Zakat Peternakan

Oleh: Ust Masyhuda

Di antara harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah hasil peternakan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ صَاحِبِ إِبِلٍ وَلَا بَقَرٍ وَلَا غَنَمٍ لَا يُؤَدِّيْ حَقَّها إِلَّا أُقْعِدَ لَهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقَاعِ قَرْقَرٍ تَطَؤُهُ ذَاتُ الظِّلْفِ بِظِلْفِهَا وَتَنْطَحُهُ ذَاتُ الْقَرْنِ بِقَرْنِهَا لَيْسَ فِيْهَا يَوْمَئِذٍ جَمَّاءُ وَلَا مَكْسُوْرَةُ الْقَرْنِ…

Tiada pemilik unta, sapi, dan kambing yang tidak menunaikan haknya kecuali kelak pada hari Kiamat ia akan didudukkan di pelataran Qarqar. Selanjutnya ia akan diinjak oleh hewan yang berkaki dengan kakinya dan ditanduk oleh hewan yang bertanduk dengan tanduknya. Kala itu tak ada hewan yang berkaki pincang atau yang tak utuh tanduknya…”[1]

 

Selain memberikan ancaman jika tidak mengeluarkan zakat, dalam hadits ini juga terdapat dalil bahwa hewan ternak yang harus dikeluarkan zakatnya adalah unta, sapi, dan kambing. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

فِى الْإِبِلِ صَدَقَتُهَا وَفِى الْغَنَمِ صَدَقَتُهَا وَفِى الْبَقَرِ صَدَقَتُهَا…

“Dalam unta ada sedekahnya, dalam kambing ada sedekahnya, dan dalam sapi ada sedekahnya…”[2]

 

Zakat peternakan diwajibkan setelah terpenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Sudah setahun (haul)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا زَكَاةَ فِى مَالِ امْرِئٍ حَتّي يَحُوْلَ عَلَيْهِ الـْحَوْلُ

“Tidak ada zakat dalam harta seseorang sampai datang waktu setahun padanya.[3]

  1. Mencapai nishab

  1. Nishab unta dimulai dari 5 unta, maka wajib mengeluarkan zakat seekor kambing yang dalam madzhab Imam asy-Syafi’i kambing gibas yang telah berusia setahun atau kambing Jawa berusia 2 tahun. Jika 10 unta, maka 2 ekor kambing. Jika 15 unta, 3 ekor kambing. Jika 20 unta, 4 ekor kambing. Jika 25 unta, maka seekor unta betina yang genap berusia setahun dan memasuki tahun kedua (bintu makhadh). Jika 36 unta, maka seekor unta betina yang genap berusia dua tahun dan memasuki tahun ketiga (bintu labuun). Jika 46 unta, maka seekor unta betina yang genap berusia tiga tahun dan memasuki tahun keempat (hiqqah). Jika 61 unta, maka satu unta betina yang genap berusia 4 tahun dan memasuki tahun kelima. Jika 76 unta, maka dua binti labun. Jika 91 unta, maka dua Jika 121 unta, maka 3 binti labun. Kemudian dalam setiap kelipatan 40, maka satu binti labun. Dan dalam kelipatan 50, maka 1 hiqqah.[4]

 

Daftar nishab ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Abu Said al Khudri [5] . Sementara menurut Sayyidina Ali radhiyallahu anhu, zakat unta yang berjumlah 25 bukan seekor unta binti makhadh, tetapi 5 ekor kambing.  Setelah berjumlah 26 unta, barulah diwajibkan mengeluarkan seekor binti makhadh.[6]

  1. Nishab sapi dimulai dari 30 ekor sapi, maka wajib dikeluarkan seekor.

Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusku ke Yaman dan memerintahkan diriku agar mengambil seekor sapi musinnah (yang berusia genap dua tahun) sebagai zakat dari sapi yang berjumlah 40 ekor. Dan mengambil seekor sapi tabi’ (yaitu  yang sudah mengikuti induknya atau tanduknya sudah keluar dan hampir rata dengan telinganya ) sebagai zakat dari sapi yang berjumlah 30 ekor.”[7]

