Ulama yang Berjuang, Ulama yang Dinista

Oleh: Handaka Indra S.

Direktur Lazis alHaromain

 

indexPeran para Ulama dalam melahirkan dan menjaga NKRI tidak dapat diragukan lagi. Sejak datangnya penjajah di negeri  ini pada abad 16, para Ulama telah melakukan perlawanan yang gigih melalui Kesultanan dan Kerajaan Islam nusantara. Salah satu contohnya adalah pada tahun 1512 dan 1513 Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Adipati Unus melawan penjajah Portugis yang telah melakukan monopoli dagang di Selat Malaka saat itu. Perlawanan terhadap penjajah Portugis yang lain juga  dilakukan oleh Kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Alaydin Syach pada tahun 1537-1547, di Sunda Kelapa perlawanan dilakukan oleh Fatahilah pada tahun 1527, di Ternate oleh Sultan Baabullah pada tahun 1577, dan lain sebagainya. Pada saat penjajah Belanda datang tahun 1602 pun tak henti mendapat perlawanan para pejuang nusantara yang dipimpin oleh para ulama. Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien adalah beberapa di antara ribuan Ulama yang gagah berani mengusir penjajah Belanda dari bumi pertiwi.

Munculnya gerakan perjuangan para pemuda jelang kemerdekaan pun tidak lepas dari spirit yang digelorakan para ulama. Sebut saja K.H. Hasyim ‘Asy’ari pendiri Nahdhotul Ulama, K.H. Ahmad Dalan pendiri Muammadiyah, HOS Tjokro Aminoto pendiri Syarikat Islam. Dari perjuangan mereka lahir tokoh-tokoh muda yang melahirkan bangsa dan negeri ini semisal Ir. Soekarno, K.H. Wachid Hasyim, M. Hatta, Kahar Mudzakkar, dan lain-lain. Setelah kemerdekaan dikumandangkan oleh Proklamator Ir. Soekarno dan M. Hatta, ujian mempertahankan kemerdekaan datang bertubi-tubi mulai dari agresi militer oleh tentara sekutu tahun 1945, pemberontakan PKI di Madiun 1948, pemberontakan DI/TII, dan pemberontakan G30 PKI.  Lagi-lagi ulama hadir mengambil peran penting menyelesaikan persoalan bangsa tersebut. Resolusi jihad yang dikumandangkan K.H. Hasyim ‘Asy ‘ari dari Ponpes Tebu Ireng Jombang membahana sehingga Bung Tomo mengumandangkan takbir menggerakkan seluruh rakyat mengusir para agressor Sekutu. Ulama pun menjadi tulang punggung penumpasan pemberontakan PKI 1948 dan 1965, serta senantiasa menjadi mediator konflik-konflik sosial kemasyarakatan yang lain.

Tidak berhenti di sini, perjuangan ulama senantiasa menyertai perjalanan bangsa ini. Melalui pondok-pondok pesantren, majelis-majelis taklim, pengajian-pengajian para ulama mendidik masyarakat sehingga aqidah dan akhlaq umat terselamatkan dan kemaksiatan dapat dicegah. Pada suatu kesempatan, Habib Riziek Shihab berpesan pada Aa Gym yang sedang menjenguknya. “Aa yang menanam, Habib yang membasmi hamanya” yang menggambarkan contoh sinergi antar ulama dalam perjuangan di tengah umat yang saling melengkapi, yakni amar makruf nahi munkar.

Akan tetapi, walau sedemikian besar perjuangan ulama dalam memperjuangkan dan mengawal NKRI, ternyata akhir-akhir ini masih banyak pihak yang gagal paham dan justru menistakan para ulama. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) Gubernur DKI telah menistakan agama Islam dan Ulama. Ironisnya, justru banyak pihak yang membela dan melindungi. Untuk menetapkannya sebagai tersangka dan mengawal persidangan saja harus dengan gelombang aksi umat Islam besar-besaran. Pemerintah dan aparat pun seolah sudah terbeli oleh kekuatan 9 Naga yang memback up Ahok dengan kepentingan-kepentingan jahat laksana penjajah super modern (neo kolonialisme) sehingga tidak bisa menangkap suara umat Islam, penduduk mayoritas negeri ini.

Yang lebih runyam lagi, saat ini justru para Ulama GNPF MUI satu persatu dicari-cari kesalahannya dan dijadikan tersangka. Kini umat Islam dan para Ulama pun juga terancam untuk dipecah belah. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa memberikan kesabaran, pertolongan, dan kemenangan kepada umat Islam. Aamiin.