Tidak Memiliki Tetapi Bisa Menikmati

Tidak Memiliki Tetapi Bisa Menikmati

Oleh: K.H. M. Ihya Ulumiddin

 

 Tidak Memiliki Tetapi Bisa Menikmati

Q.S. an-Najm: 39

Allah Subhanahu WaRadhiyallohu ‘anha’ala berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَي

“Dan sesungguhnya tidak bagi manusia kecuali apa yang telah ia usahakan.”

 

Analisa Ayat

Sebagaimana ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa: “seorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain“[1], maka pada ayat ini Allah Subhanahu WaRadhiyallohu ‘anha’ala menegaskan bahwa seseorang juga tidak memiliki pahala apapun kecuali dari amal yang telah ia kerjakan sendiri.

Berdasarkan ayat ini Imam asy-Syafi’i dan orang yang mengikuti pendapat beliau mengambil dalil bahwa pahala bacaan tidak bisa sampai kepada orang mati. Masalah peribadatan (qurbah) memang semestinya dicukupkan pada nash-nash dan tidak perlu melibatkan qiyas atau pendapat. Adapun do’a dan sedekah untuk orang yang sudah mati, maka merupakan hal yang disepakati sampai pahalanya, karena memang dijelaskan oleh nash-nash yang pasti.[2]

Apapun, meski berasal dari Imam asy-Syafi’i, istinbath (pengambilan dalil) ini adalah murni ijtihad beliau. Sementara di sana ada ijtihad lain yang menyimpulkan bahwa pahala bacaan bisa sampai kepada orang yang meninggal dunia berdasarkan pada nash-nash lain, sebagaimana ijtihad Imam Ahmad bin Hambal yang juga termasuk tokoh besar generasi salaf.

Di antara nash yang paling masyhur adalah sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam:

اقْرَءُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Bacalah ia (Yasin) untuk orang-orang mati kalian.”[3]

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُقْرَأُ عِنْدَهُ يس إِلَّا هَوَّنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ

“Tiada orang mati yang dibacakan Yasin di sisinya kecuali Allah Subhanahu WaRadhiyallohu ‘anha’ala meringankan (siksa) atasnya.”[4]

Maksud orang mati di sini adalah orang yang hendak mati (muhtadhir) atau juga orang yang sudah meninggal dunia.

Terlepas pro kontra dalam masalah bacaan untuk orang yang sudah meninggal dunia, ayat di atas secara zhahir memang menegaskan bahwa seseorang tidak memiliki kecuali amal yang telah ia jalani. Meski demikian, hal yang perlu dicermati bahwa yang dinafikan adalah kepemilikan, bukan mengambil manfaat (intifa’) atau menerima pemberian dari orang lain. Adapun mengambil manfaat dari amal orang lain, maka ada banyak pula nash yang menyebutkan bahwa seseorang bisa mengambil manfaat dari amal yang dilakukan oleh orang lain, baik sewaktu di dunia maupun kelak di akhirat.

Sewaktu di dunia, maka berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

  1. Anas bin Malik Radhiyallohu ‘anh meriwayatkan:
[Pada masa Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam, ada dua orang saudara. Salah satu dari mereka datang kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam (untuk mencari ilmu pengetahuan) dan satunya lagi bekerja (mencari nafkah untuk mereka). Saudara yang bekerja akhirnya mengeluh kepada Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam karena saudaranya (yang mencari ilmu tidak membantu pekerjaannya). Nabi Sholallohu ‘alaihi wasallam lalu bersabda kepadanya:

لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ

“Sangat mungkin kamu mendapatkan rizki sebab dirinya (saudaramu yang mencari ilmu).”[5]]

Syekh Muhammad bin Allan mengomentari hadits ini:

[Sangat mungkin usahamu menjamin kehidupan saudaramu itu menjadi sebab dimudahkan rizkimu, karena sesungguhnya Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba mau menolong saudaranya. Hadits ini menjadi dalil bahwa pencari ilmu dijamin rizkinya oleh Allah. Jalan-jalan rizki dimudahkan baginya karena ia tidak menghiraukan kebutuhan pribadi dan berpasrah sepenuhnya kepada Allah].[6]

  1. Mani’ Ad Dailami Radhiyallohu ‘anh meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَوْلَا عِبَادُ اللهِ رُكَّعٌ وَصِبْيَةٌ رُضَّعٌ وَبَهَائِمُ رُتَّعٌ لَصُبَّ عَلَيْكُمُ الْعَذَابُ صَبًّا…

