Tiga Golongan Penghuni Neraka

Oleh: Abdul Fatah.

Pembina Majelis Taklim

Al Isyraq Gresik

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

ثَلَاثٌ لَايَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَايَنْظُرُاللهُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ :

 الْعَاقُّ وَالِدَيْهِ,وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ الْمُتَشَبِّهَةُ بِالرِّجَالِ,وَالدَّيُّوْثُ.

Ada tiga golongan yang tidak bisa masuk surga dan Allah tidak mau melihat mereka pada hari Kiamat yaitu, (1) Anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, (2) Perempuan yang menyerupai orang laki-laki, dan (3) Dayyuts.

Derajat dan Rawi Hadits

Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, Imam al-Baihaqi, dan Imam Ahmad.

Imam Ahmad dan Imam adz-Dzahabi berkata hadits ini sanadnya shahih; dan Imam al-Haitsami mengatakan bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Bazzar dengan dua sanad dan rawi-rawinya tsiqah (terpercaya); dan masih banyak lagi pendukung hadits ini.

Syarah Hadits

Ajaran Islam adalah suatu bimbingan yang sesuai dengan fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dan memberikan petunjuk kepada mereka agar bisa selamat dunia dan akhirat. Petunjuk yang diberikan Allah kepada manusia berupa al-Qur’an dan as-Sunnah untuk dipelajari, dipahami, ditaati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Barang siapa yang menyimpang dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya serta mengabaikan perintah dan larangan-Nya, maka ia akan mendapatkan adzab. Allah Maha Adil dan Maha Kuasa untuk memasukkan manusia ke dalam surga ataupun neraka, tergantung pada amal perbuatan mereka dan Allah tidak sekali-kali berbuat zhalim kepada hamba-hamba-Nya.

Perintah dan larangan Allah kepada manusia pada hakikatnya adalah demi kemaslahatan manusia itu sendiri baik di dunia maupun di akhirat. Walaupun demikian, ada di antara manusia yang masih saja melanggar peringatan dan ancaman Allah itu. Maka sudah selayaknya bila Allah memberikan hukuman terhadap perbuatan mereka itu. Di antara sekian banyak larangan Allah dan Rasul-Nya itu yang wajib dijauhi dan haram hukumnya bila dikerjakan, yaitu:

Durhaka kepada Kedua Orang Tua

Banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam yang menerangkan tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dan haramnya mendurhakai keduanya.

Dalam bahasa agama kita/bahasa hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa anak yang berbakti kepada orang tua dinamakan “birrul walidaini”. Sedangkan anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya dinamakan ”’uququl walidaini”. Sedangkan yang kita bahas dalam tulisan ini adalah golongan orang-orang penghuni neraka di antara “’uququl walidaini” yaitu anak/orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

Perlu kita ketahui bersama bahwa orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya sangat sengsara hidupnya. Apalagi nanti di akhirat, di mana ancamannya justru lebih dahsyat lagi, yaitu sebagai penghuni neraka. Ia akan merasakan kesengsaraan yang berkepanjangan. Oleh karena itu, waspadalah dengan kedua orang tua kita, jangan sampai kita abaikan, kita remehkan, dan jangan sampai kita sakiti. Ini adalah termasuk perbuatan durhaka kepada kedua orang tua.

Jadi, “uququl walidaini” adalah perbuatan yang mencakup segala macam bentuk kejahatan yang dilarang oleh Islam yang dapat menyakiti hati orang tua, baik dalam bentuk ucapan, sikap, tingkah laku, maupun dalam bentuk perbuatan lainnya.

Orang yang durhaka kepada kedua orang tua bahayanya tidak hanya di akhirat kelak, akan tetapi di dunia pun sudah merasakan sebagian adzab Allah subhanahu wata’ala sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

…بَابَانِ مُعَجَّلَانِ عُقُوْبَتُهُمَا فِي الدُّنْيَا : الْبَغْيُ وَالْعُقُوْقُ .

Artinya: “… ada dua perbuatan yang disegerakan siksanya di dunia ini: berbuat jahat melampaui batas  dan durhaka kepada kedua orang tua.” (H.R. Imam al-Hakim).

Perempuan yang Menyerupai Laki-laki.

