Waspadalah! PluralismeTelah Meracuni Kita

Oleh : Handaka Indra S.

Direktur Lazis alHaromain

Pluralisme dalam beragama benar-benar telah meracuni sebagian kaum muslimin bahkan para tokoh dan ulama. Seorang Ulama muda di Jawa Barat yang bernama Imanul Haq dalam sebuah talkshow televisi swasta yang telah diviralkan di medsos mengatakan “Agama itu akan dilihat dari apa yang kita kerjakan, jangan tanya apa agamamu! Tapi lihatlah apa yang dikerjakan temanmu padamu.  Orang  yang jujur, berdedikasi, dan shalih pasti mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah subhanahu wata’ala apa pun agamanya”. Pendapat dan pemikiran seperti ini diamini dan mendapat  aplaus luar biasa dari semua penonton yang hadir. Jika kita telisik lebih jauh maka pemikiran seperti ini memang dikembangkan oleh orang-orang barat untuk menjauhkan kaum muslimin dari agamanya dan agar kaum muslimin tidak mempunyai semangat untuk mendakwahkan agamanya.

Selintas pemikiran tersebut seolah-olah benar. Pada hal sama sekali tidak merujuk pada dalil Al qur’an dan Al Hadits. Pemikiran tersebut adalah pemikiran sampah yang memang sengaja secara perlahan disuntikan kaum liberal pada kaum muslimin khususnya kaum intelektual muda Islam, bahkan para alumni pondok-pondok pesantren. Mereka memberikan beasiswa pendidikan pada para intelektual muda Islam untuk study S1, S2, dan bahkan S3 di negara barat. Akhirnya para intelektual muda Islam ini belajar Islam dari negeri barat  dan tidak dari nergeri dimana Islam dilahirkan.

Tidak cukup di situ, mereka juga membentuk dan membiayai kelompok-kelompok diskusi, dan para peneliti muda Islam. Hal seperti ini sudah bukan menjadi hal yang rahasia lagi ditengah-tengah umat Islam Indonesia dan dunia. Tapi aneh bin ajaib, walau kita tahu siapa mereka dan apa tujuan mereka melakukan hal ini semua, justru banyak intelektual muda Islam yang kepincut danbergabung. Salah satu contohnya adalah kelompok diskusi Utan Kayu Jakarta yang terang-terangan memproklamasikan “Jaringan Islam Liberal” atau yang lebih kita kenal dengan JIL. Kelompok ini sering melontarkan ide dan pemikiran yang konroversial,seperti nikah sejenis, hukum waris tidak adil, mengusulkan pencabutan kurikulum agama dari sekolah  dan lain sebagainya.

Menurut Dr. Dzakir Naik sebaik apa pun seseorang itu (jujur, suka menolong, tidak korupsi dan lain sebagainya) maka kebaikan itu akan sia-sia jika orang tersebut tidak memeluk Islam. Ibarat seseorang yang pandai sekali kemudian ia tidak daftar sebagai mahasiswa Universitas tertentu maka mustahil orang tersebut diterima menjadi mahasiswa universitas tersebut, apalagi mendapatkan ijazah. Bukankah Allah sendiri berfirman “innaddiina ‘indallaahil Islam” yang artinya sesunggunya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam?, bukankah Rasulullah s bersabda bahwa agama Islam adalah agama yang tinggi (mulia) dan tidak ada yang melebihi kemuliaan agama Islam?. Lalu dari mana dalil pendapat bahwa seseorang yang baik, apapun agamanya akan diterima dan mendapat kemuliaan di sisi Allah s?. Taruhlah memang demikian, dengan maksud untuk mewujudkan perdamaian antar agama, bukankah Islam sudah punya aturan dan batasan yang jelas, yaitu “Lakum diinukum waliyadiin” yang artinya bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Mengapa kita yang sudah alim akan agama ini bergelar Ustadz atau Kiai justru merendahkan Islam sebagai agama yang lengkap dan sempurna ini?.

Sebaliknya kita sering mendapati saudara-saudara kita yang baru masuk Islam secara tulus dan melalui kajian mendalam, rata-rata mereka memutuskan masuk Islam justru karena menilai Islam ini agama yang hebat, agama yang syari’atnya sempurna sejalan dengan fitrah manusia. Sebagaimana yang dituturkan oleh bapak Hanny Kristianto seorang misionaris asal Kalimantan yang masuk Islam sejak tahun 2012 bahwa hanya Islam, agama yang Tuhannya tidak kehihatan, hanya Islam yang mewajibkan umatnya untuk shalat 5 waktu yang sangat bermanfaat untuk merefresh tubuh di sela waktu kerja, 5 kali pula minimal diwajibkan berwudlu membasuh anggota badannya yang menunjukkan Islam agama yang cinta kebersihan, kejaiban-kejaiban dalam Al qur’an sangatlah banyak salah satunya adalah hanya Al qur’an kitab suci di dunia ini yang bisa dihafal.  Sehingga sekiranya seluruh alam semesta ini hancur maka hanya Al qur’an lah yang abadi.  Seharusnya kita yang menjadi muslim sejak kecil lebih paham akan kemuliaan Islam. Bukankah nikmat yang paling agung dalam hidup ini adalah keimanan dalam Islam, lalu mengapa juga masih ada diantara kaum muslimin yang menyemakan Islam dengan agama-agama yang lain? Bukankah yang demikian itu merendahkan Islam?

Wallahu a’lam.