Zakat, Infaq, Sedekah (ZIS): Pilar Kemandirian Umat

Oleh: Handaka Indra S., S,Si.

Direktur Lazis alHaromain

 

Hikmah dan Pelajaran ABI 212

Hikmsetiap-orang-sebenarnya-unik-dan-berpeluang-untuk-sukses-ilustrasi-_120511113654-216ah dan pelajaran yang bisa kita petik dari Aksi Bela Islam (ABI) 3 yang dilaksanakan hari Jum’at, 2 Desember 2016 lalu sangatlah besar. Aksi yang juga dikenal dengan ABI 212 ini telah membuat mata dunia terbelalak dan kagum akan aksi terbesar dalam sejarah jagad kehidupan manusia di bumiyang berlangsung aman, tertib, dan aman. Bayangkan lebih dari 7 juta kaum muslimin dari berbagai ormasy Islam yang berbeda aliran madzhabnya berkumpul dalam satu tempat yang terbentang hingga lebih dari 15 km2 dengan maksud dan tujuan yang sama, yakni menuntut pengadilan terhadap penista agama Islam benar-benar ditegakkan. Peristiwa ini juga membuktikan betapa besar rasa senasib seperjuangan diantara kaum muslimin, sehingga mampu menanggalkan baju keorganisasian mereka demi wujudnya kekuatan aspirasi dan tuntutan umat Islam.

Tidak cukup di sini saja, akan tetapi rasa tolong-menolong diantara kaum muslimin juga tampak begitu kuat. Sebagai contoh, pada saat bus yang ditumpangi rombongan kami rusak di Tol Cipali dekat km 212 pertolongan datang bertubi-tubi. Petugas Jasa Marga memberi kami aqua, kue, dan dana untuk mendukung aksi Rp895.000,-.Kemudian datang mobil PJR Tol dengan kode mobil 212 memberikan bantuan tenaga servis mesin bus secara gratis. Selama bus berhenti, rombongan lain pun pada menghampiri dan menawarkan pertolongan. Dalam ABI 212 kekuatan bersedekah kaum muslimin pun sangat tampak sekali. Di sepanjang tempat aksi kawasan Monas dan sekitarnya kue, makanan, dan minuman meluber kemana-mana dan gratis semua. Hal ini menunjukkan betapa besarnya semangat kaum muslimin untuk membela agama dan ulamanya.

ABI 212 telah menyadarkan kaum muslimin untuk membangun kekuatan umat sehingga umat Islam tidak hanya menjadi obyek, dan pasar yang semata-mata justru menguntungkan orang-orang non muslim. Kasus Sari Roti misalnya, dimana owner perusahaan yang notabene orang Jepang membantah bahwa perusahan tersebut membantu ABI 212 dan menyatakan tidak kaitannya dengan ABI 212.Hal ini semakin menyadarkan umat Islam bahwa dalam makanan semacam roti pun kaum muslimin tergantung oleh non muslim. Apalagi dalam hal kebutuhan yang terkait dengan teknologi seperti handphone, motor, computer, dan lain sebagainya sudah barang tentu lebih tergantung pada non muslim. Sehingga pasca ABI 212 muncullah berbagai macam lembaga yang mengusung semangat kemandirian umat, seperti: Koperasi Syari’ah 212, Minimarket 212, Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I), Koalisina, dan lain sebagainya.

Dalam sebuah rapat kerja bidang usaha YP3I terungkap bahwa ketergantungan umat Islam terhadap non muslim dalam penyediaan berbagai kebutuhan hidup sudah meliputi hampir seluruh sendi kehidupan umat. Penyediaan beras, minyak, gula, jagung, kedelai dan lain-lain secara nasional dikuasai oleh segelintir orangyang menjadi mafia dan pada umumnya mereka adalah Cina non muslim (Aseng). Jika kita gosok gigi, mandi, keramas, cuci piring, pengharum badan hampir dipastikan pakai produk Unilever yang pabriknya di London Inggris, yang sudah barang tentu berarti kita hampir pada setiap kegiatan keseharian kita menyumbangkan keuntungan pada negara dan bangsa lain yang notabene mayoritas mereka non muslim. Hal seperti ini juga terjadi pada kebutuhan-kebutuhan yang lain, popok bayi, bedak, minyak telon, pembalut wanita dan lain sebagainya. Tampaknya ketidak mandirian umat Islam dan negeri ini sudah sangat parah.