“Andaikan saja bukan karena para hamba Allah yang ruku’, bayi-bayi yang menyusu, dan hewan ternak yang merumput, niscaya benar-benar disiramkan siksaan atas kalian…”[7]

  1. Ubadah bin Shamit Radhiyallohu ‘anh meriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْأَبْدَالُ فِى أُمَّتِيْ ثَلَاثُوْنَ بِهِمْ تُرْزَقُوْنَ وَبِهِمْ تُمْطَرُوْنَ وَبِهِمْ تُنْصَرُوْنَ

“Wali Abdaal, di kalangan umatku ada 30. Sebab mereka kalian diberi rizki. Sebab mereka kalian diberi hujan. Dan sebab mereka kalian diberi kemenangan.”[8]

  1. Jabir bin Abdillah Radhiyallohu ‘anh meriwayatkan sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam:

إِنَّ اللهَ لَيُصْلِحُ بِصَلَاحِ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ وَلَدَهُ وَوَلَدَ وَلَدِهِ وَأَهْلَ دُوَيْرَتِهِ وَدُوَيْرَاتٍ حَوْلَهُ وَلَا يَزَالُوْنَ فِى حِفْظِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مَا دَامَ فِيْهِمْ

Sesungguhnya Allah, sebab keshalihan seorang lelaki muslim, benar-benar selalu memperbaiki anaknya, anak dari anaknya (cucu), seluruh penghuni rumahnya, dan rumah-rumah di sekitarnya. Mereka senantiasa berada dalam penjagaan Allah Subhanahu WaRadhiyallohu ‘anha’ala selama ia berada di antara mereka.”[9]

Semakna dengan ini adalah riwayat Ibnu Umar Radhiyallohu ‘anh bahwa Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ لَيَدْفَعُ بِالْمُسْلِمِ الصَّالِحِ عَنْ مِئَةِ أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ جِيْرَانِهِ الْبَلَاءَ

“Sesungguhnya Allah, sebab seorang muslim yang shalih, benar-benar selalu menolak bencana dari seratus penduduk rumah tetangganya.”[10]

  1. Kepada Saad bin Abi Waqqash Radhiyallohu ‘anh yang merasa lebih daripada orang di bawahnya, maka Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ

“Tiadakah kalian diberikan kemenangan dan diberikan rizki kecuali sebab orang-orang lemah kalian?”[11]

Kekuatan hebat yang tidak dimiliki oleh orang kuat dan justru ada pada orang-orang yang lemah adalah seperti dijelaskan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ

“Sesungguhnya Allah menolong (memberikan kemenangan) umat ini adalah hanya karena sebab orang-orang lemah mereka; dengan do’a, shalat, dan keikhlasan mereka.”[12]

Dalil-dalil di atas semuanya dengan jelas menegaskan bahwa seseorang atau bahkan sebuah komunitas bisa mengambil manfaat dari amalan orang lain sewaktu di dunia.

Adapun kelak di akhirat, maka Allah Subhanahu WaRadhiyallohu ‘anha’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيْمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَتَهُمْ…

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan anak keturunan mereka yang mengikuti keimanan mereka, maka Kami pasti akan mempertemukan dengan mereka anak keturunan mereka…”[13]

Jadi Allah mempersilahkan orang tua memberikan syafaat kepada anak keturunan mereka dan begitu pula sebaliknya. Allah berfirman:

آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُوْنَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا

“Orang-orang tua kalian dan anak-anak kalian. Kalian tidak mengerti manakah di antara mereka yang lebih dekat bisa memberikan manfaat bagi kalian.”[14]

Jika demikian halnya, maka Q.S. an-Najm: 39 di atas tidak boleh dipahami zhahirnya begitu saja, karena hal ini menyebabkan ada paradoks dengan nash-nash lain. Sementara pada hakikatnya harus diimani bahwa Al-Qur’an dan hadits semuanya selaras dan saling memperjelas. Oleh karena itulah, maksud dari Q.S. an-Najm: 39 perlu dikaji secara mendalam sebagaimana kajian yang dilakukan oleh Imam Az-Zaila’i seperti berikut:

