada persoalan penyakit kulit sehingga ada kekhawatiran boleh atau tidaknya mengkonsumsi telur dan ikan. Banyak sekali jenis penyakit pada kulit, demikian pula penyebabnya ada bermacam-macam. Artinya belum tentu penyakit kulit disebabkan alergi telur dan ikan atau diperparah karena makan telur dan ikan.

Bekas luka pada kulit yang mengkilap dan susah hilang, bukan disebabkan karena makan ikan atau telur, meskipun pada awalnya luka tersebut disebabkan akibat alergi telur atau ikan. Bekas luka seperti itu seringkali akibat dari perawatan luka yang kurang baik sehingga menyebabkan penyembuhannya lebih lama atau lukanya lebih dalam. Bisa terjadi mungkin karena lukanya kecil sehingga perawatannya diabaikan.

Kenapa seseorang disarankan menghindari atau tidak boleh makan telur dan atau ikan? Yaitu bila seseorang tersebut memang terbukti alergi terhadap ikan atau telur. Biasanya dibuktikan dengan tes alergi untuk memastikan bahwa penyebab alerginya memang telur dan atau ikan. Banyak sekali bahan yang kemungkinan bisa menjadi penyebab alergi, akan tetapi seseorang biasanya alergi untuk beberapa hal saja, walaupun terkadang juga alergi terhadap banyak bahan. Jadi, sekalipun seseorang sering menderita alergi pada kulit, bila penyebabnya bukan telur atau ikan, maka tidak ada masalah tetap makan telur atau ikan.

Alergi merupakan bentuk reaksi tubuh pada bahan atau zat yang dipandang tidak cocok atau dianggap benda asing sehingga harus “dilawan”. Bahasa Jawa-nya “tidak tawar”. Alergi bisa terjadi tidak hanya pada kulit, tapi bisa juga pada saluran cerna, dengan gejalanya diare, atau pada saluran nafas dengan gejalanya sesak nafas atau hidung buntu dan berlendir. Manifestasi alergi pada kulit bisa berupa munculnya gejala gatal-gatal, bintik-bintik merah, bentol-bentol atau ruam dan bahkan bisa muncul kantung/ gelembung yang berisi cairan (vesicula atau bulae) pada kulit bila alerginya berat.

Seseorang mudah terkena alergi biasanya karena ada faktor genetis atau keturunan. Namun bentuk alergi yang muncul ataupun penyebabnya seringkali berbeda antara yang dialami orang tua dengan anaknya, bahkan dengan saudara kandung sekalipun sering berbeda. Sekalipun seseorang punya faktor genetis, tetapi tidak selalu muncul atau menderita alergi.

Hal-hal yang Bisa Menyebabkan Alergi

Bahan makanan, biasanya adalah jenis makan yang mengandung kadar protein hewani yang tinggi, misalnya ikan laut terutama cumi-cumi, kepiting, kerang, udang dan sebagainya. Juga ayam, telor dan produk olahannya. Bahan nabati juga banyak yang menyebabkan alergi, misalnya kacang-kacangan, cokelat, atau berbagai jenis jamur. Bahan kimia yang dipakai sebagai pengawet dan penyedap/bumbu-bumbu makanan misalnya makanan instan, aneka camilan atau olahan makanan seperti nugget atau makanan kaleng.

Hewan dan tumbuhan yang bukan makanan seperti benang sari bunga, bulu kulit sejenis kacang koro, bulu binatang, kutu, serangga dan debu terutama yang berasal dari luruhan makhluk hidup (mengandung protein) dan sebagainya.

Bahan-bahan lain yang sering kita pakai atau bersentuhan dengan kulit, misalnya parfum, sabun, shampoo, kosmetik, pewarna rambut juga sering menyebabkan alergi. Demikian pula logam yang nempel misalnya gelang, kalung atau kancing baju logam, hak pengait celana, peniti dan lain-lain.

Obat-obatan juga sering menimbulkan reaksi alergi, baik obat minum maupun suntik (antibiotic, analgesic, anti demam, dll), maupun obat luar seperti minyak gosok atau antiseptic dan bahkan plester pembalut luka juga bisa menyebabkan alergi pada kulit.

Cara Mengatasi Alergi

Bila seseorang menderita alergi, penting untuk berkonsultasi ke dokter. Pertama supaya segera teratasi alerginya dengan baik. Kedua supaya bisa diketahui penyebab alerginya sehingga upaya pencegahan bisa dilakukan. Dokter biasanya akan memberikan obat-obatan untuk menghentikan reaksi alergi dan obat untuk menyembuhkan gejala atau dampak yang timbul akibat alergi. Bila alergi sering berulang atau cukup parah, dokter akan menyarankan tes laborat untuk menemukan dan memastikan penyebab alerginya.

Karena adanya faktor genetis, alergi seringkali tidak bisa betul-betul hilang, artinya bila kontak dengan bahan allergen, maka akan muncul alergi lagi bahkan dalam beberapa kasus bisa lebih parah. Untuk itu upaya mencegah kontak dengan allergen menjadi penting, dan hal ini bisa dilakukan bila sudah diketahui apa saja allergen-nya. Jadi munculnya saran dari dokter untuk menghindari jenis makanan atau bahan tertentu, setelah dilakukan analisa atau tes allergen.

Namun seringkali di masyarakat berkembang pemahaman yang keliru yaitu, bila seseorang menderita gatal-gatal berarti tidak boleh makan makanan ini-itu yang jumlahnya bisa banyak sekali, padahal belum tentu alergi terhadap bermacam-macam makan itu semuanya. Mungkin hanya satu atau dua macam saja yang benar-benar menyebabkan alergi pada orang tersebut. Dan yang menjadi allergen pada satu orang seringkali juga berbeda pada orang lain.

Secara medis ada beberapa upaya untuk mencegah alergi dengan cara desensitisasi dan dengan pemberian vaksin anti alergi. Sekalipun efektivitas masih belum maksimal dan biaya cukup mahal, tapi hal ini bisa menjadi alternatif terapi terutama bagi penderita dengan gejala alergi yang sering berulang, berat atau sangat mengganggu.