Gerakan Galang Kemandirian Umat

jurnalislam.com-20161202-063200-index-jas2Kita bersyukur melalui mulut Ahok sang penista agama,Allah subhanahu wata’ala seolah menampar kita sehingga kita sadar dan bangkit untuk membagun kemandirian umat. Allah memang membolehkan bermuamalah dengan siapa pun termasuk dengan orang non muslim. Akan tetapi bukan rahasia lagi bahwa mereka juga mempunyai agenda untuk memporak-porandakan umat Islam dimana pun berada. Kita saat ini masih menyaksikan betapa negeri-negeri yang mayoritas penduduknya muslim diadu domba dan dihancurkan. Lihat saja apa yang terjadi di Sudan, Mesir, Palestina, Afganistan, Libiya, Irak, Syiria dan lain sebagainya. Saat ini kita juga bisa merasakan betapa di negeri kita ini juga sedang dalam upaya penghancuran secara sistematis oleh orang-orang non muslim. Ulama difitnah dan dikriminalisasi, umat disuntikkan virus liberalisme dan diadu domba, sebaliknya penista agama dipuja dan dibela. Wahai umat Islam sadarlah! Untuk kemudian bersama-sama kita bersatu untuk membangun kemandirian umat. Walau kita harus berjalan tertatih-tatih, jatuh dan bagun, atau bahkan merangkak sekalipun mari bersama-sama kita jalani. Bukankah Allah subhanahu wata’ala berfirman “Intanshurullaha yanshurkum, wayutsabbit aqdaamakum”?

Pasca ABI 212 umat Islam Indonesia tidak ingin kehilangan momentum untuk bangkit. Shalat shubuh berjama’ah di masjid menjadi sebuah gerakan nasional, tabligh akbar juga menjamur di mana-mana, begitupula kegiatan kajian ke-Islaman dan belajar baca Al-Qur’an. Selain itu juga berkembang gerakan boikot produk asing, boikot belanja di mall dan lebih mencintai belanja di toko tetangga.Gerakan “beli Indonesia” yang degelorakan kawan-kawan IIBF (Indonesia Islamic Bisnis Forum) pun semakin keras gaungnya. Bermunculannya lembaga-lembaga yang mendorong kemandirian umat, seperti YP3I, Koperasi Syari’ah 212, Minimarket 212, Koalisina dan lain sebagainaya adalah sebagian tanda-tanda kebangkitan umat Islam Indonesia. Kemunculan lembaga-lembaga ini hendaknya kita dukung dan kita sinergikan satu sama lain, sehingga upaya untuk melepaskan diri dari ketergantungan dengan bangsa lain segera bisa kita wujudkan. Kita harus yakin bahwa Allah s telah menganugerahkan potensi yang sangat besar pada umat Islam.

Salah satu contohnya adalah pesantren. Di negeri ini ribuan pesantren berdiri dengan jumlah santri yang mencapai jutaan. Alangkah besarnya potensi pesantren di negeri kita ini? Akan tetapi potensi pesantren yang sedemikian besar masih banyak menjadi pasar orang lain.Oleh karena itu pada tanggal 18 Maret 2017 diluncurkanlah YP3I di Ponpes Tebuireng Jombang dengan tujuan untuk membangun kemandirian pesantren sehingga potensi besar pesantren dapat digunakan untuk mengembangkan pesantren itu sendiri. Akan tetapi untuk pengembangan lembaga semacam YP3I dibutuhkan dana yang sangat besar, pun lembaga-lembaga yang se-visi dengan YP3I. Terkait dengan hal ini ada inspirasi yang sangat menarik pada saat rapat kerja bidang usaha YP3I baru-baru ini di mana sebuah lembaga zakat ternama di Surabaya memberikan pinjaman secaraqordul hasan(cuma-cuma/tidak ada bagi hasil) dana Rp20 M selama 5 tahun sebagai dana awal untuk pengembangan YP3I. Terbersit di benak saya, “Ya dana Zakat potensinya sangat besar”.Alangkah indahnya jika semua lembaga zakat bersinergi untuk mewujudkan kemandirian umat.

Perkembangan Potensi Zakat Nasional

Perkembangan potensizakat nasional berjalan seiring dengan perumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan hasil penelitian BAZNAS yang bekerjasama dengan IPB bahwa mengacu pada PDB tahun 2010potensi zakat nasional mencapai Rp217 Triliun. Dan pada tahun 2015 lalu potensi zakat nasional telah tumbuh menjadi Rp286 Triliun. Hanya saja sayang sekali, dari potensi yang sedemikian besar pada tahun 2015 potensi zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) yang berhasil dihimpun oleh berbagai badan atau lembaga zakat secara nasional baru sekitar Rp4 Triliun atau hanya kurang dari 1,4 % dari potensinya. Tetapi ada hal yang cukup menggembirakan terkait pertumbuhan penghimpunan ZIS yang dilakukan oleh badan dan lembaga amil zakat secara nasional, yaitu selama periode 2002-2015 pertumbuhannya mencapai 41%, yang artinya jauh melampaui rerata pertumbuhan ekonomi nasional pada periode tersebut yang mencapai 5,42%.Berikut ini tabel rekapitulasi penghimpunan ZIS yang dilakukan BAZNAS secara nasional 6 tahun terakhir:

