Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Tiga Anak Kecil Itu Membuat Saya Malu | LAZIS AL HAROMAIN

Tiga Anak Kecil Itu Membuat Saya Malu

Noven Lukito H.S.

Santri Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah

 

Ini adalah pengalaman pribadi saya ketika mengikuti program Kuliah Kerja Nyata Universitas Airlangga. Sore itu, Saya dan  beberapa teman KKN saya diajak bermain billyard  ke suatu warung  di  daerah Torjun, Sampang, Madura. Kebetulan saya sedang puasa. Ketika Maghrib tiba, saya mencari warung untuk berbuka.

Saat itu hujan turun agak deras. Dengan meminjam  jas hujan pemilik warung , saya mencari warung nasi terdekat. Beruntungnya, di sana ada warung yang menjual makanan ringan. Sembari memanggil pemilik warung, saya melihat ada sekotak mie instan di sana. Tak  lama, ada nenek-nenek yang keluar ke ruang tengah. Saya pun memesan  mie instan kemudian menuju langgar terdekat.

Saya berjalan lurus ke selatan  sambil memakai jas hujan. Sejak awal, adzan maghrib itu dikumandangkan oleh suara anak kecil. Ketika saya sampai di sana, ada tiga anak kecil yang sama-sama mengumandangkan pujian. Mereka tertawa melihat saya. “Sandalnya di sana,” kata seseorang anak sambil menunjuk ke luar. Rupanya saya tidak sengaja melewati batas suci.  Langgar itu beralaskan semen. Bagian imam dan shaff depannya diberi karpet. Saya kira batas sucinya sampai di karpet.

Akhirnya saya keluar menaruh sandal sekaligus mengambil wudhu. “Wudhunya dimana?” Tanya saya. Sambil tertawa-tertawa kecil mereka menunjuk ke arah ruangan gelap di samping langgar.

Ada penampung air hujan panjang dari seng  yang mengarah ke ruangan gelap itu. Maklum, desa tersebut menggunakan sistem tadah hujan, karena sumber airnya tidak bisa dipakai. Awalnya  saya agak takut ada ularnya atau apa di dalam tempat gelap tersebut. Namun  setelah saya nyalakan lampu HP saya, ternyata air hujan mengalir jernih dan mengalirkan air segar dalam bak mandi tersebut.

Siingkatnya, saya wudhu dan kembali ke langgar. Tiga anak kecil  tadi  masih mengumandangkan pujian. Sampai mereka iqomah pun belum ada orang dewasa yang datang. Saya sempat bertanya, “Imamnya di mana dek?”. Barangkali ada imam yang mengisi masjid tersebut secara rutin.

Kemudian salah satu di antara mereka keluar melewati saya sambil menjawab, “Sebentar.” Kemudian dia berdiri di depan hujan dan berteriak lantang, “Pak, Bapak! Pak, Bapak!”

Tak lama,  ada bapak-bapak datang sambil membawa payung. Kami sempat saling tersenyum dan bersalaman  kemudian dia menjadi imam sholat kami berempat. Setelah sholat, tiga anak kecil  tadi tertawa  kecil  dalam wirid dan sesekali membaca keras bacaan-bacaan yang pendek seperti subhannallah, dll.

Setelah sholat saya kembali ke warung dan memakan mie yang saya pesan tadi. Nenek penjaga warung tersebut sedang duduk di kursinya. Saya pun meminta izin masuk ke warung untuk memakan mie pesanan saya sambil berbincang-bincang sedikit.

Saya bercerita kalau saya berasal dari pulau Jawa. Ternyata  nenek beliau dan orang tua beliau juga berasal dari pulau Jawa, tepatnya di Bojonegoro. “Njenengan saget boso Jowo Buk? (Anda bisa berbahasa jawa)?” tanya saya.

Oh, Saget. (Oh, bisa),” jawabnya.

Akhirnya pun kami bercerita panjang lebar. Rupanya daerah tersebut pernah dihuni oleh mayoritas penduduk dari pulau Jawa yang bekerja di salah satu  perusahaan  garam. Ketika beliau kecil, orang-orang di sana sering menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Namun karena pabriknya tidak  produksi  lagi, satu-persatu warga dari pulau Jawa pulang ke Jawa dan diganti warga lokal. Akhirnya bahasa Madura digunakan lagi.

Saya sempat bertanya tentang tiga anak di Langgar  tadi. Rupanya tiga anak itu sekolah di Madrasah yang sama. Mereka yang sering mengumandangkan adzan di sana. Bahkan  sholat subuh pun juga mereka yang mengumandangkan  adzan.  Nenek tersebut cukup prihatin dengan keadaan orang-orang dewasa yang kalah aktif dengan tiga anak itu dalam menunaikan sholat jamaah. Ya semoga saja, generasi mudanya mampu membawa perubahan di masa mendatang.

Saya jadi malu pada tiga anak tersebut. Sholat saya masih sering telat dan kurang ada semangat untuk mengumandangkan adzan. Selalu menunggu orang lain untuk adzan terlebih dahulu. Kemudian ketika iqomah baru bangkit. Akibatnya tak  jarang kebagian sholat  masbuk, menjadi makmum yang meninggalkan  rakaatnya.

Fasa, Fram dan Ferdy, itu nama ketiga anak tersebut. Semoga kita dapat mencontoh semangat mereka dan memiliki generasi penerus seperti mereka.

“Sekiranya orang-orang mengetahui akan rahasia  Keutamaan Azan Dan Rahasia Shaf Pertama, niscaya mereka akan berebutan meraihnya meski dengan cara mengundi. Dan seandainya mereka mengetahui rahasia keutamaan yang ada pada  waktu panasnya saat Zhuhur, niscaya mereka akan berebut mengerjakan shalat pada saat itu. Dan seandainya mereka mengetahui rahasia keutamaan yang ada pada waktu Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya untuk melakukan shalat keduanya walaupun harus dengan cara merangkak.” (HR Muslim).

 

“Sesungguhnya  para muazin itu adalah orang yang paling ‘panjang lehernya’ pada hari kiamat.” (HR Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah).

 

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (Al-Baqarah 45)