Wanita Sebagai Pendidik Generasi

Oleh: K.H. M. Ihya Ulumiddin

 download (20)

Q.S. al-Baqarah:223

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ…

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu…”

wanita-pendidikan-tinggiiii Analisa Ayat

 

Dalam ayat ini Allah menyebutkan kata harts yang artinya adalah mengolah tanah dengan peralatan sehingga menjadi layak untuk bercocok tanam di tanah itu disertai harapan agar memperoleh hasil yang baik pula.

Dalam tata bahasa Arab,penyerupaan wanita dengan tanah untuk bercocok tanam adalah sebuah penyerupaan yang sangat dalam (tasybiih lathiif) sebagaimana anak keturunan diserupakan dengan tanaman dalam salah satu isi khutbah Abu Thalib dalam proses lamaran Rasulullah shalallahu alihi wasallam kepada Sayyidah Khadijah radhiyallahu Anhu:

اْلَحمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَنَا مِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيْمَ وَزَرْعِ إِسْمَاعِيْلَ

Segala puji bagi Allah Dzat yang telah menjadikan kita sebagai keturunan Ibrahim dan tanaman Ismail.[1]

 

Ini karena penyebutan wanita sebagai tempat bercocok tanam bisa diberi arti dari dua sisi:

  1. Sisi pemahaman (mafhum) yang terkait dengan hubungan biologis yang bisa dilakukan sesuai dengan cara yang diinginkan dengan niat ibadah.
  2. Sisi tekstual (manthuq) yang memberikan isyarat agar wanita diposisikan sebagai pondasi dalam pendidikan Islam, yaitu dengan mendidik dan membimbingnya agar bisamenjadi pendidik generasi (murabbiyah) karena faktor kedekatannya kepada anak sejak pada awal perkembangan.

Dalam kenyataan, tidak semua tanah layak untuk dijadikan sebagai sawah ladang karena memang Allah Umenciptakan tanah dengan karakter yang berbeda-beda. Rasulullah shalallahu alihi wasallam bersabda:

[Perupamaan petunjuk dan ilmu yang aku diutus oleh Allah untuk membawanya adalah seperti hujan dengan curah tinggi yang turun ke tanah.Maka ada 1) naqiyyah, tanah yang subur yang bisa menerima (menyerap) air dan menumbuhkan padang rumput dan banyak rerumputan. 2) ajaadib, tanah-tanah gundul (gersang) yang bisa menahan air sehingga melalui tanah ini Allah memberikan manfaat kepada manusia sehingga mereka bisa minum, mengangsu air, dan menanam. 3) dan ada tanah lain yang hanyalah sebuah tanah padas (qiiaan) yang tidak bisa menahan air, juga tidak bisa menumbuhkan rerumputan.

Demikian itulah perumpamaan orang yang mengerti agama Allah, bisa mendapatkan manfaat dari apa yang aku diutus oleh Allah (untuk membawanya), ia mengerti dan lalu mengajarkan, dan orang yang sama sekali tidak menengadahkan kepalanya serta sama sekali tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus untuk membawanya.][2]

Sebagai diumpamakan tanah untuk bercocok tanam yang berarti tidak semua tanah bisa digunakan bercocok tanam, begitu pula halnya wanita. Tidak semua wanita bisa melahirkan dan menjadi ibu yang baik bagi anak-anak, yang oleh karena itu, Rasulullah shalallahu alihi wasallam berpesan kepada para calon suami dan ayah supaya berusaha melakukan pilihan-pilihan, dan tidak sembarangan di dalam mempersunting wanita yang akan dinikahi.Beliau mengajarkan:“Nikahilah wanita yang penuh kasih sayang (al-waduud) dan bisa banyak melahirkan (al-waluud) karena sesungguhnya kelak pada hari Kiamat aku berbangga dengan banyaknya kalian dengan umat-umat (terdahulu)”[3]Beliau juga memberikan peringatan:

إِيَّاكُمْ وَخَضْرَاءَ الدِّمَنِ

“Waspadailah oleh kalian wanita cantik yang tumbuh dalam lingkungan yang buruk.”[4]

 

Sebagaimana tanah yang baru menumbuhkan tanaman setelah dilakukan berbagai perlakuan dan perawatan tertentu, demikian pula seorang wanita. Jika diharapkan dari mereka menghasilkan produk generasi yang baik, maka mereka juga harus diberikan kesempatan untuk menjalani proses mengikuti pendidikan agama kuat dan cukup dibawah bimbingan seorang guru, serta diberikan bekal aneka macam ilmu yang dibutuhkan dalam kehidupan menjalani karier sebagai seorang pendidik.Pendidikan yang bukan hanya sekedar berhenti pada wawasan-wawasan, tetapi lebih dari itu sampai pada tingkat pelatihan-pelatihan yang terus-menerus sehingga betul-betul akan menjadi seorang wanita shalihah dengan predikat Qonitah, yaitu seorang wanita yang siap untuk selalu taat suami, tidak banyak omong, serta ahli dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.

Dari sini kiranya bisa dipahami kenyataan wanita sebagai salah satu obyek terpenting pendidikan karena posisinya sebagai wadah produksi. Selain itu, tentunya obyek terpenting lain adalah anak-anak sebagai hasil produksi yang diharapkan dan ditargetkan harus berkualitas, tanpa ada tawaran lain.“Dan hendaknya orang-orang itu merasa takut jika setelah mereka (tiada) meninggalkan anak-anak keturunan yang lemah (iman dan ilmu) sehingga mereka merasa khawatir atas mereka…”[5]

Sebagaimana lahan pertanian yang diharapkan bisa menjadi lumbung makanan dan harus dijaga kelestariannya, dalam Islam pentingnya posisi wanita untuk populasi dan pendidikan generasi juga bisa dimengerti dari eksistensi wanita yang sangat dilindungi. Dalam perang misalnya, Islam mengajarkan supaya orang lemah, anak-anak, dan wanita tidak dibunuh agar populasi manusia tetap terjaga menuju jumlah wanita yang pada akhir zaman dalam skenario Allah disabdakan Rasulullah shalallahu alihi wasallam:

وَيَقِلُّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرُ النِّسَاءُ حَتّى يَكُوْنَ لِخَمْسِيْنَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

lelaki sedikit dan wanita menjadi banyak sehingga akan terjadi 50 wanita hanya memiliki seorang lelaki yang mengurusi.”[6]

=والله يتولي الجميع برعايته=

 

[1]Lihat at tahrir wa at tanwir 2/371

[2]H.R.al-Bukhari no:79,Kitab al-Ilmi, bab (20) Fadhli Man Alima wa Allam

[3]H.R. Abu Dawud no:2050

[4]H.R. Qudha’i-Dailami

[5]Q.S. an-Nisa’:9

[6]H.R.al-Bukhari no:4933