Zakat Hasil Pertanian

Oleh: Ust Masyhuda

Di antara harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah hasil tanaman sebagaimana Allah subhanahu wata’ala berfirman:

…وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ…

“…dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (masa panen) …“[1]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

 

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…”[2]

 

Hasil tanaman ini wajib dizakati apabila telah mencapai nishab, yaitu 5 ausuq atau 60 sha’ (zakat fitrah 1 sha’) yang kurang lebih sekitar 750 kg beras atau 1.350 kg gabah[3]. Kurang dari lima ausuq, maka tidak wajib dizakati. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ فِيْمَا دُوْنَ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ…

“Tidak ada sedekah (tidak wajib zakat) dalam hasil tanaman yang kurang dari lima ausuq…”[4]

 

Kewajiban mengeluarkan zakat hasil pertanian ini menurut Imam asy-Syafii dalam al-Qaul al-Jadid (di Mesir) tanpa melihat apakah petani untung atau rugi ketika mendapatkan hasil tanaman tersebut.  Imam Nawawi menegaskan: “Intinya dalam madzhab (asy-Syafii) zakat tetap diwajibkan dalam segala jenis harta benda (meski memiliki hutang yang bisa menghabiskan harta benda atau menguranginya hingga tidak mencapai satu nishab) baik hutang kepada manusia maupun hutang kepada Allah seperti halnya zakat terdahulu yang belum terbayar, kafarat, maupun nadzar”[5]

Pendapat ini jelas termotivasi oleh sikap kehati-hatian (wara’) karena kaitannya dengan keinginan kuat agar seseorang benar-benar terlepas dari tanggung jawab.

Sementara dalam madzhab Hanafi, terbebas dari hutang adalah syarat wajib zakat selain zakat tanaman. Jadi dalam madzhab ini, seluruh jenis pertanian wajib dizakati terlepas apakah pertanian itu mendapat keuntungan atau justru merugi. Pendapat ini juga sejalan dengan madzhab Maliki di mana terbebas dari hutang bukanlah syarat wajib zakat tanaman, peternakan, dan pertambangan. Terbebas dari hutang hanyalah syarat wajib dalam zakat emas dan perak.

Madzhab yang menjadikan terbebas dari hutang sebagai syarat wajib zakat adalah Madzhab Hambali. Menurut madzhab Imam Ahmad ini, pertanian, perdagangan, atau harta benda apapun baru wajib dikeluarkan zakatnya jika semua hutang sudah dilunasi dan yang tersisa masih mencapai nishab, batas wajib mengeluarkan zakat. Jadi petani yang merugi tidak wajib mengeluarkan zakat. Ini berdasarkan ucapan Sayyidina Utsman radhiyallahu anhu:

هَذَا شَهْرُ زَكَاتِكُمْ فَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ فَلْيُؤَدِّهِ حَتَّي تُخْرِجُوْا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ

Ini adalah bulan zakat kalian. Barang siapa yang memiliki tanggungan hutang, maka hendaknya dibayar (dilunasi) dan baru (setelah itu) kalian mengeluarkan zakat harta benda kalian.”[6]

Pendapat ini juga selaras dengan pendapat Imam asy-Syafii dalam al-Qaul al-Qadim (di Iraq) bahwa hutang bisa menggugurkan kewajiban zakat seperti halnya haji yang menjadi tidak wajib bila seseorang masih mempunyai hutang. Sementara itu juga ada pendapat dari para murid Imam asy-Syafii (al Ash-haab) bahwa hutang bisa menggugurkan zakat harta benda yang tidak menampak (al-bathinah) seperti halnya emas, perak, dan aset perdagangan. Sementara hutang tidak bisa menggugurkan kewajiban zakat harta benda yang menampak (zhahirah) seperti halnya hewan ternak, tanaman, dan pertambangan. Perbedaan di antara keduanya adalah bahwa harta benda zhahirah bisa berkembang dengan sendirinya sementara harta benda al-bathinah tidak bisa berkembang dengan sendirinya dan butuh usaha untuk dikembangkan.[7]

 

Jumlah yang harus dikeluarkan

 

Penentuan jumlah yang harus dikeluarkan ketika hasil pertanian adalah ditentukan oleh pengairan; apabila ada biaya pengairan, maka hanya 5% dan jika pengairan tanpa mengeluarkan biaya maka 10%. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

فِيْمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُوْنُ…الْعُشُرُ وَفِيْمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشُرِ

“Dalam tanaman yang disirami (di-air-i) oleh hujan dan sumber…adalah 10% (al-Usyur) dan dalam tanaman yang disirami dengan (tenaga) unta  adalah 5% (nishf al-usyur).”[8]

Jenis hasil pertanian

 

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait jenis hasil tanaman yang wajib dizakati. Meski demikian akan sangat baik memiliki prinsip memilih pendapat yang wajib mengeluarkan zakat daripada yang tidak mewajibkan mengeluarkan zakat dalam rangka kehati-hatian (wara’), apalagi yang dikeluarkan pasti diberikan ganti oleh Allah dan bahkan diberikan tambahan berlipat ganda.