Berdasarkan ini, maka tidak wajib zakat jika sapi kurang dari 30 ekor. Akan tetapi oleh karena sapi memiliki kesamaan dengan unta dalam sama-sama cukup dijadikan kurban 7 orang, maka terdapat riwayat dari Imam Said bin Musayyib dan Imam Az-Zuhri bahwa ketika sapi sudah berjumlah 5 ekor, maka wajib dizakati dengan seekor kambing.[8]

  1. Nishab kambing dimulai dari 40 ekor kambing, maka wajib seekor kambing. Sampai berjumlah 121 ekor, maka wajib dua ekor kambing. Sampai berjumlah 201 ekor, maka wajib 3 kambing. Kemudian setiap kelipatan 100 ekor, maka wajib dizakati seekor kambing.

  1. Digembalakan di padang rumput umum atau bebas biaya (saum)

Dari Bahz bin Hakim radhiyallahu anhu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

فِى كُلِّ إِبِلٍ سَائِمَةٍ أَرْبَعِيْنَ بِنْتُ لَبُوْنٍ…

“Dalam setiap unta yang menggembala secara bebas dan berjumlah 40 ekor  (maka wajib membayar zakat) seekor unta binti labun…”[9]

 

Dari Umar  Rasulullah  bersabda:

فِى خَمْسٍ مِنَ الْإِبِلِ سَائِمَةٍ شَاةٌ…

“Dalam lima unta yang menggembala secara bebas ada (kewajiban zakat) seekor kambing…”[10]

 

Menggembala dengan bebas tanpa disiapkan dan disajikan makanannya sebagai syarat kewajiban zakat peternakan ini adalah madzhab Imam asy-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam al-Laits, dan Imam Sufyan Ats-Tsauri. Sedang menurut Imam Malik, maka tetap diwajibkan zakat dalam hewan ternak meski makanannya disiapkan dan disajikan.

Sementara Imam Dawud Az-Zhahiri memilah. Untuk kambing, maka tidak wajib dizakati jika makanannya disiapkan dan disajikan (alMa’luufah). Adapun sapi dan unta, maka tetap wajib dizakati meski berstatus sebagai alMa’luufah.[11]

  1. Kepemilikan yang sempurna

Artinya harta benda yang wajib dizakati yang dalam hal ini adalah hewan ternak berada dalam kepemilikan seseorang dan kapan saja ia bisa mengatur kepemilikan tersebut. Syarat ini mengecualikan kondisi di mana seseorang tidak memiliki secara penuh hewan ternak miliknya. Semisal hewan itu dititipkan kepada orang lain, dan ternyata setelah satu tahun berjalan orang lain tersebut tidak mengakui. Dalam kondisi seperti ini tidak diwajibkan zakat.

= والله يتولي الجميع برعايته =

[1]H.R. Muslim no: 988 dari Jabir bin Abdillah t

[2]H.R. ad-Daruquthni no: 1915 dari Abu Dzarr t

[3]H.R. ad-Daruquthni no:1970 dari Abdullah bin Umar t

[4]Lihat Matan al-Ghaayah wat Taqriib, Kitab Zakat

[5]Dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari no:1447, Imam Muslim no:979 dan Imam Abu Dawud no:1558

[6]H.R. Abu Dawud dalam Kitab Zakat no: 1572 (Lihat al-Bayan Imam al-Imrani, jilid 03, hal 166)

[7]H.R. Ibnu Majah no:1803

[8]Lihat al-Bayan Imam al-Imrani, jilid 03, hal 188

[9]H.R. Ibnu Abi Syaibah no: 9986

[10]H.R. ad-Daruquthni: no: 1964

[11]Lihat al-Bayan Imam al-Imrani, jilid 03, hal 150