Tidur Ketindihan — (Sleep Paralysis)

Oleh: dr. Nurhadji

 

Tidur Ketindihan

Pertanyaan:

Dok, saya mau tanya, pada saat tidur kadang kaki terasa kaku atau kram, kadang-kadang juga badan terasa sangat berat (orang mengatakannya ketindihan). Mengapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasi dan mencegahnya agar tidak terjadi lagi?

Faiz, Pasuruan

Jawaban:

Tidur Ketindihan atau ada juga yang menyebutnya kelindihan, yaitu kondisi ketika bangun tidur tapi semua tubuh tidak bisa digerakkan sehingga terasa seperti tertindih beban yang berat. Minta tolong pun tidak bisa, karena tidak bisa bersuara padahal (bahkan) inginnya berteriak. Kadang-kadang disertai halusinasi sehingga sering dikaitkan dengan hal yang mistis, bahkan banyak mitos yang dikaitkan dengan hal ini di banyak negara.

www.huffingtonpost.com

www.huffingtonpost.com

Kondisi seperti ini pernah dialami hampir semua orang minimal sekali atau dua kali dalam hidupnya. Secara ilmiah, fenomena ini dikenal dengan istilah “Isolated Sleep Paralysis” (ISP) atau sleep paralysis saja. Biasanya terjadi saat bangun ketika baru saja tertidur atau pada saat bangun tidur dari tidur yang normal.

Gelombang otak yang diukur pada saat tidur, menunjukkan adanya fase-fase tidur, mulai dengan fase 1, yaitu tidur ringan atau setengah sadar, fase 2 merupakan tahap tidur yang lebih dalam atau fase pertengahan, sedangkan fase 3 adalah fase tidur dalam, dan fase 4 adalah fase tidur yang paling dalam sehingga susah dibangunkan. Ada satu fase lagi, yaitu fase REM (Rapid Eye Movement).

REM adalah fase tidur yang unik. Ini karena keadaan otak saat tidur REM hampir sama dengan otak saat terbangun. Dinamakan REM karena memang pada fase ini, mata bergerak dengan cepat. Ketika tidur REM, otot tubuh lumpuh dan Anda biasanya tak bergerak. Mimpi biasanya terjadi pada fase REM ini.

Urutan fase tidur dan durasinya sejak mulai tidur, bisa dilihat pada grafik di bawah ini:

Konkes-1

 

Sleep paralysis (ketindihan) terjadi ketika gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan fase 1, tidak melalui fase 2, 3 dan 4 tapi langsung melompat ke fase REM (fase yang bisa terjadinya mimpi). Kemudian ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM, tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi.

Belum banyak data penelitian yang bisa secara memuaskan menjawab mengapa terjadi siklus tidur yang menyebabkan sleep paralysis (ketindihan). Namun disimpulkan bahwa ketindihan paling sering terjadi pada orang yang kurang tidur, kelelahan, stres, dan cemas berlebihan.

Sleep paralysis kemungkinan ditimbulkan juga oleh aliran darah yang tersumbat sehingga otak dan tubuh tidak lancar terhubung. Akibatnya ketika otak terbangun namun tubuh tidak dapat bergerak karena ada bagian otak yang masih memerintahkan bahwa tubuh sedang tidur. Penyumbatan aliran darah tersebut bisa berbahaya jika dibiarkan terus menerus

Pencegahan dan Cara Mengatasi

Berdasarkan dugaan penyebab terjadinya sleep paralysis atau ketindihan, maka hal-hal yang bisa diupayakan adalah sebagai berikut :

  1. Hindari Stres

Stres diduga penyebab terbesar sleep paralysis. Jaga pola hidup sehat secara fisik maupun psikis, misalnya hindari merokok, minuman beralkohol, kurangi asupan kafein dan hindari makan terlalu banyak terutama saat waktunya akan tidur. Usahakan cukupi kebutuhan tidur dan istirahat. Hindari hal-hal yang menyebabkan kecemasan saat akan tidur, bersihkan alas tidur sehingga nyaman, berwudhu serta berdoa menjelang tidur akan membantu menenangkan pikiran sebelum tidur.

  1. Pola Tidur

Buat pola tidur menjadi lebih teratur. Usahakan tidur pada kisaran waktu yang sama setiap malam, dan mengawalkan tidur sesudah Isya atau sekitar pukul 8 atau 9 malam supaya mudah terbangun bangun di penghujung malam untuk shalat malam. Ambil posisi tidur yang nyaman misalnya dengan berbaring miring sebelah kanan dan hindari tidur dengan posisi tengkurap.

  1. Upaya Gerakan Tubuh

Jika mengalami sleep paralysis, buatlah gerakan yang lebih kuat pada bagian tubuh yang masih bergerak pada saat kita tidur. Misalnya buat gerakan pada mata dengan cepat (ingat fase REM), buka kelopak mata, serta tarik napas sedalam mungkin dan keluarkan secara teratur karena saat tidurpun kita masih dikaruniai pernafasan yang masih teratur. Kemudian coba membuat gerakan pada ujung kaki, ujung tangan atau kepala, hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali.

  1. Jaga Mental

Kondisi sleep paralysis sering membuat panik dan ketakutan bahkan dapat memunculkan halusinasi sehingga terkadang terbayang adanya makhluk halus. Upayakan kendalikan pikiran untuk tidak panik dan berpikir positif, dengan cara berupaya berdzikir atau mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah. Sambil terus berusaha “melawan” dan menggerakkan anggota tubuh. Sikap yang tenang akan meminimalkan munculnya ketakutan dan bayangan-bayangan yang buruk

  1. Upaya Medis

Jika terlalu sering mengalami ketindihan atau sleep paralysis, maka sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk dievaluasi secara fisik maupun psikis sehingga bisa dicari tahu kemungkinan penyebabnya. Dengan demikian bisa diupayakan cara pencegahannya dengan lebih terarah.

***