Zakat Gaji dan Harta Gabungan

 

ZAKAT GAJI DAN HARTA GABUNGAN

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Ustadz, alhamdulillah saya sekarang bekerja di sebuah perusahaan ternama di Surabaya dengan gaji Rp 4.500.000,- per bulan. Dengan gaji sejumlah tersebut saya ingin membeli rumah 2-3 tahun lagi (saat ini masih kontrak). Tapi, saya teringat bahwa 2 bulan lagi bulan Ramadhan yang biasanya orang-orang mengeluarkan zakat. Ustadz, dengan gaji sejumlah tersebut apakah saya sudah wajib untuk mengeluarkan zakat (padahal saya belum punya rumah)?

Oh iya, Ustadz, teman saya nitip pertanyaan juga, teman saya saat ini baru berkeluarga yang istrinya juga bekerja yang kalau gajinya digabung menjadi Rp 5.500.000; per bulan. Ustadz, apakah gabungan gaji tersebut dikenakan zakat ataukah harus sendiri-sendiri?

Ahmad Shabirin, Surabaya

Pesona Sedekah

fulcra.asia

 

Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Hamidan lillah wamushalliyan wa musalliman ‘ala Rasulillah Sholallohu alaihi wasallam.

Di antara belas kasih Allah Subhanahu wata’ala kepada hamba-hamba-Nya adalah memberi mereka jalan keluar dan solusi untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di antara jalan tersebut adalah Allah menganjurkan mereka untuk berderma/bershadaqah bagi siapapun yang memiliki rasa ringan tangan baik dia mempunyai kelebihan harta atau tidak. Dan memerintah secara wajib kepada mereka yang mampu dan memiliki kelebihan harta untuk berzakat. Semua ini agar mereka meraih kebahagiaan dan keberkahan pada diri, keluarga dan harta benda. Karena zakat sebagai zat pembersih noda dan penangkal virus kemanusiaan dan kehartabendaan yang sewaktu-waktu datang menyerang dengan mengatasnamakan malapetaka. Allah telah memerintah Rasulullah untuk melakukan penarikan zakat dari mereka-mereka yang memiliki kelebihan harta lewat firman-Nya dalam al-Qur’an surat at-Taubah: 103, “Ambillah (wahai Muhammad) dari harta-harta mereka (yang lebih) shadaqah (zakat wajib) yang dapat membersihkan mereka (secara lahir) dan dengannya kamu dapat mensucikan mereka (secara batin).”

Jadi pada dasarnya zakat bukanlah suatu beban atau tekanan yang menjadikan seseorang merasa berat. Akan tetapi merupakan suata proses yang diambil oleh Allah sebagai jalan untuk menurunkan keberkahan dan jalan untuk membersihan jiwa dan raga mereka sendiri. Hanya dengan mengeluarkan biaya 2,5% dari kurs emas seberat 84 / 85 gram pada saat jatuh tempo wajib berzakat. Itupun kalau sudah memenuhi beberapa syarat, di antaranya sebagaimana berikut:

  1. Lebih dari kebutuhan diri dan keluarga yang wajib dinafkahi setiap hari menurut biaya kebutuhan orang yang setingkat dan sederajat dengannya.
  2. Selebihnya kebutuhan tersebut mencapai target satu nisab dengan kurs harga emas di atas.
  3. Milik sendiri secara utuh.
  4. Mencapai satu tahun tidak kurang nisabnya.

pada dasarnya zakat bukanlah suatu beban atau tekanan yang menjadikan seseorang merasa berat. Akan tetapi merupakan suata proses yang diambil oleh Allah sebagai jalan untuk menurunkan keberkahan dan jalan untuk membersihan jiwa dan raga mereka sendiri

Jawaban:

  1. Anda tetap berkewajiban mengeluarkan zakat dari hasil gaji sebuah pekerjaan Anda kalau memang memenuhi syarat-syarat di atas. Adapun urusan membeli rumah di masa mendatang tidak berpengaruh pada kewajiban tersebut. Yang penting gaji tetap Anda mencapai satu nisab selama satu tahun dan sudah lebih dari kebutuhan sehari-hari. Sebagaimana fatwa Syeikh ‘Athiyyah Shaqr pada bulan Mei tahun 1997 dalam dua masalah yang serupa dengan permasalahan Anda, yaitu :
  2. Masalah wajib zakat untuk gaji tetap yang mencapai satu nishab dalam setahunnya, dan sudah lebih dari kebutuhan sehari-hari:

هَلْ تَجِبُ الزَّكَاةُ عَلَى الرَّاتِبِ أَوِ الْأَجْرِ الَّذِى يَأْخُذُهُ الْإِنْسَانُ عَلَى عَمَلِهِ ؟ لَقَدْ حَدَّدَ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ وَالسُّنَّةُ النَّبَوِيَّةُ الْأَصْنَافَ الَّتِى تَجِبُ فِيهَا الزَّكَاةُ ، وَلَمْ يَرِدْ نَصٌّ خَاصٌّ فِى وُجُوبِهَا فِيمَا عَدَاهَا . إِلَى أَنْ قَالَ :

وَعَلَى هَذَا تَجِبُ الزَّكَاةُ عِنْدَهُ فِى عَائِدِ الْمُمْتَلَكَاتِ مِنَ الْعِمَارَاتِ وَالسَّيَّارَاتِ وَفِى الرَّوَاتِبِ وَالْأُجُورِ .

وَلَوْ وَجَبَتِ الزَّكَاةُ اشْتُرِطَ فِيهَا الْحَولُ وَالزِّيَادَةُ عَنِ الْحَاجَةِ

  1. Masalah harta yang disimpan/ditabung untuk pada kemudian hari akan digunakan membeli rumah. Maka rencana pada masa mendatang tersebut tidak mempengaruhi akan kewajiban zakatnya harta tersebut sebab hal tersebut termasuk urusan ghaib dan tidak dapat diprediksi:

عِنْدِى مَالٌ أَدَّخِرُهُ لِمَشْرُوعٍ يَنْفُذُ بَعْدَ سَنَتَيْنِ ، وَلَوْ أَخْرَجْتُ عَنْهُ الزَّكَاةَ نَقَصَ الْمَالُ وَتَعَطَّلَ الْمَشْرُوعُ . فَمَا رَأَى الدِّينُ فِى ذَلِكَ ؟

مَا دَامَ الْمَبْلَغُ وَصَلَ إِلَى حَدِّ النِّصَابِ وَحَالَ عَلَيْهِ الْحَوْلُ وَجَبَتْ فِيهِ الزَّكَاةُ مَا دَامَ فَائِضًا عَنْ حَاجَاتِكَ الْحَالِيَّةِ أَمَّا الْمُسْتَقْبَلَةُ فَلاَ عِبْرَةَ بِهَا، لِأَنَّ الْمُسْتَقْبَلَ غَيْبٌ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللّهُ ، وَالزَّكَاةُ نِسْبَتُهَا قَلِيلَةٌ جِدًّا (5 ، 2%) لَا تُؤَثِّرُ عَلَى الْمَشْرُوعِ تَأْثِيرًا وَاضِحًا ، وَالْمُبَادَرَةُ إِلَى أَدَاءِ حَقِّ اللهِ يُبَارِكُ اللّهُ بِهَا الْمَالَ

 

 

Kemudian mengeluarkan zakat tidak harus di bulan Ramadhan saja, akan tetapi pada dasarnya waktu kewajiban mengeluarkan zakat, terhitung setahun dari waktu memulai bekerja. Hanya saja kalau dikeluarkan di bulan Ramadhan yang penuh berkah, kemungkinan besar lebih afdhal, karena afdhal-nya masa.

 

  1. Penggabungan beberapa harta dari milik beberapa orang yang berbeda disebut dalam konteks fiqh sebagai “al-maal al-musytarak“ (الْمَالُ الْمُشْتَرَك), baik milik dua orang, maupun lebih. Status harta gabungan tersebut tidak wajib zakat, kecuali setiap harta milik perindividu telah mencapai satu nishab. Maka menjadi wajib zakat bagi setiap pemilik masing-masing menurut kadar banyaknya. Jadi sekalipun harta-harta tersebut dikumpulkan mencapai beberapa nishab, tapi kalau dipisah perindividu, untuk masing-masing tidak mencapai satu nishab, maka tidak wajib zakat semuanya, kecuali ada salah satu dari milik mereka telah mencapai satu nishab, maka hanya bagian dia saja yang wajib zakat. Ini pendapat mayoritas ulama’, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Fiqh as-Sunnah :

الزَّكَاةُ فِي الْمَالِ الْمُشْتَرَكِ : إِذَا كَانَ الْمَالُ مُشْتَرَكًا بَيْنَ شَرِيكَيْنِ، أَوْ أَكْثَرَ، لَا تَجِبُ الزَّكَاةُ عَلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ، حَتَّى يَكُونَ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ نِصَابٌ كَامِلٌ، فِي قَوْلِ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ.

Wallahu a’lam.

 

Al Maraji’ :

  1. ‘Athiyyah Shaqr, “Fatawa al Azhar“: 9 / 219 , 227
  2. Sayyid Sabiq, “Fiqh as Sunnah“: 1 / 382