Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(best/intro.php): failed to open stream: No such file or directory in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3

Warning: include(): Failed opening 'best/intro.php' for inclusion (include_path='.:/opt/alt/php56/usr/share/pear:/opt/alt/php56/usr/share/php') in /home/lazisalh/public_html/wp-settings.php on line 3
Zakat Pertambangan | LAZIS AL HAROMAIN

Zakat Pertambangan

Oleh: Ust. Masyhuda al-Mawwaz

Alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang

Membicarakan zakat hasil pertambangan ini seolah sebagai sesuatu kewajiban yang hanya mungkin dijalankan oleh sebuah perusahaan. Akan tetapi sebenarnya syariat zakat hasil pertambangan juga sangat mungkin berlaku bagi pribadi-pribadi yang kebetulan bertempat tinggal di daerah-daerah yang kebetulan dibukakan oleh Allah subhanahu wata’ala kekayaan alam dari hasil tambangnya.

Di Jawa Timur misalnya, sejak tahun 2009 ditemukan tambang emas di daerah kecamatan Pesanggrahan Banyuwangi, tepatnya gunung Tumpang Pitu. Sayang, saat ini masyarakat sekitar (yang disebut penambang liar) tidak diperkenankan menambang dan hak penambangan kini dimiliki oleh sebuah perusahaan yang mendapatkan izin mengelola lahan 5000 hektar. Ternyata, tambang emas tidak hanya di Timika Irian Jaya yang dikelola oleh Freeport. Juga tidak hanya di Sumbawa Nusa Tenggara Barat yang dikelola oleh Newmont. Bahkan kini juga ditemukan tambang emas di gunung Semungklung desa Sumber Bening kecamatan Dongko kabupaten Trenggalek. Dan mungkin juga akan ditemukan tambang-tambang emas lain di bumi sekitar tempat tinggal kita. Jika terjadi penambangan, maka kewajiban bagi kita menyampaikan syariat Allah subhanahu wata’ala berupa zakat pertambangan.

Seluruh ulama sepakat (Ijma’) bahwa di antara harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah harta benda hasil tambang, karena termasuk dalam keumuman firman Allah subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

 

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu…”[1]

 

Juga sebagaimana hadits bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menarik zakat dari tambang emas milik Bilal bin Harits al Muzani radhiyallahu anhu yang bernama al-fara’ yang terdapat di daerah Qobaliyyah, sebuah daerah antara Makkah dan Madinah.

Pendapat mayoritas dalam madzhab asy-Syafii bahwa harta hasil tambang yang wajib dizakati hanyalah emas dan perak. Meski begitu, ada pula pendapat yang menyatakan kewajiban mengeluarkan zakat untuk seluruh hasil tambang baik berupa emas, perak, batu bara, pasir timah, pasir besi, besi, minyak tanah dan sebagainya

Dalam zakat pertambangan ini, syarat nishab maupun haul menjadi hal yang tidak disepakati oleh ulama. Ada yang mengatakan sama dengan nishab emas dan perak atau perdagangan, yang berarti harus dizakati dua setengah persen. Dan ada yang mengatakan sama dengan harta temuan atau harta karun (rikaz) yang harus dikeluarkan lima persen sebagaimana halnya dalam madzhab Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahaweh, dan Abu Ubed.

Begitu pula dalam masalah haul, ada yang mengatakan tidak harus menunggu haul (setahun). Artinya setiap mendapatkan hasil, maka segera dikeluarkan zakatnya. Hikmah dari pendapat ini dijelaskan oleh Imam Taqiyuddin al-Hishni dalam Kifayatul Akhyar bahwa syarat wajib mencapai setahun (haul) yang ada dalam harta selain pertambangan (peternakan dan perdagangan) adalah dalam rangka menunggu perkembangan harta secara maksimal (takaamul annama’). Sementara dalam pertambangan, hasil yang didapatkan secara langsung adalah perkembangan maksimal yang dimaksudkan. Ini berarti menyerupai buah-buahan dan tanaman pertanian.

Oleh sebab banyak pendapat inilah kemudian, Imam al-Ghazali dalam buku Ihya’ Ulumiddin, Kitab Asrar Zakat menulis:

وَالْإِحْتِيَاطُ أَنْ يُخْرِجَ الـْخُمُسَ مِنَ الْقَلِيْلِ وَالْكَثِيْرِ…

Demi kehati-hatian, maka hendaknya mengeluarkan zakat seperlima dari semua hasil tambang baik sedikit ataupun banyak…

Mengacu kepada pendapat bahwa seluruh hasil tambang wajib dizakati, berarti aktivitas penambangan pasir yang banyak sekali terdapat di berbagai titik daerah negeri ini juga wajib dizakati. Dan termasuk yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah pengeboran minyak bumi baik oleh perusahaan atau pribadi-pribadi seperti yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang juga disebut pelaku penambangan iliegal (ilegal mining) di kecamatan Malo dan Kedawen kabupaten Bojonegoro.

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]Q.S. al-Baqarah: 267