  1. Ayat Q.S. an-Najm: 39 dinaskh oleh Q.S. at-Thur: 21
  2. Q.S. an-Najm: 39 khusus berlaku bagi kaum Nabi Musa  dan Nabi Ibrahim  karena memang ayat ini menguraikan isi kandungan shuhuf beliau berdua.
  3. Maksud manusia dalam Q.S. an-Najm: 39 adalah manusia kafir. Adapun orang beriman, maka ia bisa memiliki apa yang diusahakan oleh saudaranya (orang lain) untuk dirinya.
  4. Prinsip keadilan memang demikian: seseorang tidak memiliki kecuali hasil usaha sendiri. Akan tetapi, jika standarnya adalah anugerah Allah, maka meski tidak menjalani usaha, tetap saja bisa memiliki pahala.
  5. Huruf Lam dalam teks Lil Insan bermakna ‘alaa. Maksudnya, manusia tidak mendapatkan bahaya apapun kecuali karena perlakuan buruknya sendiri sebagaimana ayat falahumulla’natu (laknat atas mereka)[15]
  6. Ayat Q.S. an-Najm: 39 hanya sekedar memutuskan harapan agar seseorang tidak bergantung kepada amal orang lain.
  7. Dalam tafsir Isyaari, kata sa’aa berbeda dengan masyaa. Kata pertama bermakna berjalan dengan cepat, sehingga dalam haji ada ritual Sa’i, yaitu berjalan dengan cepat (lari-lari kecil) antara Shafa dan Marwah. Sedang kata kedua berjalan biasa-biasa saja. Maksudnya bahwa manusia tidak akan memperoleh hasil apapun kecuali jika ia melakukan usaha secara total dan maksimal. Jadi Q.S. an-Najm: 39 di atas memberikan dorongan kepada siapa saja agar berjuang mencurahkan segala kemampuan untuk bisa memperoleh capaian-capaian yang bernilai tinggi.

Sementara itu Abu Bakar al-Warraq seperti dinukil oleh Imam al Qurthubi[16] mengatakan bahwa maksud “manusia tidak mendapatkan kecuali apa yang ia usahakan” adalah ia tidak mendapatkan kecuali apa yang ia niatkan, sebagaimana sabda Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wasallam:

…يَبْعَثُهُمُ اللهُ عَلى نِيَّاتِهِمْ

“…Allah kelak membangkitkan mereka sesuai dengan niat-niat mereka.”[17]

=والله يتولي الجميع برعايته=

 

[1]Q.S. an-Najm: 38

[2]Tafsir Ibnu Katsir, tafsir Q.S. an-Najm: 39

[3]H.R. Ahmad dalam al-Musnad, musnad Ma’qil bin Yasar no: 20179

[4]H.R. ad-Dailami-Ibnu Marduweh (lihat Tahqiq al Aamal fiimaa Yanfa’u al-mayyit minal a’maal, As-Sayyid Muhammad al-Maliki, hal 23)

[5]H.R. at-Turmudzi no: 2345, Kitab Az-Zuhdi, bab (33) At-Tawakkul Alallah

[6]Dalilul Falihin, juz 01, hal 243, cet. Darul Hadits, 1419 H

[7]H.R. ath-Thabarani dalam al-Kabir. H.R. al-Baihaqi dalam as-Sunan (Lihat Mafaahim Yajibu an Tushahhah, As-Sayyid Muhammad al-Maliki, hal 107, cet. Ke-11, 1425 H)

[8]H.R. ath-Thabarani (Lihat Mafaahim Yajibu an Tushahhah, As-Sayyid Muhammad al-Maliki, hal 108, cet. Ke-11, 1425 H)

[9]H.R. Ibnu Jarir (Lihat Mafaahim Yajibu an Tushahhah, As-Sayyid Muhammad al-Maliki, hal 108, cet. Ke-11, 1425 H)

[10]Ibid

[11]H.R. al-Bukhari no: 2896, Kitab Al-Jihad was Sair, bab (76) Man Ista’aana bid Dhuafa’

[12]H.R. an-Nasai no: 3175, Kitab Al-Jihad, bab (43) Al-Istinshar bid Dha’if

[13]Q.S. ath-Thur: 21

[14]Q.S. an-Nisa’: 11

[15](lihat Tahqiq al-Aamal fiimaa Yanfa’u al-Mayyit minal A’maal, As-Sayyid Muhammad al-Maliki, hal 6-7)

[16]Lihat Tafsir al-Qurthubi, tafsir Q.S. an-Najm: 39

[17]H.R. Muslim no: 2884, Kitab al-Fitan wa Asyrathis Saa’ah, bab ( (2) al-Khasf bil Jaisy Alladzi Yaummu al-Bait