Zaman sekarang ini, media massa selalu membesar-besarkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dengan istilah “emansipasi wanita”. Para wanita menuntut agar haknya disamakan dengan orang laki-laki. Padahal Islam telah mengatur bahwa laki-laki berbeda dengan wanita. Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 36: Laki-laki tidaklah sama dengan wanita…”

Kebanyakan wanita zaman sekarang menuntut ingin disamakan dengan laki-laki dalam bidang pekerjaan, pakaian, hak waris, dan sebagainya. Media massa selalu mengangkat masalah ini dan menampilkan tokoh-tokoh wanita karir, hingga masyarakat beranggapan bahwa wanita karir adalah wanita yang modern, maju, dan sukses. Masyarakat menilai wanita yang mulia adalah wanita yang mampu menyaingi laki-laki di bidang pekerjaan, kedudukan, penghasilan, kekayaan, dan lain sebagainya, sementara rumah tangganya hancur berantakan, masing-masing anggotanya tidak mau tahu, masa bodoh tentang hak dan kewajiban sebagai istri yang seharusnya ditunaikan.

Padahal dalam Islam, wanita memakai pakaian laki-laki dan begitu juga laki-laki memakai pakaian wanita saja Nabi mengancam dengan laknatnya, sebagaimana hadits: ”Rasulullah melaknat laki-laki yang mengenakan pakaian wanita dan wanita yang mengenakan pakaian laki-laki.” (H.R. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim). Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda: “Bukan dari golongan kami, wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.” (H.R. Imam Ahmad, Abu Nu’aim). Dan masih banyak lagi hadits yang lain yang berkenaan dengan ancaman terhadap orang yang tasyabbuh/wanita yang menyerupai laki-laki begitupun sebaliknya. Maka pantaslah Allah memasukkan mereka dalam neraka bahkan melihat pun Allah tidak mau, karena tasyabbuh itu termasuk bagian dari dosa besar. Na’udzubillah min dzalik.

Dayyuts

Yang juga termasuk golongan penghuni neraka adalah “dayyuts”, yaitu orang yang membiarkan, tidak peduli, dan masa bodoh terhadap keluarganya yang melakukan kesalahan, kemaksiatan, dan kemungkaran yang seharusnya ia mengontrol, mengawasi, menjaga dan membimbingnya. Sebagaimana firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai  Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. at-Tahrim: 6).

Dalam ayat di atas ada lafadz ”quu anfusakum wa ahliikum naaraa”, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka. Ayat ini menurut mufassir Ibnu Abbas, beramallah dengan ketaatan kepada Allah, takutlah berbuat maksiat, dan perintahkanlah kepada keluargamu, dan ingat kepada Allah, ingat hukum-hukum-Nya, niscaya Allah akan menyelamatkan kalian dari api neraka.

Jika seorang ayah atau suami berdiam diri dan merasa aman terhadap pengaruh jahiliyah padahal istri dan anaknya telah terperangkap dalam adat istiadat jahiliyah, telah melanggar syari’ah Islam, maka ayah/suami yang demikian dinamakan Dayyuts. Seperti orang yang membiarkan istrinya berpakaian yang tidak Islami, membuka aurat di depan laki-laki lain yang bukan mahramnya, membiarkan putra-putrinya dalam pergaulan bebas, malah zaman sekarang ini banyak putra-putri yang terperangkap dalam perzinaan dan itu sudah dianggap biasa, sudah tidak ada rasa takut sama sekali dengan adzab Allah, karena dangkalnya aqidah, rusaknya moral, dan salah pergaulan. Itu semua disebabkan oleh kedua orang tuanya tidak menjaga, mengawasi, dan mendidiknya secara Islami. Padahal itu semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah di akhirat kelak.

Kesimpulan hadits

  1. Wajibnya berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidaini) dan larangan/haramnya durhaka kepada keduanya.
  2. Durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa besar tempatnya nanti  adalah neraka.
  3. Haramnya wanita yang tasyabbuh/menyerupai laki-laki, begitu pula sebaliknya.
  4. Bagi orang tua wajib membimbing dan mendidik putra-putrinya ke jalan yang Islami agar tidak tergolong Dayyuts.

Demikianlah pada dasarnya manusia akan bertanggung jawab atas segala urusan yang menjadi bebannya. Wallahu a’lam bish shawab.

Maraji’:

  1. Al Rasail, Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
  2. Fathul Baari: x/258-259.
  3. Imam al-Hakim: iv/177.
  4. Jami’ush Shaghir, no. 2810.
  5. Imam al-Bukhari, no. 2654.
  6. Imam Muslim, no. 87-88.
  7. Imam at-Tirmidzi, no. 2301.

Abu Dawud, 4098, Ahmad, 11/325.