NO. TAHUN JUMLAH PERTUMBUHAN
1. 2011 1,7 0 T 15,3%
2. 2012 2,20 T 27,2%
3. 2013 2,70 T 22,7%
4. 2014 3,30 T 22,2%
5. 2015 4,20 T 23,3%
6. 2016 5,80 T

Agar jangkauan manfaat ZIS lebih optimal maka pertumbuhan kapasitas penghimpunan harus terus dipacu. Upgrading SDM amil, pendampingan dan pembinaan kelembagaan zakat harus digalakkan terus. Mendorong para da’i untuk intens mengangkat tema-tema ZIS untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran umat akan pentingnya membayar ZIS. Pemerintah atau dalam hal ini Kemenag RI selaku regulator pengelolaan ZISharus konsisten mengimplementasikan UU no 23 tahun 2011 tentang pengelolaan zakat dan menggencarkan sosialisasi ZIS via berbagai media yang ada. InsyaAllah dengan berbagai upaya ini pertumbuhan kapasitas penghimpunan ZIS akan jauh meningkat, dan tidak menutup kemungkinan Zakat sebagai pilar kemandirian umat bisa diwujudkan. Sebagaiman catatan sejarah padamasa Kekhalifahan Umar bin Abdul Azis tahun 99H-102H di mana semua kaum muslimin taat membayar zakat, rakyat mandiri dan sejahtera sampai-sampai sulit rasanya menyalurkan zakat tersebut.

Jalan Menuju ZIS Menjadi Pilar Kemandirian Umat

Sebagaimana UU no. 23 tahun 2011, bahwa lembaga yang diperbolehkan penghimpunan ZIS di negeri ini adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) yang dibentuk oleh pemerintah dan atau Lembaga Amil Zakat yang mendapatkan ijin dari pemerintah baik lingkup nasional, provinsi, dan atau kabupaten/kota. Adapun data kelembagaan zakat tersebut adalah:

NO LEMBAGA JUMLAH
1. BAZNAS 1
2. BAZNAS Provinsi 34
3. BAZNAS Kabupaten/Kota 525
4. UPZ Kecamatan 5.150
5. UPZ Kelurahan 24.000
6. LAZ Nasional 8
7. LAZ Provinsi 21
8. LAZ Kabupaten/Kota 31
9. UPZ 9
  Total 38.450

Seiring dengan diimplementasikannya berbagai regulasi pengelolaan zakat di negeri ini, performa lembaga zakat dewasa ini sudah semakin profesional, amanah, transparan, dan akuntabel. Saat ini FOZNAS sudah merintis sekolah amil dan telah melakukan pelatihan SDM asesor kelembagaan zakat. Dan insyaAllah juga akan dilakukan sertifikasi Amil.

Di samping itu semua kelembagaan zakat juga didorong untuk mempunyai program-program pemberdayaan ekonomi mustahiq, dan tidak sebatas distribusi saja. Mustahiq dilatih keterampilan tertentu, diberi modal secara qordul hasan, dan didampingi sampai berhasil. Sehingga dalam waktu tertentu mustahiq menjadi mandiri dan berubah status menjadi muzakki. Di bidang Kesehatan, diberbagai daerah telah didirikan klinik atau rumah sakit yang sangat terjangkau atau bahkan gratis. Di bidang pendidikan, berbagai program beasiswa digulirkan diberbagai jenjang pendidikan bahkan sampai perguruan tinggi. Belum lagi di bidang dakwah, ribuan da’i dikirim ke daerah-daerah pedalaman, ribuan pesantren dan sarana ibadah dibangun. Oleh karena itu, pada saat ini seharusnya para muzakki tidak ragu lagi menyalurkan ZIS-nya melalui BAZ/LAZ yang ada. InsyaAllah dengan berzakat melalui BAZ/LAZ akan mempunyai manfaat yang jauh lebih besar.

Terkait dengan hal yang strategis untuk mewujudkan kemandirian umat, semisal wujudnya koperasi 212, minimarket 212, pemberdayaan ekonomi pesantren, dan bahkan adanya berbagai macam industri akan kebutuhan kaum muslimin, maka dibutuhkan koordinasi dan sinergi antar ormasy Islam, lembaga/Yayasan Islam, dengan berbagai kelembagaan zakat yang telah ada wabil khusus BAZ/ LAZ yang sudah berskala nasional semisal Dompet Dhu’afa, Rumah Zakat, BMH, LMI, YDSF, dan lain sebagainya. Sebagai salah satu contoh Dompet Dhu’afa selama ini telah menggandeng perusahaan roti yang dikelola kaum muslimin yaitu “Paroti”, hal semacam ini bisa dikembangkan oleh BAZ/LAZ yang lain dengan produk yang berbeda. Dengan demikian ke depan, umat Islam setapak demi setapak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dan sedikit demi sedikitlepas dari ketergantungan orang-orang non muslim.InsyaAllah.

[]