Secara nash tanaman pangan yang wajib dizakati adalah jenis biji-bijian sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

لَيْسَ فِى حَبٍّ وَلَا تَمْرٍ صَدَقَةٌ حَتّي يَبْلُغَ خَمْسَةَ أَوْسُقٍ…

“Tidak ada zakat dalam biji-bijian dan dan kurma sehingga mencapai lima ausuq…”[9]

 

Dalam madzhab asy-Syafii, biji-bijian yang wajib dizakati harus memiliki kriteria:

  1. Jenis tanaman yang sudah biasa ditanam oleh manusia
  2. Menjadi bahan makanan pokok (al-Quut) dalam kondisi normal
  3. Bisa dikeringkan
  4. Bisa disimpan

Dari kriteria ini, maka tanaman yang wajib dizakati adalah gandum, jagung, gabah, dsb. Dan lalu disamakan dengan ini adalah kacang-kacangan dan umbi-umbian  (ubi kayu, ubi jalar, kentang, jahe, dll).

Adapun buah-buahan maka secara nash yang wajib dizakati adalah kurma dan anggur. Tentang anggur Rasulullah shallallhu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّهَا تُخْرَصُ كَمَا يُخْرَصُ النَّخْلُ ثُمَّ تُؤَدّي زَكَاتُهُ زَبِيْبًا كَمَا تُؤَدّي زَكَاةُ النّخْلِ تَمْرًا

“Sesungguhnya anggur itu ditaksir sebagaimana penaksiran kurma, lalu dikeluarkan zakatnya dalam bentuk anggur kering (zabib) sebagaimana zakat kurma yang berupa kurma kering (tamar).”[10]

 

Selanjutnya disamakan dengan ini adalah buah-buahan lain seperti apel, apokat, papaya, nanas, dan sebagainya.  Atau juga sayur-sayuran seperti gubis, mentimun, lobak, cabe, bawang dan sebagainya. Adapun sabda Rasulullah shallallhu alaihi wasallam:

لَيْسَ فِى الـْخَضْرَاوَاتِ زَكَاةٌ

“Tidak ada zakat dalam sayur-sayuran…”[11]

 

Maka yang dimaksudkan adalah sayuran yang hanya diambil sebagiannya saja seperti bayam, kemangi, dsb. Sedangkan sayuran semacam kol, burkol, dan mentimun bukanlah khadhrawat, melainkan tsimar (buah-buahan).[12]

Sementara Imam Abu Hanifah memiliki ijtihad:

تَجِبُ الزَّكَاةُ فِى كُلِّ مَا يُقْصَدُ بِزِرَاعَتِهِ نَمَاءُ الْأَرْضِ فَيَجِبُ فِي جَمِيْعِ مَا تُنْبِتُهُ الْأَرْضُ إِلَّا الـْحَطَبَ وَالـْحَشِيْشَ…

Wajib zakat dalam semua jenis tanaman yang ditanam untuk mendapatkan keuntungan dari tanah. Jadi semua yang ditumbuhkan oleh tanam wajib dizakati, kecuali kayu dan rumput…[13]

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. al-An’am: 141

[2]Q.S. al-Baqarah: 267

[3]Lihat Ikhtisar Risalah Zakat, K.H. Ihya’ Ulumiddin, hal 5

[4]H.R. Muslim no: 979

[5]Lihat al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab, 5/344

[6](Diriwayatkan Abu Ubed dalam al-Amwaal) [Lihat al-Fiqhul Islami 2/747-748. Cet ke 3 Darul Fikr 1989]

[7](Lihat al Majmu’ Syarah Muhadzdzab 5/505-506)

[8]H.R. al-Bukhari no: 1483 dari Abdullah bin Umar t

[9]H.R. Muslim no: 979

[10]H.R. at-Turmudzi no:644 dari Attab bin Asiid t

[11]H.R. ad-Daruquthni no: 1893

[12]Lihat Ikhtisar Risalah Zakat, K.H. Ihya’ Ulumiddin hal 8

[13]Lihat al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafii. Imam al-Imrani, juz 03 hal 229