Tugas Kita Hanyalah Menjadi Baik

Perempuan itu pergi begitu saja tanpa berterimakasih. Seolah-olah memang sudah sepatutnya dia mendapat perlakuan yang baik sebagai pengemis yang harus dikasihani. Tiba-tiba hati merasa kecewa dan percuma. Sungguh tidak tahu diri. Apa susahnya sih, berterimakasih?

pengemisAku pun meneruskan jalanku dengan masih membawa segenap kekecewaan itu. Seandainya perempuan itu tahu, bahwa untuk aku mendapatkan uang ribuan itu bahkan tidak mudah, semudah dia menyodorkan tangan. Demi karena hati ini ingin berbagi, meski sedikit demi kebaikan dan meringankan beban orang lain.

Kejadian kecil seperti itu tidak hanya sekali. Sungguh membuatku mengumpati diri. Kebaikan yang kulakukan, seolah salah sasaran. Lalu timbul pikiran, besok-besok harus mikir dua kali jika mau berbagi dengan orang. Daripada begini hasilnya.

***

pengemis-2Suatu hari, saat aku sedang berdiri didekat toko buku didatangi seorang lelaki peminta-minta lagi. Bajunya lusuh, kumal, dan robek-robek. Namun aku biarkan saja, sebab masih kuingat pengalaman-pengalaman sebelumnya. Biar saja. Sekali-kali aku tega. Meski sejujurnya dalam hatiku mengatakan betapa jahatnya aku. Aku memberikan kode ‘tidak’ dengan tangan kananku, dan berpura-pura sibuk dengan HP-ku.

Saat menuju parkiran motor, aku tidak sengaja menemukan peminta tadi sedang mengorek-orek sampah. Memilah sisa roti dan makanan yang sudah berbaur dengan bau busuk. Lalu dimasukannya kedalam saku-saku celana dan bajunya. Tiba-tiba aku melihat anak-anak remaja yang sedang berwisata sengaja melempar botol-botol minuman kearah bapak itu sambil tertawa puas.

Aku geram sekali. Langsung aku berlari berusaha melindungi bapak tua itu. Kukira, ia akan memarahi remaja-remaja yang tidak tahu diri lagi menghormati orang lain itu. Karena ternyata ia tidak marah sama sekali, maka akulah yang akhirnya tersulut untuk memarahi anak-anak alay yang tidak tahu diri. Namun, belum lagi aku berteriak untuk memberi mereka pelajaran, si Bapak meredam kemarahanku. Sungguh, hatinya sangat pemaaf.

Air mataku menetes. Aku sengaja mengikuti dan menemani si Bapak memunguti sampah demi sampah. Lelaki itu tidak punya rumah. Anaknya empat dan masih kecil-kecil. Sisa-sisa makanan di saku-saku celana dan bajunya itulah yang nanti akan diberikan kepada mereka. Di sekitar Malioboro mereka tinggal dalam kontrakan yang kumuh nan sempit. Istrinya pergi meninggalkan mereka karena tidak tahan.

Karena setengah jam lagi masuk jam kuliah, maka aku pun berpisah dengan si Bapak. Kubelikan jus buah untuk anak-anaknya. Sisa uang yang ada kuberikan padanya tanpa berpikir dua kali lagi. Bukan karena aku memiliki banyak uang sehingga melakukan semua itu. Lagipula, tidak seberapa. Dibandingkan rasa indahnya berbagi yang tak bisa digantikan oleh apapun.

Dan rasa itu, mudah saja bagi syaitan mengubahnya menjadi enggan berbagi dengan kemasan kekhawatiran akan sia-sianya berbuat kebaikan. Khawatir salah sasaran, salah satunya. Dan kekecewaan bila kebaikan yang kita lakukan dibalas dengan perbuatan yang tidak menyenangkan. Atau bahkan disalahgunakan. Ikhlas memang seringkali menyakitkan. Sakit inilah yang lambat laun akan mengikis harapan dan anggapan kebaikan kita akan dibalas setimpal oleh manusia.

***

indexAdalah Ummu Misthah binti Abi Rum, kerabat yang pernah disantuni dan dipenuhi kebutuhan hidupnya oleh Sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq. Tanpa disangka, ia justru termasuk orang yang gencar menyebarkan issu fitnah Aisyaht, puteri Abu Bakar.

Ummul mukminin dituduh melakukan perbuatan hina dengan salah seorang shahabat. Bukankah seharusnya mereka menjadi garda terdepan dalam membela keluarga Abu bakar? Hingga, Abu Bakar memutuskan untuk tidak lagi menyantuni Ummu Misthah dan keluarganya. Lumrah, dan sangat manusiawi. Tentu fitnah keji putrinya sangat menyakitkan hati.

Abu Bakar bukanlah sembarang orang. Ia adalah orang yang dekat dengan Allah dan Rasul-Nya. Dan maaf berlaku untuk semua jenis sakit hati. Tak peduli seberapa dalamnya luka. Karenanyalah Allah akan menambahkan kemuliaan bagi para pemaaf. Dan demikianlah ketika kemudian turun ayat Allah “menegur” sikap itu, Abu Bakar kembali memberi santunan kepada Ummu Misthah.

***

Dalamnya luka hati, seringkali membuat hati dan pikiran kita menjadi sempit. Padahal tugas kita hanyalah berbuat baik. Terus, dan terus. Jika pun kita tidak menerima feedback yang baik, dan diluar dugaan, tidak menyenangkan, anggap saja berbuat baik memang keharusan kita sebagai hamba Allah.

Memang dalam realitanya, dalam hubungan sosial tidak ada jaminan bahwa kebaikan yang kita lakukan akan dilihat sebagai suatu hal yang baik oleh orang lain. Apalah lagi dibalas dengan kebaikan. Berharap begitu, sama saja menunggu kekecewaan.

Kita perlu terus berhati-hati untuk tidak terpancing berkeputusan atau membalas perlakuan orang lain yang tidak menyenangkan. Sebab kerugianlah yang akan kembali pada kita.

Selain menyadari hanya Allahlah sebaik-baik pembalas, terkadang kita perlu menerima kenyataan bahwa sangat mungkin sebaik apapun kita, ternyata bukan termasuk hal yang berarti bagi yang lain.Sangat wajar, bila mungkin hal tersebut menyisakan kekesalan dan penyesalan, namun fakta kehidupan membuktikan bahwa penyesalan tidak akan mengubah keadaan.

Abadikan kebaikan kita dengan melupakannya. Amat disayangkan jika kita mengungkit-ungkitnya saat hati terluka. Kita perlu menyadari bahwatidak ada orang baik sepanjang waktu. Juga tidak ada orang yang buruk sepanjang waktu.

Berapa kali kita terjebak dan terbalik dalam ranah senang mengingat kejelekan orang lain, ketimbang kebaikannya. Dan berlama-lama mengingat kebaikan, daripada kejelekan diri?

Wallahu a’lam bish-shawaab.